Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

Etos Kerja Dalam Perspektif Islam/Prof. Dr. Basyir Syam, MA./Al Markaz

Terbit 13 September 2019 | Oleh : admin | Kategori : Makalah/Ceramah/Pengajian
Etos Kerja Dalam Perspektif Islam/Prof. Dr. Basyir Syam, MA./Al Markaz

Etos kerja adalah nilai-nilai, adat istiadat, aturan perilaku yang mendorong seseorang untuk bekerja keras. Dalam Islam adalah seperangkat ajaran untuk memberikan dorongan kepada setiap muslim untuk bekerja dengan baik dalam rangka meningkatkan kualitas hidup ini. Berbeda dengan pandangan hidup sekuler, semata-mata bertujuan untuk kehidupan duniawi, kualitas hidup yang ingin dicapai dalam Islam adalah kualitas hidup yang seimbang antara dunia dan akhirat, antara kepentingan pribadi dan sosial, antara kepentingan mental, spiritual dan kepentingan raga. Ini tergambar dalam firman Allah swt rabbanaa aatinaa fiddun-yaa hasanah wa fil akhirati hasanah wa qinaa ‘adzaabannar.

Selain itu dalam berbagai ayat antara lain Allah menga­takan wabtaghii fii maa atakallahuddaaral akhirah, carilah kebahagian kampung akhirat dengan apa yang telah diberi­kannya kepada kamu di dunia ini, jadi memanfaatkan fasilitas dunia ini untuk keakhiratan, wa laa tansaa nasiibaka minaddun-yaa dan jangan lupakan bagianmu, nasibmu di dunia ini, wahsin kamaa ahsanallaahu ilaik, berbuat baiklah kamu kepada sesama sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, wa taf’il fasaada fil ardh, dan jangan melakukan kerusakan di muka bumi, innalaaha laa yuhibbul mufsidiin, karena sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang melakukan kerusakan.

Prinsip-prinsip Islam tentang etos kerja: Yang pertama bahwa Islam memposisikan kita sebagai abid dan khalifah Allah swt. Sebagai hamba, kita menyadari bahwa seluruh aktivitas, semua yang dilakukan dalam hidup ini adalah bertujuan untuk beribadah kepada Allah swt Inilah yang kita nyatakan ketika kita membaca doa iftitah dalam shalat, inna shalaati wa nususki, sesungguhnya shalatku dan ibadahku yang lain termasuk hajiku, wa mahyaaya dan seluruh aspek kehidupanku, wa mamaati bahkan kematianku, lillahi rabbil ‘aalamiin, semata-mata bertujuan untuk Allah swt

Sebagai khalifah, harus mewakili Allah dalam memakmurkan bumi yang ditempati. Allah menyatakan wa ansya’akum fil ardhi wasta’marakum fiihaa, Dialah Allah yang membangkitkan kamu dari bumi, dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya. Oleh karena itu kita sebagai khalifah harus kreatif karena Allah-lah Maha Khalik, yang Maha Pengasih maka manusia juga harus melakukan suatu perubahan, merubah netral menjadi kultural, membudayakan agama yang diturunkan Allah swt kepada kita.

Kalau jadi pemimpin maka jadilah pemimpin yang baik, jangan menyalahgunakan wewenang, memaksakan kehendak, Mengapa? Sebab kita menyadari bahwa sebagai pemimpin yang lahir dalam kancah demokrasi, kita bukan siapa-siapa, kita dipilih orang bahkan kita mengharap supaya dipilih orang, jangan menjadi pemimpin justru menyalahgunakan wewenang. Kemudian yang kedua bahwa amal shaleh dalam Islam mencakup ibadah dan muamalah, di mana istilah lain kita mengenal istilah ibadah khassah dan ibadah ‘ammah. Ibadah khassa itu seperti shalat sedangkan ibadah ammah itu adalah seluruh yang kita lakukan dalam rangka kebaikan kita dan kebaikan orang lain, baik yang menyangkut kepentingan pribadi kita maupun yang menyangkut kepentingan sosial, itu semua itu adalah ibadah kepada Allah yang meliputi seluruh bidang aktivitas yang meliputi bidang ekonomi, politik, budaya, pendidikan sampai kepada sektor informal, mulai dari tukang becak sampai pembantu rumah tangga itu adalah pekerjaan yng menjadi ibadah kepada Allah manakala itu kita lakukan dengan baik.

Yang ketiga adalah kriteria pekerjaan yang Islami. Yang pertama adalah harus dilandasi dengan iman, artinya bahwa seluruh yang kita lakukan, itu berdasarkan apa yang kita yakini dalam Islam, tentang rambu-rambu Islam. Allah berfirman, man ‘amila shaalihan min dzakarin awu untsaa, barangsiapa yang bekerja dengan baik, laki-laki atau perempuan, wa huwa mu’minuun dan dia beriman kepada Allah swt, yang dilandasi pekerjaannya dengan iman, falanuhyiyannahum hayaatan tayyibatan, maka sungguh kami akan memberikan kehidupan yang baik kepadanya, dan Allah mengatakan walanuhziyannahum ajruhum bi ahsani maa kaanuu ya’maluun, orang yang bekerja dengan baik itu maka kami akan berikan balasannya di akhirat, disebabkan karena kualitas, kebaikan pekerjaannya di muka bumi ini.

Oleh karena itu kita tidak bekerja acak-acakan, makanya yang kedua bahwa kita harus bekerja dengan berkualitas, dalam artian bekerja dengan baik, dengan sesuatu yang berkualitas, diridhai oleh Allah swt dan disukai oleh sesama manusia, tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan kita.

Yang ketiga dalah ditempuh dengan cara yang benar jadi kita tidak bisa menempuh dengan cara yang bathil karena Islam adalah agama yang benar maka kita ditunjukkan cara yang benar di dalam melakukan pekerjaan kita.

Kita bukanlah umat yang menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan yang orang kenal dengan istilah Masyafelli, nama tokoh yang telah mengarang sebuah buku tentang menggunakan segala cara apapun tujuannya baik atau buruk. Selanjutnya bahwa kita harus melakukannya dengan tekun, dengan shabar, al-Qur’an mengajarkan kepada kita fa idzaa faraqhta fanshab wa ilaa rabbika farghab, yaitu apabila kita telah menyelesaikan suatu pekerjaan, beralihlah melakukan pekerjaan lebih lanjut supya tidak ada sesuatu yang terbengkalai. Apabila kita berada pada waktu sore jangan tunggu waktu sampai pagi, dan apabila kita berada di waktu pagi maka jangan tunggu sampai tiba waktu sore, inilah kita sebagai seorang muslim selalu bekerja dengan tekun, dengan sabar, watawashau bil haqqi wa tawashau bishshabr, senantiasa dipesan untuk senantiasa berpesan dalam kebenaran dan kesabaran.

Yang kelima adalah harus direncanakan dengan baik, ini adalah salah satu fungsi manajemen, bahwa kita harus punya rencana yang baik dan tidak bekerja secara acak-acakan. Kita selalu disuruh berniat karena niat itu adalah awal dari perencanaan, fal yatazawwaduu, hendaklah kamu mempersiapkan perencanaan yang baik dan sebaik-baik perbekalan adalah takwa kepada Allah swt.

Yang keenam adalah ditangani dengan profesional. Allah berfirman, Qul kullun ya’malu ‘alaa syaakilatih, katakanlah Muhammad bahwa hendaklah kamu bekerja secara profesional, atas profesionalisme masing-masing, fa rabbukum a’alamu bi man Huwa ahda sabiila dan Allah yang paling tahu di antara kamu, siapa yang bekerja sesuai dengan petunjuk dan siapa yang bekerja sesuai dengan apa yang diridhai oleh Allah dan disukai oleh manusia. Oleh karena itu efisiensi boleh saja tapi efisiensi dalam suatu pekerjaan tidak boleh mengurangi kualitas pekerjaan kita. Kemudian ada hadis Nabi mengatakan, apabila suatu pekerjaan diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya. Oleh karena itu kita semua dengan pengetahuan kita, dengan skil kita, betul-betul bekerja secara produktif.

Selanjutnya bahwa pekerjaan kita itu dilakukan dengan kerjasama yang baik, bekerja sama itu sangat dipentingkan. Kalau kita bekerja sendiri-sendiri tentu hasilnya tidak maksimal, tapi kalau kita bekerja sama dengan baik, wata’aawnuu ‘alal birri wattaqwaa wa laaa ta’aawanuu ‘alal itsmi wal ‘udwaan, bertolong-tolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaaan dan janganlah kamu bekerja sama dalam berbuat dosa dan permusuhan di antara kamu wattaqullaha innallaah syadiidun ‘iqab, dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya adzab Allah teramat pedihnya kepada mereka yang menjadi propokator dan melakukan pelanggaran.

Yang terakhir bahwa hasil pendapatan itu ada kewajiban sosialnya, kita bisa saja menikmati apa yang kita hasilkan tapi jangan lupa bahwa apa yang kita hasilkan itu bukan millik kita semua, sebagian di antaranya adalah titipan untuk orang lain, minimal 2,5 % adalah hak fakir miskin. Masjid senantiasa terbuka kepada dermawan yang ingin mengeluarkan zakatnya jika haulnya sudah tiba.

SebelumnyaBahagia Dengan Perintah Rasulullah/Prof. Dr. Ahmad Abu Bakar, MA./Al Markaz SesudahnyaFatwa-Fatwa Sosial Kemasyarakatan (Hukum Rokok)/Prof. Dr. (Hc) AGH. Faried Wadjedy, MA./Al Markaz

Tausiyah Lainnya