Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

Bahaya Gibah dan Fitnah/Muhammad Agus, M.Th.I./Al Markaz

Terbit 6 Desember 2019 | Oleh : admin | Kategori : CERAMAHceramah jum'atIbadahMakalah CeramahMakalah/Ceramah/Khutbah Jum'at
Bahaya Gibah dan Fitnah/Muhammad Agus, M.Th.I./Al Markaz

Mengawali khutbah Jum’at hari ini , mari kita merenungi salah satu firman Allah

SWT, tepatnya dalam QS. Al-Hujurat ayat 12.

Terjemahnya :

“Wahai  orang-orang  beriman,  jauhilah  banyak  berprasangka.  Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan jangan pula sebagian dari kalian menggunjing/menggibah sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya sendiri? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang”

Ayat di atas diawali dengan panggilan Allah kepada orang-orang beriman. Sementara salah seorang sahabat nabi yang bernama Abdullah bin Mas’ud ra. berkata :

Artinya :

“Apabila kalian mendengarkan Allah berfirman, “wahai orang-orang beriman”, maka pasanglah pendengaranmu baik-baik. Karena yang akan disampaikan, salah satu dari 2 hal, yaitu; kebaikan yang akan diperintahkan, atau keburukan yang akan dilarang”.

Dan ternyata, di dalam QS. Al-Hujurat di atas setelah Allah menyebut kalimat Ya ayyuhalladzina amanu, yang disampaikan oleh Allah, ada perintah dan ada larangan. Sehingga ini memberi makna bahwa apa yang diperintahkan itu adalah kebaikan dan apa dilarang tersebut adalah sesuatu yang sangat buruk dan berbahaya. Bukan hanya buruk bagi diri sendiri namun juga berdampak buruk bagi orang lain, bahkan bisa merusak tatanan keharmonisan masyarakat.

Pertanyaan pertama, apa yang diperintahkan oleh Allah?

“Wahai orang-orang beriman, jauhilah banyak berprasangka”

Hal ini memberi kesan, bahwa salah satu sikap dan ciri-ciri keberimanan seseorang adalah selalu berusaha menghindari prasangka. Dan itulah makna “Wahai orang-orang beriman”. Sehingga dengan demikian, sebagai orang beriman, yang perlu menjadi pegangan kita bukanlah pada benar dan salahnya tetapi pada manfaat dan keburukannya. apabila ada sesuatu yang membawa keburukan atau bahkan mengantarkan pada keburukan, maka sekalipun itu, pastinya hal itu harus dihindari. Mengapa demikian karena sikap yang melahirkan keburukan tentu menciptakan kerusakan di tengah masyarakat.

Itu jugalah sebabnya, Rasulullah SAW memerintahkan kepada kita untuk menjaga persaudaraan dan kebersamaan, sebagaimana sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah ra.

“Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara”

Namun ternyata, sebelum nabi menyampaikan perintah tersebut agar kita semua menjaga persaudaraan, beliau mengingatkan beberapa hal, yaitu :

Artinya:

“Berhati-hatilah dari prasangka. Karena sesungguhnya prasangka buruk itu adalah ucapan  yang  paling  dusta.  Janganlah  kalian  saling  mencari  kesalahan,  dan janganlah  kalian  saling  memutuskan  hubungan,  dan  janganlah  kalian  saling mendengki, dan janganlah kalian saling membelakangi”

Mengapa  hal  tersebut  disampaikan  oleh  Nabi ?  Karena  tentunya,  sulit  mencapai persaudaraan dan menciptakan keharmonisan apabila di tengah masyarakat selalu ada prasangka-prasangka buruk, sulit menciptakan kebersamaan bila selalu ada sikap yang saling membelakangi dan saling mencurigai.

Hadirin yang dimuliakan Allah.

Dalam QS. Al-Hujurat ayat 12 di atas, juga terdapat 2 larangan , yaitu;

“Jangan suka mencari-cari kesalahan orang lain dan jangan saling menggibah”.

Pertama, jangan suka mencari-cari kesalahan orang lain.

Setiap       orang   pasti   ada  keistimewaannya   namun   juga   ada   kekurangannya.

Olehnya itu, sibukkanlah diri untuk melihat keistimewaan dan kebaikan orang lain.

Bukan malah menyibukkan diri dengan mencari kekurangan dan keburukan orang lain. Yakinilah, setiap kali kita mencari-cari keburukan orang lain, atau dengan mudah membuka aib orang lain, pastikan bahwa akan ada orang yang juga akan mencari-cari

keburukan serta membuka aib kita.

Renungkanlah  sabda Rasulullah SAW , sebagaimana riwayat Abu  Daud dari

sahabat nabi

yang  bernama  Abu Barzah al-Aslamiy ra bahwa  suatu  saat nabi menyampaikan :

“Wahai orang-orang yang lisannya telah beriman, namun dalam hatinya belum ada iman. Janganlah kalian suka mengumpat, menggunjing atau menggibah

sesama muslim. Dan jangan pula suka mencari-cari kesalahan orang lain. Sebab siapa yang suka mencari kesalahan orang lain maka Allah akan mencari-cari kesalahannya. Dan siapa saja yang telah dicari-cari kesalahannya oleh Allah, maka pasti Allah akan menampakkan kesalahannya itu sekalipun ia telah berada di dalam rumahnya”

Teruslah berpikir positif dan tidak usah berpikir negatif. Karena tentunya pikiran positif akan mudah mengapresiasi, sedangkan pikiran negatif hanya akan selalu mengkritisi. Sucikan hati, murnikan jiwa dengan upaya selalu introspeksi diri. Sibukkanlah diri dengan mencari kesalahan pribadi, bukan malah sibuk mencari kesalahan orang lain. Nakenna ammaki werekkada ogi rimakkedanna, “Balao mate riyawa bolana tauwe naita, sementara tedong mate riyawa bolana najja temmitai” Tikus yang mati di kolong rumahnya orang lain dia lihat, sedangkan kerbau yang mati di bawah kolong rumahnya pura-pura dia tidak melihatnya.

Kedua, jangan suka menggibah atau menggunjing orang lain.

Disebutkan dalam salah satu riwayat oleh Ibnu Munzir dan Ibnu Juraij ra. bahwa wa laa yagtab ba’dukum ba’dan janganlah kalian menggunjing atau menggibah sebagian lain, itu diturunkan oleh Allah terkait dengan sahabat nabi yang bernama Salman al-Farisi. Konon, beliau setiap kali selesai makan, maka beliau pun langsung tidur. Dan setiap kali tidur maka ia selalu mendengkur. Orang-orang pun menggunjingnya dengan menceritakan ke halayak ramai bahwa Salman begini dan begitu. Maka turunlah QS. Al-Hujurat ayat 12 ini, khusus kalimat “janganlah kalian suka menggunjing orang lain”. Hal ini memberi penegasan bahwa betapa tidak bolehnya kita membuka aib dan kekurangan orang lain.

Rasulullah SAW, ketika menjelaskan ayat tersebut, ada sahabat yang bertanya:

“Wahai Rasulullah, apa yang disebut dengan gibah?” Beliau pun menjawab;

“Engkau menceritakan sesuatu yang tidak senangi oleh saudaramu”.

Lalu sahabat pun kembali bertanya:

“Bagaimana menurutmu wahai Rasulullah, sekiranya hal itu benar?”

Lalu nabi menjelaskan :

“Bila yang engkau katakana itu benar maka itulah gibah, namun bila yang akan itu tidak benar maka itulah fitnah”.

Pelajaran yang bisa diambil dari penjelasan nabi tersebut adalah dalam hidup bermasyarakat, kita jangan hanya melihat sebatas benar dan salahnya tapi yang perlu diperhatikan adalah manfaat dan mudaratnya. Tebarlah kedamaian di tengah masyarakat. Teruslah melakukan kebaikan dan member manfaat sebab semakin banyak kebaikan dan manfaat maka kita akan semakin mulia di hadapan Allah. Penuhilah hatimu dengan kebaikan, sebab hanya orang yang hatinya ada kebaikan di dalamnya mampu melakukan kebaikan.

Semoga kita selalu dituntun oleh Allah sehingga mampu menghindari gibah dan fitnah. Namun sekiranya kita pernah melakukan hal tersebut, maka bersegeralah untuk kembali kepada Allah dengan menyesali perbuatan itu. Karena pastinya Allah selalu membuka pintu ampunan-Nya kepada setiap hamba yang bertaubat kepada-Nya. Dan itulah sebabnya, ayat 12 dari QS. Al-Hujurat tersebut ditutup dengan kalimat :

“sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.

Semoga kita menjadi hamba yang pandai menyesali segala keburukan yang pernah dilakukan sekaligus menjadi hamba yang selalu berusaha menciptakan kedamaian di tengah masyarakat.

Amin ya Rabbal ‘alamin.

SebelumnyaTA’AWUN DAN CINTA BERBAGI/Zulfahmi Alwi, Ph.D./Al Markaz SesudahnyaMASJID AL-MARKAZ MAKASSAR Khutbah Jumat 13 Desember 2019

Tausiyah Lainnya