Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

Hidup Di Bawah Naungan Syariah/AGH. Wahab Zakariya, MA./ Al Markaz

Terbit 13 September 2019 | Oleh : admin | Kategori : Makalah/Ceramah/Pengajian
Hidup Di Bawah Naungan Syariah/AGH. Wahab Zakariya, MA./ Al Markaz

Allah swt berfirman dalm al-Quran surat al-Jaziyah ayat 18:

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Allah swt menjadikan kepadakamu sekalian aturan dari setiap hal yang harus disikapi di dalam kehidupan, oleh karena itu taatilah aturan-aturan itu dan janganlah mengikuti hawa nafsu, pendapat-pendapat yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mengetahui.

Ayat tersebut memberikan penekanan kepada kita bahwa selaku makhluk ciptaan Allah swt kita memiliki kewajiban untuk taat kepada aturan-aturan Allah swt Inilah yang diistilahkan dengan taat azaz, yaitu menaati aturan-aturan yang ditetapkan oleh Allah swt kepada makhluk-Nya yang bernama manusia yang sering diistilahkan dengan syariat.

Syariat dalam bahasa Arab semakna dengan kata annuzhum, tata tertib, aturan atau tatanan. Oleh karena itu Allah swt menciptakan umat manusia sebagai makhluk yang diberikan amanah di atas permukaan bumi ini membawa misi sebagai abid, sebagai makhluk yang harus tunduk dan patuh kepada Allah swt dan yang kedua membawa misi sebagai khalifatan fil ardh, yaitu dengan tugas untuk memakmurkan bumi ciptaan Allah swt.

Untuk itu maka Allah menciptakan syariat, tatanan, aturan, tata tertib untuk dilakukan atau dilaksanakan oleh makhluk yang bernama manusia khususnya manusia yang beriman kepada Allah swt Syariat ini mengikat kita semua sebagai seorang pribadi mukmin yang sudah memasuki fase yang disebut mukallaf, sudah terbebani oleh hukum yang ditandai dengan baligh, atau mukallaf, sudah dibebani hukum, sudah harus taat kepada aturan-aturan yang diberikan oleh Allah swt.

Berbicara tentang syariat atau tatanan ini maka Allah swt memberikan aturan kepada manusia di dalam melaksanakan misinya tadi yaitu misinya sebagai abid, diberikan tuntunan, aturan-aturan yang langsung secara konkrit diatur oleh Allah swt di dalam al-Quran dengan ayat-ayat yang disebut dengan ayat-ayat yang qat’i, ayat-ayat yang mutlak yang tidak bisa ada campur tangan manusia di dalamnya, misalkan aturan-aturan yang berkaitan dengan hablumminallah, dalam arti ibadah-ibadah mahdah, seperti shalat, puasa, zakat, haji, aturannya langsung ditetapkan oleh Allah swt dengan jelas di dalam al-Quran yang oleh ahli-ahli disebut dengan ayat-ayat yang qath’i, yang tidak bisa diganggu gugat oleh manusia, contohnya seperti ditetapkannya salat 5 kali sehari semalam yang jumlah rakaatnya 17 yang bagaimana pun tingkat perkembangan manusia, itu tidak bisa dirubah, itu sudah qat’i (paten).

Syariat yang berkaitan dengan hablumminannas, hubu­ngan dengan sesama manusia, itu ada kelonggaran-kelonggaran karena masih bersifat zhanni, bisa diinterpretasi, oleh mereka yang memiliki kapasitas dan kemampuan untuk melakukan upaya yang sungguh-sungguh mengkaji ajaran Islam itu dengan fikirannya, dengan akalnya dan tidak keluar dari al-Quran dan as-Sunnah, itu yang dimaksud ijtihad. Oleh karena itu di dalam Islam ijtihad sangat dianjurkan.

Ijtihad hanya bisa jalan kalau orang memiliki kemam­puan nalar. Oleh karena itu dalam hablumminaas ini dalam melaksanakan tugas kekhalifaan memang banyak interpretasi-interpretasi yang harus dilakukan karena ayat-ayat yang berkaitan dengan itu tidak bersifat qat’i tapi bersifat zhanni, memungkinkan diberikan interpretasi.

Dalam hablumminannas ada hal-hal yang mengalami perkembangan akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sepanjang hal itu tidak keluar dari prinsi-prinsip al-Quran dan as-Sunnah. Oleh karena itu yang melakukan ijtihad adalah mereka yang memiliki kapasitas untuk itu.

Beramal merupakan salah inti dari ajaran Islam, karena amal ini terutama amal shaleh mengandung nilai-nilai tertinggi dan menentukan bagi keberhasilan seseorang di dalam usahanya baik yang berkaitan dengan hablumminallah maupun yang berkaitan dengan hablumminannas.

Dalam melaksanakan amalan-amalan baik yang berkai­tan dengan hablumminallah dan hablumminannas harus didasari dengan niat lillaahi ta’aala. Itulah sebabnya maka Rasulullah bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

Sesungguhnya amal itu ditentukan oleh kapasitas niatnya.

Kalau seseorang berniat untuk mencapai sesuatu kesuk­sesan untuk kepentingan pribadinya maka niatnya juga itu akan diperoleh. Kalau dia berniat untuk kepentingan orang banyak maka itu yang akan diperoleh. Kalau niatnya untuk kepentingan dirinya, masyarakat dan untuk mengabdi kepada Allah swt, itu yang lebih utama, dan itu yang disebut amal shaleh. Jadi untuk membedakan amal shaleh dan yang bukan amal shaleh adalah niat.

Dalam upaya yang berkaitan dengan hablumminallah, hablumminannas hendaknya kita melakukan prinsip yang dituntunkan oleh Rasulullah saw yaitu hendaknya kita berniat untuk hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, walaupun yang kita lakukan itu untuk kepentingan pribadi kita, kepentingan untuk mendapatkan sesuap nasi untuk keluarga kita, kepentingan untuk memakmurkan masyarakat dan bangsa kita, tetapi kita landasi dengan hijrah karena Allah dan Rasul-Nya menyertai niat itu insya Allah kita akan mendapat hasil daripada amal dan karya kita itu, oleh kita akan menikmatinya, masyarakat akan menikmatinya dan Allah akan meridhahinya sehingga kita akan keluar sebagai orang yang memperoleh kemenangan, bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Oleh karena itu mari kita mentaati aturan-aturan yang digariskan oleh Allah swt, bukan aturan-aturan yang ditetapkan oleh orang-orang yang mungkin didasari atas dasar emosi, mungkin atas dasar pengetahuannya terhadap hal itu belum mapan. Mudah-mudahan khutbah ini ada manfaatnya.

SebelumnyaFatwa-Fatwa Sosial Kemasyarakatan (Hukum Rokok)/Prof. Dr. (Hc) AGH. Faried Wadjedy, MA./Al Markaz SesudahnyaKepemimpinan Dan Kemelut Dunia Islam/Prof. Dr. H. Basri Hasanuddin/Al Markaz

Tausiyah Lainnya