Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

Antara Dua Pilihan (Momen Tahun Baru)/Prof. Dr. H. Abd. Rahman Getteng, MA/Al Markaz

Terbit 13 September 2019 | Oleh : admin | Kategori : Makalah/Ceramah/Pengajian
Antara Dua Pilihan (Momen Tahun Baru)/Prof. Dr. H. Abd. Rahman Getteng, MA/Al Markaz

Kita baru saja memasuki tahun baru hijriah, sebagai salah satu tonggak yang diletakkan untuk kita jadikan sebagai momentum di dalam menata kehidupan kita dengan dinul Islam.

Hari ini kita masuk lagi pada saat tahun baru Miladiyah. Keduanya, bisa dijadikan sebagai tonggak untuk mengevaluasi perjalanan hidup kita selama satu tahun yang lalu.

Dari evaluasi yang kita laksanakan tentu saja ada dua kemungkinan yang akan lahir dari hasil evaluasi itu. Yang pertama mungkin kita akan bergembira karena kita sudah memanfaatkan hidup, umur yang diberikan kepada kita sebagai dengan tuntunan Allah swt dalam al-Qur’an dan sunnah Rasulullah sehingga dari hasil evaluasi itu kita merasa gembira, kita merasa optimis. Kemungkinan yang kedua dari hasil evaluasi kita, mungkin kita prihatin, karena boleh jadi perjalanan hidup kita selama satu tahun itu banyak menyimpang dari tuntunan Allah swt atau dalam istilah yang ekstrim kita menempuh jalan setan sehingga kita harus prihatin dan berusaha untuk melakukan yang terbaik di dalam menyongsong perjalanan hidup dalam tahun baru ini.

 Harapan kita adalah Allah swt masih senantiasa memberi nikmat umur sehingga kita dapat mengisinya dengan kebaikan, hal-hal yang sifatnya ma’ruf dan menghindari dari hal-hal yang dilarang Allah swt.

Muhasabah atau evaluasi yang dilaksanakan itu didasar­kan kepada kenyataan yang terjadi dalam kehidupan kita. Hati akan menilai dan tidak akan melakukan suatu kebohongan, tetapi kita akan mendapatkan jawaban yang obyektif dari hasil yang diperoleh dalam perjalanan hidup kita.

Kenyataan yang kita lihat terutama di dalam merayakan tahun baru masehi bisa dinilai, apakah serangkaian dengan penyambutan tahun baru masehi itu posisi kita berada di jalan Allah swt? atau posisi kita, berada pada jalan setan?

Kalau kita berada di jalan Allah swt pasti akan mendapat­kan pahala karena yang dilaksanakan adalah amal shaleh. Jika kita berada pada jalan setan maka resikonya juga ada, yaitu sanksi berupa siksaan karena kita melanggar aturan Allah swt

Oleh karena itu berkenaan dengan tahun Miladiyah, termasuk juga tahun baru Hijriah mari kita menyimak firman Allah swt di dalam al-Quran surat Yasin ayat 60-61;

الَمْ أَعْهَدْإِلَيْكُمْيَابَنِيآَدَمَأَنْلَاتَعْبُدُواالشَّيْطَانَإِنَّهُلَكُمْعَدُوٌّمُبِينٌ # وَأَنِاعْبُدُونِيهَذَاصِرَاطٌمُسْتَقِيمٌ

“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu.”

Allah swt memperingatkan kita apakah tidak pernah Aku berjanji atau Aku perintahkan kepada kamu sekalian hai anak cucu Adam, untuk menyembah Allah swt atau dengan kata lain untuk tidak menyembah setan, kenapa? Karena innahuu lakum ’aduwwun mubiin, karena setanitu adalah musuh buyutan kamu. Apakah kamu masih ingat janji peringatan perintahku hai anak cucu Adam agar kamu jangan menyembah setan karena setan itu adalah musuh bebuyutan kamu, dan hendaklah kamu menyembahku karena itulah jalan yang lurus.

Ayat tersebut memperingatkan kita bahwa dalam perja­lanan kita ada dua jalan yang mutlak ditempuh manusia, karena tidak ada manusia yang luput dari godaan setan. Nabi Adam sendiri terkena godaan setan. Oleh karena itu dua jalan ini dilalui oleh manusia, jalan Allah swt dengan menyembah Allah swt dan inilah hakikat kita diciptakan oleh Allah swt, wa maa khalaktul jinna wal insa illaa liya’buduun, tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku. Bukan mengabdi kepada setan, wa ’ani’buduunii hadzaa shiraatal mustaqim, sembahlah Aku dan itulah jalan yang lurus.

Rasulullah saw suatu ketika beliau bergurau tapi gurau dakwah dengan para sahabat. Nabi saw membuat garis di atas permukaan tanah di luar, dia pertama membuat garis lurus kemudian membuat garis melintang di atas garis lurus ini, yang jumlahnya lebih dari satu, kemudian Nabi mengatakan, memberikan ilustrasi kepada sahabat, garis pertama yang saya buat ini adalah shirathal mustaqim, jalan lurus menuju Allah swt, sedangkan jalan yang banyak ini yang melintang di atas garis lurus ini adalah semuanya garis setan.

Apa artinya ini bahwa pengaruh untuk mengikuti jalan setan ini jauh lebih besar dibandingkan jalan menuju Allah swt, godaannya luar biasa.

Oleh karena itu, untuk memperteguh jalan yang kita tempuh itu supaya berada di jalan Allah swt, maka yang pertama adalah memperbaiki akidah, memperbaiki kei­manan. Saatnyalah sekarang ini dalam dua tonggak kita memperbaharui kembali komitmen kita terhadap akidah, kita memperbaharui kembali, Rasulullah mengatakan, jaddiduu iimaanakum bi kalimati laa ilaaha illallah, perbaharuilah keimanan kamu dengan kalimat laa ilaaha illallah. Artinya tingkatkanlah komitmen keislaman kamu dengan memperteguh akidah, karena akidah itulah yang akan menentukan keberhasilan kita menuju kepada jalan Allah swt. Kalau ini tidak kuat maka kita akan menuju jalan setan yang strateginya sudah dipasang pada semua lini yang harus kita lalui.

Dalam memasuki tahun baru, kita lihat strategi setan luar biasa. Setan berhasil memanggil kita untuk menjadi sahabatnya. Kenapa? Karena hakikat setan itu antara lain harus kita ketahui, bahwa setan itu diciptakan untuk menipu agar bani Adam keluar dari shirath al-mustaqiim dan mengikuti jalannya sehingga bisa bersama dengan dia untuk menerima laknat dari Allah swt di dalam neraka. Ciri-ciri yang menjadi sahabat setan antara lain adalah orang mubazzir, innal mubadzdziriinaa kaanuu ikhwaanusysyayaathiin, sesungguhnya orang yang mubazzir itu adalah teman setan.

Coba kita sejenak merenung, memasang kuping kita, pendengaran kita, apa yang didengar di malam tahun baru, yang keluar di sana di tempat-tempat tertentu apa yang dilihat, yang didengar adalah dentuman suara-suara mercon, kemudian kembang api yang menghiasi angkasa luar, itu adalah perbuatan mubazzir.

Bukankah kita menghadapi kemiskinan di negara kita ini, kalau misalnya ada pemerintah daerah yang menganggarkan tahun baru Hijiriah dengan petasan dan kembang api bukankah itu pemborosan? Kalau itu pemborosan maka kita adalah ikhwaanusysyayaatiin, temannya setan.

Mari kita kembali mengevaluasi diri, apakah kita berun­tung pada tahun yang lalu ataukah kita prihatin, kalau kita beruntung mari kita teruskan sehingga kita memperoleh keberuntungan sehingga hidup kita hari ini lebih baik hari esok.

Yang kedua kalau di dalam perjalanan hidup kita prihatin ada jalannya segeralah kita bertaubat, QS. Ali Imran: 133:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Bercepatlah kembali kepada jalan Allah swt untuk menuntut maghfirah-Nya suapaya kamu mendapatkan nikmat berupa syurga jannatun na’im yang ditujukan kepada orang-orang yang muttaqin.

Oleh karena itu apapun jalan yang kita mau lalui tergan­tung pilihan mana yang mau kita tempuh, apakah kita mau memilih jalan Allah swt ataukah kita mau memilih jalan setan, terserah, Tuhan mengatakan kerjakan apa yang kamu sukai, fa man syaa-a fal yu’min, barangsiapa yang mau beriman maka silakan, wa man syaa-a an yakfur fal yakfur, dan barangsiapa yang mau ingkar silahkan dia ingkar inaa ’adzaabi lasyadiid.

SebelumnyaMasjid Sumber Kekuatan Islam/H. Arifin Ilham/Al Markaz SesudahnyaBahagia Dengan Perintah Rasulullah/Prof. Dr. Ahmad Abu Bakar, MA./Al Markaz

Tausiyah Lainnya