Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

Dr.H.A.Darussalam Tadjang, MA/Lembut bertutur kata dalam berkomunikasi/Al Markaz

Terbit 11 Oktober 2019 | Oleh : admin | Kategori : Makalah/Ceramah/Khutbah Jum'at
Dr.H.A.Darussalam Tadjang, MA/Lembut bertutur kata dalam berkomunikasi/Al Markaz

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
وَقَالَ:
﴿اذْهَبْ أَنْتَ وَأَخُوكَ بِآيَاتِي وَلَا تَنِيَا فِي ذِكْرِي (42) اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى﴾

Hadirin jama’ah khutbah jumat rahimakumulloh…

Salah satu akhlak Raulullah SAW yaitu murah senyum dan bertutur kata yang santun. Ini merupakan salah satu akhlak yang dikenal oleh semua manusia. Bukan hanya oleh kaum muslimin, tapi juga orang-orang diluar Islam. Bahwa ini adalah salah satu sifat yang terpuji, sifat yang mulia.

Tentunya murah senyum dan kata-kata yang santun ini merupakan modal yang sangat besar di dalam mendakwahkan Islam kepada manusia. Karena dakwah itu pada dasarnya adalah amalan lisan. Kita menyampaikan dakwah kepada manusia dengan lisan kita. Allah mengatakan dalam Al-Quran:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ …
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…”

Kata-kata yang santun, ini merupakan salah satu hikmah dan pengajaran teladan yang baik. Yaitu dengan retorika yang bersahabat dan merangkul manusia. Karena mereka kita ajak kepada sesuatu yang asing, sesuatu yang tidak mereka kenal. Maka kita perlu menampilkannya dengan cara yang terbaik, penuh kesantunan dan menunjukkan keakraban. Oleh karena itu para ulama menegaskan bahwa:
الأصل في الدعوة الرفق واللين.
“Asal (hukum) berdakwah adalah dengan lemah lembut dan keluwesan.”

Seperti pesan Allah kepada dua NabiNya, yaitu Musa dan Harun. Supaya berkata-kata yang baik kepada Firaun.
فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ ﴿٤٤﴾
“maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”.” (QS. Tha-ha [20]: 44)

Itulah asal di dalam dakwah dan itu juga yang dipraktikkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengajak orang-orang musyrik kafir Quraisy dengan ajakan yang penuh dengan hikmah, kasih sayang, kelembutan, walaupun mereka memperlakukan beliau dengan perlakuan yang keji. Ada seorang tokoh Quraisy meletakkan kotoran unta pada punggung beliau ketika beliau sedang sujud. Tapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menjaga akhlak dan kata-kata beliau kepada mereka. Beliau bukanlah orang yang suka berkata keji dan suka mengumbar kata-kata yang keji.

Inilah modal yang sangat besar di dalam berdakwah kepada manusia. Pada siapa pun kita berdakwah, kepada keluarga, kepada istri kita, kepada suami kita, kepada anak-anak kita, dan juga kepada orang-orang yang ada di sekitar kita, pada orang tua kita mungkin, saudara-saudara kita, kata-kata yang santun dan tampilan yang murah senyum ini merupakan modal yang sangat besar untuk dapat kita meraih kesuksesan di dalam berdakwah.

Manusia memiliki hati dan hati mereka tersentuh dengan sesuatu yang lembut. Itu hati manusia. Maka Allah perintahkan NabiNya untuk berlaku lemah-lembut kepada orang-orang yang beliau dakwahi. Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّـهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ…

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. ..” (QS. Ali-Imran[3]: 159)

Ini adalah ultimatum yang disampaikan Allah kepada NabiNya. Ultimatum ini disampaikan Allah kepada NabiNya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana pula dengan kita? Kita bukan Nabi, akhlak kita tidak ada yang puji mungkin, Allah memuji akhlak NabiNya:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ ﴿٤﴾
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam [68]: 4)

Yang memuji akhlak Nabi adalah Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun akhlak kita, tidak ada pujian dari langit. Mungkin istri kita saja tidak memuji akhlak kita, kalau dia mau berkata jujur. Maka tampilan yang baik, tampilan yang bersahabat, yaitu dengan menampilkan senyuman, demikian pula tutur kata yang santun di dalam berdakwah, ini adalah modal yang sangat besar di dalam berdakwah. Dan itulah kunci kunci sukses dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu akhlak beliau. Dengan rahmat Allah beliau bersikap santun, bersikap lemah-lembut kepada orang-orang yang memusuhi beliau, orang-orang Yahudi sering memancing kemarahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi Nabi tidak pernah terprovokasi.

Salah seorang dari mereka mengatakan:
السَّامُ عَلَيْكَ
“Kematian atasmu wahai Muhammad” (HR. Bukhari no. 6926)

Tapi Nabi tidak membalasnya. Nabi tetap menjaga akhlak beliau. Karena manusia akan dapat diambil hatinya dengan kelemahlembutan. Begitulah Allah subhanahu wa ta’ala menerangkannya kepada kita karena Allah subhanahu wa ta’ala yang menciptakan manusia dan mengetahui apa saja yang dapat melunakkan hati manusia.

Oleh karena itu ucapan yang baik, yang indah, wajah yang berseri-seri, senyum yang menghiasi bibir, ini adalah akhlak mulia. Ketiga hal ini memiliki daya tarik yang mampu memikat hati manusia. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengibaratkannya laksana sihir yang mampu mempengaruhi pendengarnya. Nabi mengatakan:
إِنَّ مِنْ الْبَيَانِ لَسِحْرًا
“Sungguh ada ucapan-ucapan yang yang dapat menyihir manusia” (HR. Bukhari No. 5325)

Tentunya kata-kata yang dapat merampas dan merebut hati manusia itulah kata-kata yang santun. Bukan kata-kata yang provokatif, kasar, keji. Kita lihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana beliau menawarkan Islam ini kepada manusia, penuh dengan kesantunan, kebijaksanaan yang menarik hati orang orang yang mendengarnya. Walaupun mereka tidak sepakat, mereka tidak menerima, mereka mengatakan:
أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَـٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَـٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ ﴿٥﴾
“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS. Shad[38]: 5)

Mereka menolak tapi mereka tidak dapat mengingkari akhlak beliau. Ini yang merupakan kunci kemenangan dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga kata-kata yang baik ini berpengaruh seperti halnya sihir.

Kata-kata yang kasar justru membuat orang lari. Kata-kata yang kasar justru akan menimbulkan kebencian, permusuhan dan mungkin akan muncul kesalahan persepsi. Karena kata-kata yang kasar ini walaupun isinya benar misalnya, tapi akan menimbulkan kesalahpahaman. Kebenaran tidak dapat tersampaikan dengan cara seperti itu. Bahkan tertutupi dengan kekasaran tadi.

Oleh karena itu Al-Albani rahimahullah pernah berkata:
“Sesungguhnya kebenaran itu berat diterima oleh hati, berat diterima oleh akal manusia, mereka menolaknya. Dan jangan diperberat kebenaran yang sudah berarti terima itu dengan akhlak yang buruk.”

Dengan akhlak yang lemah-lembut, dengan kata-kata yang santun saja belum tentu mereka menerima. Apalagi dengan kata-kata yang kasar, kata-kata yang mengundang kebencian mereka, sumpah serapah, kata-kata yang keji, caci maki. Ini akan memperberat kebenaran yang sudah berat itu untuk diterima oleh manusia.

Khutbah Kedua:
اَللَّهُمَّ بِاسْمِكَ نَبْتَدِيْ وَبِهَدْيِكَ نَهْتَدِيْ، وَبِكَ يَا مُعِيْنُ نَسْتَرْشِدُ وَنَسْتَعِيْنُ، نَسْأَلُكَ أَنْ تُكْحَلَ بِنُوْرِ الحَقِّ بَصَائِرَنَا، وَأَنْ تَجْعَلَ إِلَى رِضَاكَ مَصَائِرَنَا، نَحْمَدُكَ عَلَى أَنْ سَدَّدْتَ فِي خِدْمَةِ دِيْنِكَ خُطْوَاتِنَا، وَثَبَّتَّ عَلَى صِرَاطِ الحَقِّ أَقْدَامَنَا، وَنُصَلِّي وَنُسَلِّمُ عَلَى نَبِيِّكَ الَّذِيْ دَعَا إِلَيْكَ عَلَى بَصِيْرَةٍ، وَتَوَلاَّكَ فَكُنْتَ وَلِيَّهُ وَنَصِيْرَهُ، وَعَلَى آلِهِ المُتَّبِعِيْنَ لِسُنَّتِهِ، وَأَصْحَابِهِ المُبَيِّنِينَ لِشِرْعَتِهِ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ.
أَمَّا بَعْدُ:

اَللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ العَظِيْمَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا، وَنُوْرَ صُدُوْرِنَا، وَجَلَاءَ أَحْزَانِنَا، وَذَهَابَ هُمُوْمِنَا وَغُمُوْمِنَا.
هَذَا وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلَى نَبِيِّ الرَحْمَةِ وَالهُدَى: مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَسُوْلِ اللهِ إِلَى العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ الطَيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ، وَصَحَابَتِهِ الغُرِّ المَيَامِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَاخْذُلْ الطُّغَاةَ وَالمُلَاحِدَةِ وَالمُفْسِدِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ، وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ، وَعِبَادَكَ المُؤْمِنِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أَبْرِمْ لِهَذِهِ الأُمَّةَ أَمْرَ رُشْدٍ يُعِزُّ فِيْهِ أَهْلُ طَاعَتِكَ، وَيُهْدَى فِيْهِ أَهْلُ مَعْصِيَتِكَ، وَيُؤْمَرُ فِيْهِ بِالمَعْرُوْفِ، وَيُنْهَى عَنِ المُنْكَرِ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ مَنْ أَرَادَ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَدِيْنَهُمْ وَدِيَارَهُمْ بِسُوْءٍ فَأَشْغِلْهُ بِنَفْسِهِ، وَرُدَّ كَيْدَهُ فِي نَحْرِهِ، وَاجْعَلْ دَائِرَةَ السَّوْءِ عَلَيْهِ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ..
اَللَّهُمَّ أَنْتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَنْتَ الغَنِيُّ وَنَحْنُ الفُقَرَاءُ، أَنْزِلْ عَلَيْنَا الغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ القَانِطِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا غَيْثًا هِنِيْئًا مَرِيْئًا، سَحًّا طَبَقًا مُجَلِّلاً، عَامًّا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، تُحْيِي بِهِ البِلَادِ، وَتُسْقِي بِهِ العِبَادِ، وَتَجْعَلُهُ بَلَاغًا لِلْحَاضِرِ وَالبَادِ.
اَللَّهُمَّ سُقْيَا رَحْمَةٍ، اَللَّهُمَّ سُقْيَا رَحْمَةٍ، اَللَّهُمَّ سُقْيَا رَحْمَةٍ، لَا سُقْيَا عَذَابٍ وَلَا بَلَاءٍ وَلَا هَدَمٍ وَلَا غَرَقٍ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا، فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا.
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا أَعْطَيْتَنَا، وَزِدْنَا مِنْ فَضْلِكَ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَوَّابُ الرَحِيْمُ.
سُبْحَانَ رَبِّنَا رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلَامٌ عَلَى المُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.

SebelumnyaKH.M Zain Irwanto/Menghindari Pikun/Al Markaz SesudahnyaProf. Dr. H. Syarifuddin Ondeng, M.A./Menghormati yang tua menyayangi yang muda/AlMarkaz

Tausiyah Lainnya