Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

Jabatan Adalah Amanah/Dr. H. Fuad Rumi, MSc/Al Markaz

Terbit 13 September 2019 | Oleh : admin | Kategori : Makalah/Ceramah/Pengajian
Jabatan Adalah Amanah/Dr. H. Fuad Rumi, MSc/Al Markaz

Sebagai orang beriman kita diberikan pegangan oleh Allah swt untuk memliki sebuah cara pandang yang tersendiri yang khusus di dalam menerima kenyataan atau menghadapi keadaan apa saja termasuk di antaranya pemilihan presiden ini. Kita lihat dari perspektif al-Qur’an bagaimana sesungguhnya persepsi kita tentan jabatan, bagaimana persepsi kita tentang diberinya kekuasaan, diperolehnya kekuasaan bagi seseorang. Di dalam surah al-Imran ayat 26 Allah berfirman,

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Di ujung seluruh ikhtiar, seluruh upaya yang kita lakukan apakah kita termasuk yang kecewa, apakah kita termasuk yang gembira, mari kita kembali, termaksud di dalam ayat ini, bahwa kalau kita mengenali yang namanya hak preoregatif, maka sesungguhnya hak preoregatif yang paling mutlak itu adalah di tangan Allah swt. Dialah yang memberikan kekuasaan, dialah yang memberikan amanah kepada yang dikehendakinya bagi orang yang dikehendakinya.

 Apabila kita kembali ke sana, Saya kira kita tidak perlu terlampau kecewa berkepanjangan, kita kembalikan kepada Allah swt. Allah menetapkan apa yang dikehendaki tidak didasarkan pertimbangan-pertimbangan yang digunakan oleh manusia. Terlalu jauh dan telalu dalam untuk kita selami apa hikmah yang terkandung di dalamnya, di mana Allah memberikan kerajaan kepada seseorang.

Yang menarik dari ayat ini adalah Allah memisahkan antara memberi dan mencabut kekuasaaan dan juga memberi kemuliaan dan memberi kehinaan, adalah maknanya adalah memang dengan tidak sendirinya. Allah memberikan kekuasaan kepada seseorang itu juga berarti Allah juga memberikan kemuliaan. Bisa terjadi dengan kekuasaan seseorang akan dihinakan oleh Allah swt. Contohnya di dalam pentas sejarah cukup banyak, contoh di masa lampau bagaimana Fir’aun pada akhirnya dihinakan oleh Allah swt, bagaimna Namrudz yang memproklamirkan dirinya sebagai yang paling berkuasa dihinakan oleh Allah swt mati dengan kejaran nyamuk yang tidak takut kepada manusia, tapi dikejar-kejar oleh nyamuk, itulah bentuk penghinaan yang diberikan Allah swt lewat kekuasaaan. Melalui kekuasaan pun Allah bisa memuliakan seseorang, lihat pada sejarah Nabi Yusuf, Nabi Sulaiman adalah hamba-hamba Allah yang diberikan kekuasaan tapi ketika kekuasaaan itu ia bisa menjalankannya sebagai amanah Allah swt dan kemuliaan oleh Allah swt.

Yang kedua adalah firman Allah dalam al-Quran yang terletak dalam surah yang lain dan terkait dengan ayat yang saya bacakan tadi Allah swt berfirman dalam surah al-Anfal ayat 27:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.

Alangkah banyaknya amanah dalam hidup ini tapi salah satu yang disebut oleh Rasulullah saw sebagai amanah adalah jabatan, dan salah satu jabatan yang kita tahu, saya kira jabatan puncak di suatu negara yang kita lakukan pemilihannya kemarin adalah jabatan presiden, jabatan wakil presiden, jabatan menteri-menterinya, dan jabatan lainnya itu adalah suatu amanah. Suatu ketika tatkala Abu Dzar dikisahkan mengharapkan juga kewenangan dari Rasulullah saw yang dalam bahasa sekarang adalah jabatan maka Rasulullah saw mengingatkan kepada Abu Dzar, ya Aba Dzar innaka dhai’iifun, hai Abu Dzar sesungguhnya kamu itu lemah, yang dimaksud di sini bukan lemah fisik, tapi kamu tidak mampu memikul tanggung jawabnya, jangan kamu memintanya, sebab yang kamu minta ini adalah suatu amanah, yang membuat orang menangis berketerusan, menangis abadi di akhirat kelak kecuali orang-orang yang mampu memikul apa yang menjadi tanggung jawab dalam amanah itu.

Maka di dalam ayat ini Allah memerintahkan janganlah amanah itu dikhianati, janganlah kamu khianati Allah dan Rasul-Nya dan degan janganlah kamu khianati amanah yang telah diberikan kepadamu, termasuk di antaranya adalah jabatan. Dalam hal ini ayat tersebut menginginkan kita melihat jabatan itu adalah amanah, amanah artinya adalah sesuatu yang dipercayakan, siapa yang mempercayakan tidak tanggung-tanggung Allah dan rasulnya karena ada tuntunan Allah untuk memperoleh dan menjalankan amanah itu, dan yang tak kalah penting adalah siapa itu yang mempercayakan itu kepada kita, yaitu yang memilih kita untuk dipimpin yaitu memilih kita untuk memimpin, mereka itulah yang memberikan amanah kepada kita.

Amanah ini ada tiga hal khususnya yang berkaitan dengan amanah jabatan, ketika kita betul-betul memandang sebuah jabatan sebagai sebuah amanah, maka pertama adalah niatnya harus lurus, ikhlas, niatnya harus baik, bahwa kita ingin memperoleh sebagai suatu amanah, hikmat kepada masyarakat seluruhnya, berhikmat kepada seluruh bangsa dan lebih daripada itu kita ingin menjadikannya jalan ibadah kita kepada Allah swt, kita berusaha untuk memperoleh jabatan itu. Jika niatnya demikian insya Allah jika orang yang memperoleh jabatan itu menjadikannya sebagai amanah, tapi belum cukup sampai di situ.

Itu dilihat langkah-langkah apa, cara-cara apa yang dia tempuh dalam rangka memperoleh jabatan itu? apakah langkah dan cara itu dia lakukan sesuai dengan tuntunan Allah swt, tidak ada manipulasi di dalamnya, tidak ada penyele­wengan di dalamnya, pelanggaran hukum di dalamnya, pelanggaran akhlak di dalamnya, kalau dilakukan semua itu dengan sebaik-baiknya insya Allah sudah lengkap syaratnya untuk memperoleh bahwa itu amanah, tapi mana kala terkandung dalam cara ini, digembor-gemborkan bahwa kita telah memperoleh amanah, tapi dalam proses mempe­rolehnya kita telah melakukan pengkhianatan terhadap amanah yang kita ingin raih.

Yang ketiga adalah dalah ketika jabatan sebagai amanah itu akan dilaksanakan, di situ akan dilihat lebih jauh dua hal yang pertama. Berniat dengan ikhlas apakah baik cara yang ditempuh dalam memperoleh amanah itu, itu akan terlihat pada langkah-langkah yang dilakukannya, tidak korup dengan jabatan yang dia miliki. Para ahli mengatakan bahwa ada kecenderungan, kekuasaan itu cenderung untuk korupsi. Insya Allah kalau persepsi, perspektif kita melihatnya jabatan itu sebagai perspektif iman, amanah dan memperolehnya dengan cara yang benar, dan tidak dijalankan untuk hal-hal yang bersifat korup, apa itu yang bersifat korup? Yaitu yang tujuannya bukan untuk memenuhi amanah rakyat, tapi digunakan untuk kepentingan diri sendiri dan hanya untuk kelompok tertentu bukan pada golongan yang lain, tanggung jawabnya sebenarnya sebagai seorang pemimpin. Islam mengajarkan kepada kita ada dosa kepada Allah swt dan ada dosa kepada sesama manusia.

Pemimpin secara sengaja mengambil sebuah kebijakan yang secara nyata merugikan masyarakatnya maka itu nanti akan menjadi berat pertanggung jawabannya di hadapan Allah swt, setiap orang akan menuntut pertanggung jawabannya nanti di padang mahsyar. Inilah yang bisa membangkrutkan seseorang menjadikan dia sebagai seorang yang mukhlis. Sabda Rasulullah saw, sesengguhnya dia banyak amalnya, tapi karena dosa sosialnya begitu banyak kepada sesama manusia, maka amal kebaikannya habis untuk membayar dosa-dosa sosialnya itu, tak lagi ada kebaikan sedikit pun untuk dirinya sendiri sehingga celakalah dia dengan amanah yang telah dia peroleh itu.

Ada ayat di dalam al-Qur’an yang seharusnya menjadi pegangan bagi orang beriman untuk dijadikan sebagai cara pandang, perspentif dalam memandang suatu jabatan, mudah-mudahan dengan membacakan dan memahami kedua ayat ini, apa yang saya bacakan tadi insyaalah yang merasa kecewa jika ada pilihan kita tidak terpilih mari kita kembalikan kepada kebijaksaaan Allah swt, terlalu banyak hal yang tidak kita ketahui yang merupakan hikmah di balik peristiwa itu yang biasanya kemudian baru kita mengetahuinya dan sesudah itu baru kita berkata alhamdulillah memang lebih baik ketika Allah menentukan secara demikian itu. Semoga kita termasuk bangsa yang mendapatkan perlindungan Allah swt, tidak tergolong yang disinyalir oleh Rasulullah saw, ketika membayangkan bahwa ketika masyarakat telah dipenuhi dengan maksiat, maka Allah akan mengirimkan penguasa yang dzalim di antara mereka, mudah-mudahan kita tidak tergolong masyarakat yang seperti itu.

SebelumnyaEkonomi Syariah: Solusi Atau Tantangan Ekonomi Masa Depan/Prof. Dr. H. Arfin Hamid, SH. MH/Al Markaz SesudahnyaNabi Sebagai Rahmatan Lil Alamin/Drs. H. Maskur Yusuf, MA/Al Markaz

Tausiyah Lainnya