Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

H.M. Hamdar Arraiyyah/Sikap Empati dan Persatuan Umat/Al Markaz

Terbit 4 Desember 2020 | Oleh : admin | Kategori : ceramah jum'atKhutbah jum'atMakalah/Ceramah/Khutbah Jum'at
H.M. Hamdar Arraiyyah/Sikap Empati dan Persatuan Umat/Al Markaz

Kaum Muslimin, Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita melaksanakan ibadah pada siang hari ini dengan khusyuk. Mari kita merenungkan pesan-pesan agama yang disampaikan melalui mimbar masjid ini. Mudah-mudah ibadah kita diterima, dosa kita diampuni, dan doa kita dikabulkan. Juga, semoga iman, ilmu, dan amal kita mengalami peningkatan.
Kaum Muslimin, Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Pada kesempatan ini khatib mengajak jamaah sekalian untuk merenungkan kembali beberapa pesan yang terdapat pada surah at-Taubah/9, ayat 128. Allah Swt. berfirman:
لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ١٢٨
Artinya:
Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kamu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang beriman. (at-Taubah/9: 128).
Pertama, pada ayat itu terdapat ungkapan Rasuulun min anfusikum (Rasul dari kamu sendiri)
Rasulullah adalah seorang manusia. Orang-orang yang hidup sezaman dengannya di Mekah dan Madinah dapat melihat langsung sosok Rasulullah dan mencermati perangainya yang luhur. Orang yang hidup setelah Rasulullah wafat dapat memperoleh informasi tentang dirinya sebagaimana dijelaskan pada sejumlah ayat Al-Qur’an dan diterangkan dalam banyak hadis serta diulas dalam banyak karya tulis ulama.
Menurut sebagian ahli tafsir, pada ungkapan itu terkandung harapan. Semoga kiranya pengenalan tersebut memudahkan mereka yang hidup di lingkungan yang sama dengan Nabi Saw. dan semasa dengannya untuk menerima agama Islam. Selanjutnya, mereka menyebarkan Islam kepada manusia yang berdiam di berbagai belahan bumi.
Harapan itu dilaksanakan oleh banyak sahabat Nabi. Sebagian dari mereka mengembara ke berbagai negeri untuk menyiarkan Islam. Mereka wafat dan dikebumikan di negeri yang jauh dari Mekah dan Madinah.
Pesan kedua, ‘Aziizun ‘alaihi ma ‘anittum (berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami). Kata ‘aziizun ‘ala dari segi bahasa mengandung arti terasa berat. Frasa ma ‘anittum artinya, kesulitan, penderitaan dan keadaan yang tidak menyenangkan yang dialami manusia. Dengan demikian, Rasulullah Saw. memiliki sikap empati.
Kesulitan bisa timbul karena keterbatasan yang dimiliki manusia. Kesulitan bisa timbul karena tindakan sesama manusia yang berbuat zalim, dan karena perjuangan untuk kebaikan.
Ketiga: Hariisun ‘alaikum berarti dia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu. Keinginan yang dimaksud adalah “keimanan dan keselamatan” atau hidayah. Dengan demikian, Rasulullah Saw. mengharapkan kiranya manusia selamat dan bahagia di dunia dan akhirat.
Islam mengajarkan pokok-pokok keimanan yang tertuang dalam ungkapan La ilaha illa-llah Muhammadun Rasulullah. Ini adalah landasan utama untuk masuk surga dan terhindar dari api neraka di akhirat, sesuai keyakinan umat Islam.
Pada masa hidupnya, Rasulullah Saw. menyaksikan manusia berbondong-bondong memeluk agama Islam, yakni setelah kota Mekah dibebaskan oleh kaum Muslimin. Itu diterangkan pada surah an-Nashr. Wa raita-n naasa yadkhuluuna fi diini-l laahi afwaajan. (dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah) (an-Nashr/110: 2).
Keempat: Bi-l mu’miniina rauufun rahiim (penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin).
Ungkapan ini menunjukkan bahwa Rasulullah memiliki sifat penyantun (rauufun) dan penyayang (rahiim). Ini sesuatu yang istimewa, sebab disebut dalam firman Allah. Selain itu, ar-Rauuf dan ar-Rahiim adalah bagian dari al-Asmaa al-Husnaa yang dianugerahkan kepada Rasulullah Saw.
Setiap Muslim diharapkan agar berusaha memiliki sifat rauuf (penyantun) dan rahiim (penyayang). Ini adalah bagian dari sifat-sifat terpuji yang mendekatkan manusia kepada Allah.
Sifat ar-Rauuf dan ar-Rahiim dari Allah Swt. terdapat pada sejumlah ayat. Di antaranya:
وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٞ رَّحِيمٞ ١٤٣
Artinya:
Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh Allah Maha Penyantun Maha Penyayang kepada manusia. (al-Baqarah/2:143)
Allah Maha Penyantun terhadap manusia, yakni mereka yang beriman yang ditunjukkan dengan amal. Pemahaman ini sesuai dengan konteks ayat itu yang menyebut kata iman. Pemahaman ini sejalan dengan firman-Nya, Wa-llaahu rauufun bi-l ‘ibaad (Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya) atau mereka yang menempatkan dirinya sebagai hamba dari Allah Swt. (Ali ‘Imran/3: 207).
Sifat ar-Rauuf berasal dari kata kerja raufa bi, yang artinya mengasihi dengan kasih sayang yang tinggi dan bersifat lemah lembut. Makna sifat ar-Rauuf dari Allah memiliki dimensi material (duniawi) dan dimensi spiritual (ukhrawi).
Terkait dengan sifat ini, Al-Qur’an mengingatkan, antara lain, (1) hewan ternak yang diciptakan oleh Allah digunakan oleh manusia untuk mengangkut beban yang berat ke negeri yang sulit dicapai kecuali dengan susah payah (an-Nahl/16: 7); (2) Allah menerima tobat Nabi dan para sahabat dari golongan Muhajirin dan Ansar yang mengikuti Rasulullah pada masa-masa yang sulit, setelah segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka (at-Taubah/9: 117).
Ar-Rahiim sebagai salah satu nama dan sifat Allah mengandung arti, antara lain, bahwa Dia menyayangi hamba-Nya yang bertobat setelah melakukan kesalahan. Sifat ini juga mengandung arti bahwa Allah memberikan rahmat-Nya di akhirat kelak khusus bagi orang-orang beriman.
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Umat Islam perlu menumbuhkan dan memelihara sikap empati terhadap sesama kaum Muslimin yang dilanda berbagai bentuk keterbelakangan dan kesulitan. Setiap Muslim perlu senantiasa mengingat pernyataan yang ia baca, wa ana mina-l muslimiin (Saya adalah bagian dari kaum Muslimin).
Pernyataan ini mengandung makna yang luas. Di antaranya, keterlibatan dan kebersamaan kaum Muslimin ditunjukkan dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan, kesulitan, dan keterbelakangan yang dialami oleh saudara-saudaranya. Mereka memiliki ikatan keimanan dan keagamaan.
Komitmen ini perlu dijabarkan secara konkret dalam bentuk perencanaan dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Setiap Muslim harus mendukung perkumpulan atau organisasi yang bergerak di bidang sosial keagamaan, yang peduli dengan kesulitan, berusaha memberikan pelayanan dan mengangkat harkat umat.
Idealnya, kepedulian dan keterlibatan dalam mengatasi persoalan yang dihadapi oleh umat menjadi pendorong untuk memperkuat persatuan. Jika kepedulian itu kuat, maka berbagai perbedaan dapat dikesampingkan untuk meningkatkan dan memelihara persatuan demi kemaslahatan umat.
Kita mengucapkan, saya bagian dari kaum Muslimin. Ini adalah suatu janji yang harus dibuktikan. Janji akan ditagih pada waktunya. Semoga kita bisa mewujudkannya.

SebelumnyaPENTINGNYA ASUPAN KASIH SAYANG BAGI PERKEMBANGAN KESEHATAN MENTAL ANAK/H. SHAIFULLAH RUSMIN/AL MARKAZ SesudahnyaSikap Empati dan Persatuan Umat/H.M. Hamdar Arraiyyah/Al Markaz

Tausiyah Lainnya