Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

Islam Moderat Untuk Bangsa Dan Umat/Prof. Dr. Ahmad Sewang, MA/Al Markaz

Terbit 13 September 2019 | Oleh : admin | Kategori : Makalah/Ceramah/Pengajian
Islam Moderat Untuk Bangsa Dan Umat/Prof. Dr. Ahmad Sewang, MA/Al Markaz

Agama Islam mengajak kepada manusia, mengajak kepada para penganutnya untuk selalu bersikap i’tidal. I’tidal artinya selalu memelihara sikap moderat, sikap moderat dalam seluruh aspek kehidupan apakah itu keberagamaan kita maupun dalam bermasyarakat. Dengan demikian al-Quran mengistilahkan umat Islam sebagai ummatan washatan, umat yang selalu mengambil jalan tengah. Dalam surah al-Baqarah disebutkan,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

Demikian itulah kami menciptakan kalian untuk menjadi ummatan washathah, umat pertengahan,

لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

Agar kalian bisa menjadi saksi di tengah-tengah manusia,

وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Dan Rasul menjadi saksi atas kalian.

Sebaliknya agama kita melarang sikap yang berlebih-lebihan sehingga menimbulkan sikap ekstrim. Di dalam hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Nabi mengingatkan

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ

Hai sekalian manusia hindarilah kalian itu bersikap berlebih-lebihan dalam beragama,

فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

Karena sesungguhnya kehancuran umat terdahulu

الْغُلُوُّ فِي الدِّين

Karena dia berlebih-lebihan dalam beragama.

Agama Islam mengajarkan kepada kita semua untuk selalu memelihara keseimbangan di dalam hidup dan salah satu yang harus dipelihara adalah keseimbangan hubungan kita kepada Allah dan hubungan kita kepada sesama manusia, hablumminallah dan hablumminannas. Kedua hubungan ini harus dijaga secara harmonis, tidak boleh yang satu dilaksanakan sedangkan yang lain ditinggalkan. Tidaklah dibenarkan bagi seorang muslim yang hanya memelihara hubungannya kepada Allah tanpa menjaga hubungannya antara sesamanya. Tidak juga dibenarkan yang sebaliknya yang hanya memelihara hubungan kepada sesama manusia sehingga ia melupakan hubungan kepada Tuhan.

Orang yang meninggalkan hubungan dengan sesama manusia, disebut oleh Rasulullah dalam sebuah hadis adalah termasuk golongan orang yang mukhlis. Orang yang mukhlis adalah orang yang bangkrut di akhirat. Pada suatu ketika Rasulullah memanggil para sahabat dan bertanya kepada para sahabatnya, Apakah kalian tahu siapa yang dimaksud dengan orang yang bangkrut itu? Orang yang bangkrut di antara kami kata para sahabat adalah ketiadaan, orang yang kehabisan uang dan kehabisan perhiasan, Rasulullah mengatakan, sesungguhnya orang yang bangkrut di antara ummatku ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan penuh kegembiraan karena pahala shalat, puasa dan zakat tetapi bersamaan dengan itu ia juga melakukan perbuatan di dunia suka mencaci, suka menfitnah orang lain, suka memakan barang yang bukan miliknya dan suka menyakiti orang lain, orang yang demikian kata Rasulullah di hari kemudian orang ini semua kebaikan, semua pahala kebajikan yang dia peroleh karena dia melaksanakan ibadah kepada Allah orang ini lalu kebaikan itu disita lalu diberikan kepada orang yang pernah dia sakiti. Apabila kebaikannya itu habis, sebelum habis semua utang dosanya kepada orang lain, maka dosa-dosa orang yang pernah disakiti itu diambil lalu dilimpahkan kepadanya lalu kemudian dia dijebloskan di dalam neraka.

Dengan demikian seorang muslim yang baik adalah seorang muslim yang selalu menjaga hubungan baiknya dengan Allah dan kepada sesama manusia. Di samping itu dia juga menjaga dua hal, dua hal secara seimbang, keshalehan dirinya, keshalehan secara individual, keshalehan pribadi tetapi juga memelihara keshalehan sosialnya. Karena itu pula ibadah mahdah apapun yang terkait dengan hukum Islam selalu mengandung dua hal, dua hal itu sifatnya ada yang sifatnya simbolis dalam rangka mempertahankan hubungan kepada Allah dan ada yang sangat substansial, shalat misalnya merupakan simbol gerakan di samping itu secara substantif dikatakan oleh Tuhan,

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Shalat itu harus mempu mencegah kita dari keji dan mungkar.

Puasa yang kita laksanakan di sana sudah ada tata cara yang ditetapkan oleh Allah, sebagai bukti penyerahan kita kepada Allah, sebagai bukti ketundukan kita kepada Allah tetapi janganlah kita berpuasa misalnya sambil merusak hubungan kita dengan sesama. Rasulullah saw mengingatkan kepada kita semua. Suatu ketika Rasulullah dihadapkan kepada suatu pertanyaan, ada seseorang di siang hari tidak pernah meninggalkan ibadah puasa dan di malam hari dia bangun untuk melaksanakan shalat. Akan tetapi dia suka menyakiti tetangganya dengan lidahnya. Rasulullah menjawab pertanyaan itu tadi, tidak ada kebaikan darinya itu dan ia akan masuk ke dalam neraka.

Sekalipun kita perlu menjaga keseimbangan, keseimba­ngan dalam keberagamaan kita, kita memelihara keshalehan individual kita dan keshalehan sosial kita. Tetapi apabila ada kepentingan individu dan kepentingan sosial saling berhadapan maka di dalam fikih prioritas kita harus mendahulukan kepentingan sosial. Dari sini menurut Yusuf al-Qardhawi pelaksanaan ibadah haji yang tadi sudah diumumkan adalah wajib. Tetapi kedua kalinya kita melaksanakan itu adalah sunnat. Kedua kali dan seterusnya tidak wajib lagi tapi itu adalah sunnat. Kenapa sunnat? Itu adalah untuk memberikan kesempatan kepada saudara-saudara kita yang belum melaksanakan haji. Hanya pertama sesuai kondisi area haji di Arab Saudi yang sangat terbatas, yang tidak bisa menampung semua jamaah haji yang bertambah dan bertambah sekalipun sarana dan prasarananya selalu ditambah oleh pemerintah Arab Saudi setiap tahun perkembangan jamaah jauh lebih cepat dibanding pembangunan sarana dan prasarana.

Kedua, naik haji ke 2 kalinya dst hukumnya adalah sunnat dan itu berkepentingan individual. Apa tidak lebih baik ONH yang kita pakai digunakan untuk kepentingan yang lebih luas seperti pembangunan SDM, pendidikan, perbaikan masjid. Jikalau ONH naik haji yang kedua kalinya dan seterusnya insyaalah itu akan mendapatkan pahala sunnat tetapi sekali itu saja. Jika ONH yang kita pakai itu kita gunakan untuk perbaikan sarana keagamaan, SDM, di mana masyarakat kita masih berada di bawah garis kemiskinan, insyaalah pahalanya akan terus mengalir kepada yang bersangkutan sekalipun kita sudah bertahun-tahun berbaring di dalam kubur.

Dari sinilah kritikan Imam al-Ghazali dalam bukunya Ihyaa Ulumudin, beliau berkata, bagi orang yang haji berkali-kali dengan melupakan kepentingan sosial yang ada di sekitarnya demikian itu menurut al-Ghazali mereka itu adalah orang-orang yang ghurur, orang yang terperdaya, orang yang mementingkan dirinya sendiri yang tidak mementingkan kepentingan sosialnya. Itulah saya ingin membacakan ayat suci al-Quran bahwa betapa kita perlu menciptakan keshalehan individual dan keshalehan sosial kita sehingga demikian kita bisa menjaga keseimbangan. Tapi sekali lagi seandainya kepentingan sosial itu berbenturan dengan kepentingan individu maka kepentingan sosial itu harus jauh lebih diutamakan. Dalam al-Quranul Karim surah al-Ahzab ayat 56-57 Allah berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا

Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasulnya ialah orang-orang yang menjauhkan diri dari printah Allah swt yang tidak mau menghadapkan dirinya kepada Allah swt, ayat ini selanjutya mengatakan l’anahumullahu fiddun-yaa wal akhirah, mendapat laknat dari Allah di dunia dan di Akhirat dan akan dipersiapkan baginya azab yang menghinakan. Orang yang suka menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa alasan.

Mudah-mudahan dengan khotbah ini menuntun kita untuk memperbaiki kehidupan kita dalam rangka membangun diri kita menjadi amanah, fathanah, dan menjadi shaleh secara pribadi dan juga shaleh secara sosial.

SebelumnyaIslam Agama Damai/Prof. Dr. H. Rahim Yunus, MA/Al Markaz SesudahnyaMasjid Sumber Kekuatan Islam/H. Arifin Ilham/Al Markaz

Tausiyah Lainnya