Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

Nikmatnya Memberi/Dr. H. Muammar Bakry, Lc. MA/Al Markaz

Terbit 13 September 2019 | Oleh : admin | Kategori : Makalah/Ceramah/Pengajian
Nikmatnya Memberi/Dr. H. Muammar Bakry, Lc. MA/Al Markaz

Dalam al-Qur’an kata “zakat” dalam arti kegiatan yang terangkai dalam simpul rukun Islam ditemukan sebanyak 82 kali, semuanya digandengkan dengan perintah shalat, baik dalam ayat yang sama maupun dalam ayat yang berbeda.

Satu dari sekian hikmah yang dapat dipetik adalah, bahwa implementasi shalat yang paling nyata yaitu menumbuhkan kepekaan dan kepedulian sosial dengan memberi sebagian kecil harta kepada orang yang membutuhkan. Bahkan dalam bulan Ramadan, dalam satu riwayat, zakat fitrah menjadi point terakhir sebagai penentu diterimanya ibadah puasa kita. (shaumu ramdhan mu’allaq bayna al- samaa’ wal ardh wala yurfau illa bizakaatil fithri).

Dalam bahasa al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad saw, istilah zakat, sadaqah dan infaq tidak dibedakan. Karena itu ada ulama yang berkata:

الصَّدَقَةُ زَكَاةٌ وَالَّزكَاُة صَدَقَةٌ يَفْتَرِقُ اْلاِسْمِ وَيَتَّفِقُ الْمُسَمَّى

Sadaqah adalah zakat dan zakat adalah sadaqah beda nama tapi makna sama.

Lalu kemudian dalam tathbiq (aplikasi)nya istilah-istilah itu dibedakan. Zakat adalah meng-infaq-an sebagian harta sebagai bentuk kewajiban, sedangkan sadaqah menq-infaq-an sebagian harta sebagai tathawwu’ atau sunat.

Ada perbedaaan yang mendasar secara moril antara zakat dan sadaqah seperti yang tersebut dalam riwayat Ibn Abbas:

جَعَلَ اللهُ صَدَقَةَ السِّرِّ فِي التَّطَوُّعِ تَفْضُلُ عَلَانِيَتُهَا يُقَالُ سِبْعِيْنَ ضِعْفًا وَجَعَلَ صَدَقَةَ الْفَرِيْضَةِ عَلَانِيَتُهَا أَفْضَلُ مِنْ مَا يُقَالُ خَمْسَةَ وَعِشْرِيْنَ ضِعْفًا وَكَذَالِكَ جَمِيْعُ الْفَرَائِضِ وَالنِّوَافِلِ كُلُّهَا

Allah menjadikan pahala sadaqah jika dikeluarkan secara sembunyi lebih mulia 70 kali lipat dari pada dikeluarkan secara terang-terangan, dan Allah menjadikan pahala zakat yang dikeluarkan secara terang-terangan lebih mulia 25 kali lipat daripada dikeluarkan secara sembunyi, dan ketentuan ini berlaku pada semua jenis ibadah fardhu maupun sunat.

Di antara kemulian yang diperoleh sadaqah yang didistribusikan secara sembunyi adalah (yukaffir ‘ankum min sayyiatikum) dapat menghapus dosa-dosa dan bahkan di akhirat kelak ada orang yang mendapatkan naungan khusus dari Allah swt, di antaranya mereka yang ketika mengeluarkan sadaqah dilakukan secara sembunyi sampai-sampai tangan kirinya pun tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya.

Namun demikian sebagai bentuk transparansi dan pertanggungjawaban, menyebutkan nama atau tidak menyebutkan nama bukanlah penghalang untuk mendapatkan pahala, melainkan yang dinilai adalah keikhlasan dalam memberi, sebab Allah swt berfirman dalam QS. al-Baqarah: 174:

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُم بِٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ فَلَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.

Beberapa makna Zakat yang menjadi fungsinya antara lain: thaharah (suci), artinya dengan zakat, harta dan jiwa orang menjadi suci (tuthahhiruhum wa tuzakkihim biha). Yang kedua, an nama wal barakah (berkembang), artinya dengan zakat harta muzakki dapat berkembang dan senantiasa menjadi berkah. Karena itu Nabi bersabda: saya bersumpah atas tiga hal, saya sampaikan hal ini dan jagalah dengan baik, di antara yang tiga itu adalah (ma naqasha malun min sadaqatin/ seseorang tidak akan pernah jatuh bangkrut karena mengeluarkan zakat dan sadaqah).

Dengan zakat seorang mustahiq dapat hidup lebih sejahtera, karena zakat idealnya dapat mensejahterakan mustahiq, Umar pernah berkata: (Iza Zakkaytum fa aqhnu/ jika kalian berzakat maka buatlah orang menjadi kaya).

Karena itu, zakat sepantasnya terutama zakat mal tidak dikonsumsi oleh mustahiq satu dua hari lalu kemudian habis, tapi seyogyanya berbentuk modal usaha yang dapat dikembangkan agar yang mustahiq tahun ini menjadi muzakki tahun depan. Jika dicermati surat at Taubah ayat 103 :

خُذۡ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡ صَدَقَةٗ تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيۡهِمۡۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٞ لَّهُمۡۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka untuk kamu bersihkan dan sucikan mereka, doakanlah mereka sesungguhnya doa kamu menjadi ketentraman bagi mereka

Dalam sejarah, Nabi membentuk tim dan mengutus delegasi untuk menjemput zakat. Bukan orang miskin yang lengsung berhadapan dengan muzakki, melainkan ada fasilitator antara mustahiq dengan muzakki, inilah yang dinamakan amil (badan atau lembaga pengelola zakat), yang bertujuan: tu’khazu min agniyaihim wa turaddu ila fuqaraihim.

Dengan demikian, antara muzakki dan mustahiq tidak terjadi kontak langsung, yang secara sosiologis dan psikologis dapat menghindarkan ananiyah (keakuan) muzakki dan dhu’ful mustahiq (ketidakberdayaan) mustahiq.

Lembaga inilah yang semestinya eksis secara profesional, memiliki data lengkap dan akurat tentang potensi muzakki dan mustahiq. Demikian perlunya amil bertindak secara profesional, dalam ayat 60 surah at Taubah, amil menempati urutan ketiga setelah fuqara dan masakin dalam hal menerima haknya sebagai mustahiq.

Jika badan ini berjalan dengan baik, maka insya Allah dapat mengurangi angka kemiskinan, dan malah menghin­darkan peristiwa seperti yang pernah terjadi di beberrapa daerah yang menelan banyak korban.

Akhirnya, perintah zakat dan sadaqah adalah pertintah Tuhan yang amat suci dan mulia, siapa yang melaksanakannya berarti memuliakan Allah, mensucikan dirinya dan hartanya dan sebagai bentuk kasih sayangnya kepada orang yang lemah. Zakat dan sadaqah dapat menuntun kita lebih dekat dengan sorga dan menjauhkan kita dari neraka. Zakat dan sadaqah dapat mendekatkan diri kepada Allah dan mengakrabkan dengan sesama.

Orang Fakir dan miskin adalah tanggung jawab kita semua umat yang beriman, (la yu’minu ahadukum hatta yuhibba li akhihi ma yuhibbu linafsihi). Tidaklah beriman di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Tidaklah beriman di antara kalian jika perutnya kenyang sementara suadaranya atau tetangganya kelaparan.

Ramadan adalah bulan kasih sayang (rahmah), Rahmah diambil dari nama Tuhan Rahman dan Rahim, ramadhan membina kita untuk dapat mengikuti sifat rahmah Tuhan tersebut. Irhamu man fil ardh yarhamukum man fissama…kasihani dan sayangilah semua yang ada di bumi, niscaya yang di langit menyayangimu.

SebelumnyaMukmin Yang Profesional/Prof. Dr. H. Rusydi Khalid, MA./Al Markaz SesudahnyaPengaruh Ibadah Haji Dalam Kehidupan Sosial/Dr. KH. Baharuddin HS., MA./Al Markaz

Tausiyah Lainnya