Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

Fatwa-Fatwa Sosial Kemasyarakatan (Hukum Rokok)/Prof. Dr. (Hc) AGH. Faried Wadjedy, MA./Al Markaz

Terbit 13 September 2019 | Oleh : admin | Kategori : Makalah/Ceramah/Pengajian
Fatwa-Fatwa Sosial Kemasyarakatan (Hukum Rokok)/Prof. Dr. (Hc) AGH. Faried Wadjedy, MA./Al Markaz

Majelis Ulama Indonesia pusat telah mengadakan ijtima’ atau pertemuan Majelis Ulama se-Indonesia. Dalam acara ijtima’ komisi fatwa yang ketiga yang berlangsung di Padang Panjang untuk membahas berbagai masalah yang dihadapi baik oleh ummat maupun oleh bangsa kita. Undangan ditujukan kepada seluruh pengurus MUI propinsi yang sebanyak 33 propinsi, dengan harapan agar masing-masing mengutus sebanyak 10 orang peserta. Rencana panitia, acara ini dihadiri oleh sekitar 500 orang peserta karena untuk propinsi Sumatra Barat sendiri tidak dibatasi pesertanya dari seluruh kabupaten yang ada. Tetapi setelah penutupan, panitia memberikan laporan bahwa ternyata peserta ini membludak sampai 700 orang.

Peserta dibagi menjadi 4 komisi untuk membahas segala permasalahan yang dihadapkan kepada MUI ter­ma­suk masalah perkawinan usia dini. Tetapi dari sekian permasalahan baik seperti perundang-undangan, tindak lanjut dari Undang-undang pornografi. Masalah yang menyangkut agama, bagaimana peran agama dalam pembinaan moral anak bangsa, masalah pendidikan dll.

Dari sekian banyak masalah, ada dua masalah yang cukup menarik, yaitu hukum golongan putih (golput) di dalam pemilu dan hukum yang banyak menjadi kecintaan di antara masyarakat sampai ada yang mengatakan kalau istri saya meminta untuk berpisah dengan itu lebih baik saya berpisah dengan istri saya daripada berpisah dengan itu. Ada yang mengatakan saya lebih bisa tidak makan daripada melakukan itu, yaitu merokok.

Berkaitan dengan fatwa golongan putih di dalam pemilu Majelis Ulama memutuskan bahwa wajib hukumnya kita memilih pemimpin yang baik. Kalau mengatakan wajib hukumnya memilih maka logikanya haram hukumnya tidak memilih, tapi tidak menyebut haramnya di sini tapi menyebut wajibnya, hanya logikanya seperti itu. Pertanyaan bagaimana kalau menurut kita tidak ada pemimpin yang baik? pasti saja ada, sisa masalahnya mungkin tidak ada pemimpin yang sempurna karena pemimpin yang sempurna itu hanya Nabi Muhammad saw. Kalau tidak ada pemimpin sempurna menurut pandangan kita maka pilihlah yang paling kurang cacatnya, insya Allah akan ketemu. Mengapa dikatakan wajib? Memilih pemimpin yang baik, pertimbangan ialah, kalau kita tidak menggunakan hak pilih untuk memilih pemimpin yang baik maka itu berarti kita memberi peluang kepada orang lain untuk memilih pemimpin yang tidak baik sehingga kita memberikan peluang pemimpin yang tidak baik nanti untuk naik berkuasa kepada bangsa ini, itu pertimbangannya.

Kalau itu terjadi maka jangan caci pemimpin karena kita sendiri yang punya andil dalam hal terpilihnya pemimpin yang tidak baik. Tapi ini tidak terlalu lama didiskusikan yaitu bagaimana hukum rokok sebenarnya yang selama ini didiamkan saja oleh Majelis Ulama dan didiamkan oleh ulama-ulama kita, malah di antara ulama-ulama – maaf kalau saya katakan – ada yang merokok sebagaimana di antara dokter-dokter juga ada yang merokok, makanya jadi alot diskusinya, sehingga semua komisi yang lain yang tiga sudah selesai pembahasannya ini belum selesai yang mengakibatkan peserta komisi-komisi lain turut berkumpul di sini sehingga tambah serulah diskusinya.

Persoalan sekarang bagaimana caranya Ulama dalam menetapkan sesuatu hukum bahwa ini halal, atau ini haram? Ini wajib ataukah haram, tentu bukanlah hal yang mudah. Menghalalkan yang haram adalah haram, sebagaimana mengharamkan yang halal juga haram.

Ulama dalam menetapkan hukum, langkah pertama dicarikan dalil dari al-Quran atau hadis Rasulullah. Apakah ada dalil langsung yang mengenai permasalahan itu? Kalau ada maka dalil itu dikenakanlah ke sana. Umpamanya judi, memang ada dalil langsung yang menyatakan haramnya judi. Begitu juga khamar ada dalil langsung tentang hal itu. Jadi pertama ulama mencari terlebih dahulu dalil khusus dari al-Quran atau al-Sunnah atau Hadis adakah yang membicarakan mengenai itu, dari sanalah untuk ditetapkan hukumnya. Lalu bagaimana kalau tidak ada? Maka pindah cara yang kedua, adakah dalil yang menetapkan hukum sesuatu kemudian ini ada masalah baru yang sifatnya sama dengan itu tapi tidak ada dalilnya tapi sama dengan masalah lain yang telah ditetapkan hukumnya oleh dalil al-Quran atau al-Sunnah, contohnya dalam hal ini yang disebut al-Quran dengan khamar. Yang disebut al-Quran itu khamar itu adalah kurma yang diperah disimpan airnya kemudian menjadi minuman keras atau anggur yang diperah dan disimpan airnya kemudian jadi minuman keras, itulah yang disebut al-Quran khamar. Nah bagaimana brandy, wiski, votca, ballo’ kita yang tidak berasal dari kurma dan tidak berasal dari anggur? Nah tetapi karena ini mempunyai sifat yang sama di dalam bahasa al-Quran disebut mempunyai illat yang sama, yaitu sama-sama memabukkan maka diberikanlah hukum sama yang disebut khamar di dalam al-Quran, walaupun kata votca, bir, brandy dan ballo’ ini tidak disebutkan dalam al-Quran, itulah cara yang kedua.

Lalu cara yang ketiga, bagaimana kalau itu juga tidak diketemukan? Contohnya rokok, rokok ini tidak ada dalilnya bahwa hurrimat ‘alaikum rokok, diharamkan kepada kalian rokok, karena rokok itu sendiri belum ada pada masa Nabi, oleh karena itu al-Quran juga tidak meyebutkan itu, demikian juga hadis Nabi tidak meyebutkan itu, maka dalam hal ini dipakaikanlah dalil umum, apa itu dalil umum? Pertama bahwasanya agama ini adalah pembawa rahmat, وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِين, apakah rokok itu masuk rahmat? Yang kedua, dalam surat al-A’raf ayat 157 Allah mengatakan bahwa filosofi hukum Islam, failosofi ajaran Islam di mana Allah mengatakan:

يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

Ini filosofi ajaran Islam, Allah memerintahkan segala kebaikan, segala yang baik Allah perintahkan dan segala perbuatan keji perbuatan buruk dilarang. Jadi apa saja kalau masuk kategori itu, وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ Allah menghalalkan segala yang bersih dan Allah mengharamkan segala yang kotor dan segala yang buruk, inilah kaidah yang umum. Maka sesuatu yang tidak ada dalilnya secara langsung maka diberi hukum dengan kaidah umum tersebut, apakah ini membawa manfaat kepada manusia, membawa kemaslahatan kepada manusia? Kalau yes berarti diperintahkan oleh Allah atau apakah itu membawa mudharat kepada manusia? Kalau membawa mudharat berarti dilarang oleh Allah.

Nah sekarang bagaimana dengan rokok? Pada masa awalnya rokok itu dibuat sendiri dengan mengambil daun tembakau dicencang digulung tidak seperti perusahaan yang sekarang ini, di mana sudah di masukkan di dalamnya berbagai zat kimia pada campurnya itu sehingga orang ketagihan betul dan tidak bisa berpisah. Maka ulama melihat apa bahan yang dibuat rokok? Daun tembakau, apakah daun tembakau termasuk najis? Bukan najis berarti kalau begitu bagaimana efeknya? Tidak apa-apa seperti gula-gula saja, kalau begitu tidak apa-apa. Ada juga di antara ulama yang mengatakan bahwa kelihatannya ini seperti ada dampaknya maka ditulislah dalam kitabnya bahwa merokok itu makruh. Ada juga yang sudah melihat bahwa ada mudharatnya maka ditulis dalam kitabnya bahwa rokok itu haram, karena itu kita menemukan dalam kitab-kitab kajian kitab kuning, kitab-kitab yang dipelajari di pesantren kitab-kitab klasik ada tiga hukum ini. Ada yang mengatakan boleh-boleh saja, ada yang mengatakan makruh ada yang mengatakan haram, tetapi paling banyak mengatakan makruh, itulah yang kita warisi sampai sekarang dan oleh karena itu pula di antara para ulama-ulama ada yang perokok berat, saya melihat bahwa di sana itu banyak pimpinan pesantren yang termasuk perokok berat.

Karena ini tidak ada dalilnya dari al-Quran secara langsung, tidak dapat juga di-qiyas kepada benda yang lain maka kembalilah ke payung umum yaitu apakah membawa manfaat atau membawa mudharat? Ulama semua sepakat manakala membawa manfaat maka boleh, maka jika membawa mudharat maka disinilah tidak diperbolehkan. Pabrik kudus membawa informasi bahwa kalau sekiranya rokok ini diharamkan maka berapa ratus ribu penduduk indonesia yang akan kehilangan pekerjaan yang hidupnya tergantung dari petani tembakau dan buruh-buruh pabrik rokok. Yang kedua kalau itu tertutup maka kita akan kehilangan devisa, tahukan anda bahwa di APBN 2008 bahwa pemasukan cukai rokok itu adalah 50 triliun.

Tapi ada juga data-data yang lain, data dari WHO, data dari Depkes di antaranya di sini dikatakan bahwa menurut WHO bahwasanya di dunia ini orang yang merokok sebanyak satu milyar seratus juta manusia. Lalu 800 juta berada di negara-negara berkembang ini berarti hanya 300 juta yang ada di negara maju. Kemudian yang kedua, di mana posisi Indonesia, Indonesia katanya adalah rangking 5 perokok di dunia. Lalu bagaimana perkembangan rokok di Indonesia? Menurut data tahun 1970 jumlah rokok yang dikonsumsi penduduk Indonesia adalah 33 milyar batang rokok tetapi dalam 30 tahun setelahnya yaitu pada tahun 2000 naik menjadi 217 milyar batang rokok yang dikonsumsi di Indonesia. Sekarang 2009 kira-kira naik berapa lagi itu? Dengan perhitungan ini 200 milyar kali 400 rupiah berarti uang yang ada di Indonesia, uang yang dibakar melalui rokok itu sebanyak 80 triliyun. Apakah ini tidak termasuk mubazzir? Saya mengatakan kalau 80 triliyun ini kita sisihkan kalau non muslim kira-kira saja 14 triliyun yang diisap oleh orang muslim 66 triliyun berarti setiap tahunnya dari sekarang ini bisa dibagikan 2 triliyun untuk setiap satu propinsi di Indonesia untuk umat Islam, sangat besar dan sangat-sangat bermanfaat untuk menaggulangi kemiskinan di antara saudara-saudara kita ini, yang dua triliyun perpropinsi dengan perhitungan 200 m padahal tahun dua ribu sudah 217.

Nah apakah ini tidak termasuk mubazzir? Tidak masuk suatu pemborosan? Kalau masuk pemborosan maka haram. Kalau kita mengatakan bahwa tidak masuk pemborosan ya makruh. Kenapa karena kalau sudah masuk pemborosan maka sudah ada ayatnya, وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِين, jangan boros karena Allah tidak menyukai orang-orang yang boros, وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا, jangan boros dan berfoya-foya dan mubassir, إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِين sesungguhnya orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan, itu kata al-Quran, jadi apakah uang yang dibakar seperti ini masuk atau tidak masuk? Kalau mengatakan masuk ya mubazzir kalau menga­takan tidak mubazzir ya tidak haram.

Kalau data yang lainnya menurut data Depkes RI Januari 2009, biaya kesehatan yang ditanggung pemerintah dan masyarakat itu adalah tiga kali lipat cukai rokok, tadi dikatakan cukai rokok dimasukkan 50 triliyun lalu data dari Departemen kesehatan mengatakan bahwa biaya yang ditanggung 3 kali lipat daripada cukai rokok, kalau begini rugi. Kenapa? Karena rokok sekarang ini dalam suatu perusahan menurut data bahwa satu batang rokok mengandung 4000 bahan kimia yang beracun buat manusia. Oleh karena itu maka WHO memperkirakan bahwa rokok pada tahun 2010 akan membunuh 10 juta manusia, di antaranya 7 juta di negara-negara berkembang. Nah kalau begini apakah rokok tidak termasuk membunuh? Tidak termasuk hal yang membawa madharat?, kalau termasuk hal yang membawa madharat maka itu haram, maka kena payung umum itu, yang mudharat dilarang, laa dhararah wa laa dhiraarah kata Rasulullah, jangan ada hal-hal yang membawa mudharat kepada dirimu dan jangan juga ada hal-hal yang membawa mudharat kepada orang lain, kecuali kalau kita mengatakan no problem, tidak ada apa-apa.

Seperti yang dikatakan dalam ijtima’ itu ada juga yang mengatakan sudah tujuh puluh tahun usia saya, saya juga merokok alhamdulillah tidak pernah masuk rumah sakit, ada mengatakan makkaluru malasato de’na makkaluru malasato, makkaluru mateto de’nakkaluru mateto. Tetapi menurut data WHO bagaimana? Bahwa kematian usia antara 35 tahun sampai usia 69 tahun karena rokok itu tiga kali lipat daripada yang non perokok. Bettuanna menurut WHO tellu mate pakkalurue nappa seddi mate de’na makkaluru.

Ada juga yang mengatakan tidak apa-apa buat saya, akhirnya keputusannya begini, bagaimana hukum ini? Itu ada lima hukum dalam Islam. Satu wajib, apakah rokok itu wajib? Tidak ada yang mengaku, bagaimana yang kedua apakah rokok itu sunnat, tidak ada juga mengatakan sunnat. Sekarang pindah yang ketiga apakah rokok itu mubah? Boleh-boleh saja, ya tidak ada juga. Yang keempat apakah rokok itu makruh? Wah banyak naikkan tangan, yang kelima apakah rokok itu haram? Banyak juga naikkan tangan. Dari pertimbangan-pertimbangan itu tadi mengapa? karena kalau sudah mudharat, sudah membawa penyakit, sudah membunuh maka kenalah ayat, “jangan lemparkan diri kalian dalam kebinasaan”. Mengenai masalah bunuh diri, wa laa taqtuluu anfusakum, jangan bunuh diri kalian, ini sudah ada ayatnya.

Hukum merokok

merokok adalah makruh kalau tidak berbahaya, idi meni naonroi (tergantung pribadi masing-masing)

merokok adalah haram kalau berbahaya.

merokok diharamkan kepada – ini khusus, makruh atau haram tergantung kepada kita – tetapi ini ditetapkan secara khusus, haram untuk anak-anak, ada mengatakan anak-anak kan belum kena hukum, orang tuanya menyuruh atau memberi rokok maka itu haram, yang kedua haram buat wanita hamil, yang ketiga haram merokok di tempat-tempat umum, dalam ruangan yang tertutup, di atas pete-pete, ini yang kita tidak ingat itu, manakala datang seleranya ya tidak peduli di kanan atau di kiri.

Ini perlu menjadi perhatian kita kalau ada pesta-pesta perkawinan, jangan diberi rokok di rumah, ruang tamu tidak usah kasi asbak, karena itu daerah tertutup. Inilah masalah yang melibatkan begitu banyak orang. Masalah rokok ini kembali kepada diri kita, ada orang yang menganggap ini hiburan barangkali, sebaiknya kita mencari hal yang lain yang bisa menjadi hiburan kita dan betul-betul bermanfaat tidak punya efek samping dan tidak merugikan dari segi yang lain, itu yang kita cari sebagai penggantinya. karena ini masalah kebiasaan dan tekad bulat. Kalau memang kita punya tekad untuk berhenti siapa yang mau larang.

SebelumnyaEtos Kerja Dalam Perspektif Islam/Prof. Dr. Basyir Syam, MA./Al Markaz SesudahnyaHidup Di Bawah Naungan Syariah/AGH. Wahab Zakariya, MA./ Al Markaz

Tausiyah Lainnya