Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

Islam Agama Damai/Prof. Dr. H. Rahim Yunus, MA/Al Markaz

Terbit 13 September 2019 | Oleh : admin | Kategori : Makalah/Ceramah/Pengajian
Islam Agama Damai/Prof. Dr. H. Rahim Yunus, MA/Al Markaz

Alhamdulillah tak henti-hentinya kita menyatakan ke hadirat Allah swt atas curahan, limpahan nikmat yang diberikan kepada kita sampai pada detik ini sehingga kita masih bisa melaksanakan aktivitas hidup kita, baik yang menyangkut tugas-tugas keduniawian kita ataupun tugas-tugas untuk memperoleh keselamatan dunia dan akhirat. Nikmat Allah swt termasuk kita bangsa Indonesia yang telah mendapatkan kemerdekaan sejak 64 tahun yang lalu dan insya Allah dua hari lagi kita akan merayakan hari kemerdekaan kita yang ke-64. Kita mendapatkan nikmat dengan kekayaan alam yang begitu besar, potensi manusia yang banyak, di lihat dari segi penduduk dunia, negeri ini adalah negeri besar ke empat di dunia.

Di dunia Islam, Indonesia adalah negara yang terbesar penduduknya, dari 230 juta penduduk kita lebih dari 87% muslim. Oleh karena itulah kalau cita-cita pendiri kemerdekaan ini yang telah menyatakan tujuan negeri ini adalah untuk melindungi bangsa Indonesia dan tanah air kita, serta memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut menciptakan ketertiban dunia berdasarkan perdamaian dan keadilan sosial maka sudah barang tentu yang menikmati adalah umat Islam karena negeri ini adalah negeri yang dihuni oleh sekitar 87 bahkan mungkin 90 % muslim dari 230 juta jiwa lebih.

Oleh karena itulah tugas kita adalah bagaimana mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa ini untuk mencapai kesejahteran, melindungi segenap masyarakat kita serta mencerdaskan bangsa kita dan menciptakan perdamaian. Ini bisa terwujud hanya dengan upaya bangsa itu sendiri. Bukankah ajaran agama kita yang luhur telah menyampaikan kepada kita dalam al-Qur’an, perubahan tidak terjadi kalau bangsa itu sendiri tidak melakukan perubahan

 إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Apalagi cita-cita luhur para pendiri kemerdekaan kita di lihat dari aspek Islam, ajaran yang kita junjung tinggi itu merupakan suatu perjuangan yang sangat luhur, melindungi bangsa Indonesia, melindungi setiap warga Negara Indonesia termasuk umat Islam yang 87 % itu adalah bahagian dari ajaran inti Islam. Jangankan melindungi manusia, binatang pun yang dilindungi adalah suatu ajaran yang luhur dalam Islam.

Sebagaimana di dalam hadis disebutkan bahwa ada seseorang yang sebelum meninggal memiliki dosa yang begitu banyak, tetapi pernah menolong melanjutkan kehidupan seekor anjing karena usahanya. Seekor anjing yang lewat karena kehausan, dia pun kehausan lalu air yang mau diminum diserahkan kepada anjing dan anjing itu bertahan hidup. Menurut riwayat, yang membuat orang tadi diampuni dosanya dan masuk syurga adalah karena melindungi seekor anjing. Sebaliknya adapun suatu riwayat yang menyebutkan bahwa seorang wanita yang akhlaknya sangat bagus tetapi merampas hak seekor binatang yang bernama kucing, ia mengurung kucing lalu kucing itu meninggal dalam kurungan dan tidak memperoleh haknya untuk mencari makan, lalu menurut hadis bahwa wanita tersebuat masuk neraka.

Begitu pentingnya memberi perlindungan kepada makhluk Allah, apalagi yang dilindungi itu manusia, melindungi manusia untuk bertahan hidupnya selama melindungi seluruh manusia, membunuh seseorang tanpa alasan yang benar, tanpa alasan hukum, tanpa karena orang yang dibunuh itu membuat kerusakan di muka bumi, maka sama membunuh semua manusia. Ajaran ini diturunkan juga kepada Nabi-Nabi terdahulu termasuk Bani Israil, seperti yang disebutkan dalam al-Qur’an surah al-Maidah:

مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

Ditetapkan dalam ajaran-ajaran bani Israil bahwasanya siapa yang membunuh suatu jiwa, manusia tanpa alasan hukum yang dibenarkan ataukah karena membuat teror, membuat kerusakan di muka bumi, maka itu seperti membunuh semua orang, siapa yang melindungi kehidupan seseorang maka sama melindungi semua manusia.

Begitu pentingnya untuk memberi perlindungan keamanan dari makhluk Allah yang bersama-sama dengan kita sampai-sampai ajaran Rasulullah binatang dan tumbuh-tumbuhan pun kalau mau dimanfaatkan jangan dibunuh. Telah diajarkan kepada kita ketika melaksanakan haji dan umrah, bagi yang sudah ihram jangan mencabut tumbuh-tumbuhan, supaya dia bebas hidup dan tumbuh, lestari dan bisa melindungi kita dan kita pun melindunginya. Begitu luhurnya ajaran perjuangan yang telah disampaikan oleh pendiri kemerdekaan negeri kita pada masa lalu. Begitu luhurnya pandangan Islam, memajukan kesejahteraan umum khususnya bangsa kita, kita dituntut agar supaya menjadi bangsa yang sejahtera, bangsa yang mampu mengeluarkan zakat, bangsa yang mampu berinfak dan bersedekah, bagaimana bisa mengeluarkan zakat kalau menjadi miskin? Oleh karena itu terkait perintah untuk membayar zakat itu perintah juga untuk menjadi sejahtera, perintah untuk menjadi tangan di atas, itu perintah untuk menjadi sejahtera.

Rasulullah saw menempatkan orang yang mampu memberi, memberi utang, dan memberi hibah adalah orang yang lebih baik daripada hanya mampu selalu menerima, nyaman menerima utang.

اليد العليا خير من اليد السفلى

Tangan di atas lebih baik dari tangan dibawa.

Oleh karena itu marilah kita berjuang untuk mencapai cita-cita para pejuang yang berjuang dengan darah bahkan jiwa sehingga kita memperoleh kemerdekaan ini untuk kita mengisinya untuk mewujudkan cita-cita untuk kesejahteraan kita bersama, mewujudkan perdamaian untuk terciptanya ketertiban kehidupan dunia antara satu bangsa dengan bangsa yang lain, antara kita yang bangsa Indonesia yang mayoritas muslim dan bangsa lain yang muslim dan juga yang nonmuslim adalah satu ajaran cita-cita luhur, karena dalam Islam keberislaman kita memang dalam rukun Islam kita dituntut untuk melaksanakan kewajiban shalat, zakat, haji. Tetapi terlepas dari itu dan di samping itu, implementasi apa yang diinginkan oleh rukun-rukun Islam itu adalah bagaimana mewujudkan Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam sebuah hadis Rasulullah terkait dengan kesela­matan untuk mewujudkan kedamaian dan perdamaian itu.

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Seorang muslim yang benar adalah apabila orang lain sudah selamat dari gangguan lidahnya dan dari gangguan perbuatan tangannya (perbuatan-perbuatan tindakannya yang bisa merusak dan membahayakan orang lain).

Itu adalah wujud implementasi dari rukun Islam ketika kita shalat yang mencegah kita untuk melakukan perbuatan keji dan mungkar.

Banyak orang di kemudian hari, menurut hadis yang dikemukan oleh Rasulullah saw bersama sahabatnya ketika terjadi dialog, Rasulullah bertanya kepada sahabatnya, Tahukah kalian apa yang disebut dengan orang yang bangkrut? Orang pelit? Sahabat menjawab bahwa orang yang kami tahu orang yang pelit adalah orang yang modalnya besar lalu habis dan banyak utangnya. Rasulullah mengatakan memang betul tapi bukan itu yang saya maksud, tapi ada kesamaannya, yang disebut orang bangkrut yang saya maksudkan adalah yang dibangkitkan di kemudian hari, banyak salatnya, ibadahnya besar, zakatnya banyak, puasanya banyak tapi ketika dia mau masuk syurga, maka berdatanganlah orang yang pernah disakiti, pernah dituduh, pernah dicaci maki, pernah diambil haknya, dirampas haknya, dirampas hartanya apalagi kalau dirampas hidupnya waktu dia hidup di dunia ini lalu mati dan tidak ada penyelesaian di dunia ini, berdatangan mereka nanti di akhirat untuk meminta pertanggungjawaban orang yang mengambil hak tadi, yang meskipun juga tentu saja orang yang tidak shalat juga dijanjikan dengan neraka, orang yang shalat dijanjikan dengan syurga karena shalatlah yang paling pokok dinilai di hari kemudian. Tetapi di balik daripada itu adalah bagaimana hubungan sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari, kehidupan dunia ini, tidak menyakiti, sehingga habis pahalanya dan masih banyak yang datang untuk menagih lalu dilemparkan masuk neraka.

Ini pentingnya dalam hidup ini menciptakan kehidupan bersama damai dalam kehidupan berbangsa dan seluruh umat manusia di dunia ini dan ini telah diwujudkan oleh Rasulullah saw pada masa hidupnya di Mekah bahkan beliau pernah minta perlindungan di Habsy. Beliau juga pernah menolong orang-orang yang datang dari Najran, beragama Nasrani untuk diputuskan, diselesaikan persoalan yang mereka hadapi. Yahudi yang ada di Madinah di awal-awal hidupnya, ketika belum berbuat macam-macam untuk mengganggu kehidupan stabilitas hidup bersama lalu Rasulullah mengatakan

لليهود دينهم وللمسلمين دينهم

bagi orang yahudi agamanya dan bagi orang muslim agamanya.

 Marilah kita hidup bersama, Ini penting sekali, suatu nilai yang sangat luhur yang disampaikan oleh Islam yang sangat dituntut untuk melaksanakan pejuangan negeri kita. Terciptanya perdamaian adalah suatu langkah untuk menca­pai kesejahteraan, karena kalau tidak stabil negeri ini maka tentu saja kita tidak bisa mewujudkan ekonomi yang baik, ekonomi tidak baik tentu saja pendidikan tidak bisa kita wujudkan.

Itulah sebabnya MUI telah menciptakan atau menyam­paikan pandangan-pandangannya melalui fatwa sehubungan apa yang terjadi di negeri kita, yang sering menimbulkan gangguan-gangguan keamanan yang mungkin niatnya sama dengan kita untuk menciptakan li ilaahi kalimatillah, tapi ada salah atau berbeda pemahaman kita, sehingga kalau pemahaman kita itu bisa membawa Islam rahmatan lil ‘aalamin, lain lagi dengan pemahaman versi dia justru iman yang mereka miliki yang juga seperti kita kepada Allah tidak membawa Islam ini sebagai rahmatan lil’aalamiin tetapi mencitrakan Islam ini justru sebaliknya.

Padahal sesungguhnya apa yang dilakukan li ilaahi kalimatillah ada tempatnya, di negara-negara yang memang memusuhi Islam seperti di Israel. Di Pelestina tempatnya untuk melakukan jihad, sampaipun MUI membolehkan untuk bunuh diri di tengah-tengah musuh yang mungkin tidak ada jalan lain yang diberikan kepada kita. Tetapi di negeri yang aman, di negeri yang damai seperti kita ini bukan pada tempatnya untuk melakukan hal-hal yang seperti itu.

Saya ingin menyampaikan di sini fatwa MUI tahun 1944 berdasarkan ayat dalam surah an-Nisa yang berbunyi

وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا

wa laa taktuluu anfusakum, janganlah kmau membunuh dirimu, innallaha kaana bikum rahiima, sesungguhnya Allah maha pengasih, wa man yaf’alu dzaalika ‘udwaanan fa saufa naara, barangsiapa yang melakukan hal seperti itu dengan suatu penganiayan maka akan masuk neraka, dzaalika ‘alallahi yasiira, Allah sangat mudah untuk melakukannya Di ayat lain disebutkan bahwa

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

Seorang manusia yang membunuh seorang manusia tanpa alasan maka seakan-akan ia membunuh semua manu­sia. Di ayat lain di surah al-Baqarah disebutkan Jangan membinasakan diri dan berbuat baiklah sesungguhnya Allah senang kepada orang yang berbuat baik.

Dalam hadis Rasulullah saw yang menjadi dasar fatwa MUI untuk menfatwakan bagaimana perbedaan antara membunuh diri dan mati syahid, bagaimana perbedaan antara jihad dan hanya teror, Nabi bersabda yang dalam artinya diriwayatkan oleh Abu Daud, sebagai seorang muslim menakut-nakuti orang muslim lainnya, riwayat Abu daud, hadis lain yang artinya barangsiapa yang mengacungkan senjata tajam kepada saudaranya sesama muslim maka malaikat akan melaknatnya sehingga ia berhenti, HR Muslim. Hadis yang lain barang siapa yang menjatuhkan diri dari sebuah gunung lalu ia terbunuh maka ia akan masuk neraka dalam terhempas di dalamnya, kekal lagi dikekalkan di dalamnya selama lamanya (HR Bukhari Muslim)

Berdasarkan hadis-hadis ini maka MUI pada tahun 2004 telah membuat pedoman untuk kita, supaya kita menyalurkan semangat juang kita untuk memperjuangkan umat Islam ini pada tempatnya yang benar sehingga dia memberi penjelasan kepada kita perbedaan antara teror dan jihad, teror dalam pandangan majelis ulama adalah tindakan teror terhadap kemanusiaan dan peradaban, yang menimbulkan ancaman serius, negara, bahaya terhadap keamanan, perdamaian dunia, serta bentuk kejahatan yang diorganisasi dengan baik, bersifat transnasional dan digolongkan sebagai kejahatan luar biasa yang tidak membeda-bedakan sasaran atau musuh.

Pandangan MUI tentang Jihad adalah segala upaya dan usaha sekuat tenaga serta kesediaan untuk menanggung kesulitan dalam menahan agresi musuh dalam segala bentuknya. Jihad dalam pengertian ini adalah alqitaal, seperti yang dialksanakan oleh saudara-saudara kita yang ada di Palestina. Yang kedua jihad pun adalah segala upaya yang sungguh-sungguh yang berkelanjutan untuk menjaga dan meninggikan agama Allah. Oleh karena itu jihad, selain jihad dengan perang, jihad dengan pemikiran, jihad dengan tenaga, jihad dengan harta untuk meninggikan kalimah Allah, semuanya itu termasuk jihad.

Lalu perbedaan antara terorisme dan jihad. Terorisme sifatnya merusak dan anarkis, tujuannya hanya menciptakan rasa takut atau menghancurkan pihak lain, tanpa aturan, sasaran tanpa batas. Jihad sifatnya melakukan perbaikan walaupun caranya dengan peperangan tujuannya untuk menegakkan agama Allah dan membela pihak-pihak yang dizalimi, sesuai aturan yang ditentukan syariat dengan sasaran musuh yang jelas. Oleh karena itulah MUI menfatwakan bahwa hukum melakukan teror adalah haram, baik perorangan, kelompok maupun negara, sedangkan hukum melakukan jihad adalah wajib.

Juga disampaikan apa perbedaan ingin bunuh diri dengan ingin mati syaaahid? Orang yang bunuh diri yang tidak masuk kategori fatwa MUI adalah orang yang bunuh diri untuk kepentingan dirinya sendiri sementara yang namanya mati syahid adalah orang yang mempersembahkan dirinya demi agama dan umatnya. Orang yang bunuh diri yang tidak termasuk mati syahid adalah orang yang pesimis terhadap dirinya dan atas ketentuan Allah sedangkan orang yang mati syahid adalah orang yang seluruh cita-citanya tertuju untuk mencari rahmat dan keridhaan Allah swt. Bom bunuh diri hukumnya menurut fatwa MUI adalah haram. Itu adalah suatu tindakan keputusasaan, merugikan diri sendiri, baik dilakukan di daerah damai maupun di daerah-daerah perang yang mencelakakan diri tanpa ada strategi yang benar.

Inilah barangkali dapat kami sampaikan ini agar supaya kita semua dapat memahami, agar kita tidak gampang terpengaruh. Mungkin saudara-saudara kita yang niatnya bagus, imannya sama dengan kita, tetapi pemahamannya yang berbeda dengan kita lalu tidak mencitrakan Islam sebagai Rahmatan lil ‘aalamiin tetapi justru itu sebaliknya sehingga negeri kita yang akan kita bangun, menciptalan kedamaian, menciptakan kesejahteraan sesuai apa yang menjadi cita-cita luhur pendiri kemerdekaan ini yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam yang kita junjung dan kita anut itu bisa kita wujudkan, bisa kita laksanakan, sehingga kalau negeri ini menjadi negeri yang baik, negeri yang maju, 90% yang menikmatinya adalah kita umat Islam. Tetapi sebaliknya kalau Indonesia ini yang kacau, Indonesia yang terkebelakang sehingga kita tidak mampu membangun ekonomi yang baik maka yang merasakan akibatnya adalah kita yang 90% umat Islam.

Mudah-mudahan kita semua bertanggung jawab untuk menaggulangi hal-hal yang bisa menimbulkan kekacauan paling tidak kesadaran bagi diri sendiri, keluarga kita dan teman-teman kita, dan mungkin ada saudara-saudara kita yang sudah terlanjur, marilah kita memberi nasehat, pandangan yang baik untuk kemajuan bangsa kita. Mudah-mudahan dengan semangat proklamasi, semangat kemerdekaan yang ke 64 ini kita tetap berjuang untuk bisa merubah bangsa ini karena nasib kita bisa berubah dengan usaha kita sendiri.

SebelumnyaNabi Sebagai Teladan Dalam Kehidupan Umat/Dr. KH. Mustamin Arsyad, MA/Al Markaz SesudahnyaIslam Moderat Untuk Bangsa Dan Umat/Prof. Dr. Ahmad Sewang, MA/Al Markaz

Tausiyah Lainnya