Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

KEADILAN PENYEBAB STABILITAS NEGARA/H.M.RUSYDI KHALID/AL MARKAZ/DAKWAH

Terbit 26 Maret 2021 | Oleh : admin | Kategori : CERAMAHceramah jum'atKhutbah jum'atMakalah/Ceramah/Khutbah Jum'at
KEADILAN PENYEBAB STABILITAS NEGARA/H.M.RUSYDI KHALID/AL MARKAZ/DAKWAH

‘IBADALLAH RAHIMAKUMULLAH. JAMAAH JUM’AT YANG DIRAHMATI ALLAH.

Sekarang ini masalah yang paling banyak menjadi topic pembicaraan di negara kita dan juga di bagian dunia lain adalah tentang keadilan . Baik itu keadilan dalam hukum, keadilan dalam kehidupan bernegara, keadilan pemerintah terhadap rakyat, keadilan dalam keluarga, suami terhadap isteri, orang tua pada anak dan seterusnya. Dalam Islam keadilan digambarkan sebagai mizan timbangan yang harus ditegakkan dan jangan dibiarkan terombang ambing. Allah meninggikan langit  dan meletakkan timbangan.Jangan kalian melanggar timbangan. Tegakkan neraca keadilan dan jangan mengurangi timbangan (     وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ (7) أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ (8) وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ (9)  ) s.ar-Rahman.

Keadilan dalam bahasa al-Quran  berasal dari kata ‘adil’ , akar kata  عدل, kata ini makna asalnya adalah  al-istiwa, kesamaan. Secara syar’I yang dimaksud keadilan  adalah sikap tengah antara berlebih-lebihan dengan mengurangi. (al-amr al-mutwassith bayna al-ifrath wa al-tafrith).Atau menyerahkan hak-hak yang wajib dan menyamakan hak-hak mereka yang punya hak.  Sedang orang yang memiliki sifat adil disebut ‘a dil. Menurut Ibn Hazm pengertian terbaik orang adil adalah  yang mengikuti perintah Allah dengan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, tanpa kelewatan dan tidak mengurangi. Allah swt adalah zat yang Maha Rahman , Maha Adil. Ia mewajibkan keadilan pada dirinya dan pada makhluknya  dan mengharamkan kezaliman.  Ayat yang senantiasa dibaca khatib di akhir khutbah  adalah S. an-Nahl :90 :

نَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (90

Ayat ini berisi tiga perintah dan tiga larangan Allah. Perintah melakukan keadilan, ihsan (berbuat baik) dan menyantuni karib kerabat, dan larangan berbuat pelanggaran seksual, kemunkaran dan kezaliman.  Dari ayat ini tergambar betapa keadilan ditempatkan sebagai perintah yang amat utama.  Ini betapa urgen dan pentingnya keadilan ditegagakkan dan betapa mulianya pelaku keadilan yang betul-betul patuh kepada perintah Allah. Sampai- sampai pemimpin yang adil (al-imam al-’adil) oleh Rasulullah SAW  ditempatkan pada posisi pertama yang mendapat keistimewaan di padang mahsyar, hari kiamat, mendapat tempat yang sejuk  dalam naungan Allah. Tujuh golongan akan dinauungi Allah dalam naungan perlindungannya di saat tak ada naungan lain. Yaitu satu “ al-imam al-’adil”. Keadilan merupakan salah satu tujuan diutusnya para nabi dan rasul ke tengah umat manusia sebagaimana firman Allah dalam S. al-Hadid :25:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

Kami mengutus rasul-rasul kami membawa ayat-ayat yang jelas dan Kami turunkan bersama mereka  kitab dan timbanga keadilan agar manusia menegakkan keadilan”.  Keadilan juga menyebabkan Allah mencintai pelakunya.Innallaha yuhibbu al-Muqsithin. ( Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat keadilan ( al-Hujurat :9).     Islam amat menganjurkan keadilan ditegakkan pada semua orang pada orang dekat dan jauh/ asing,  yang kuat dan yang lemah, kaya dan miskin, orang kota dan orang kampung. Semuanya mesti diperlakukan secara adil dalam hukum dan perlakuan.  Adil disamakan dengan al qisth dan al-shirath al- mustaqim seperti pada S .Hud 54-56 : Nabi Hud  menyampaikan bahwa Allah bersifat adil berada pada shirat al- mustaqim yakni membela dan menolongnya kala kaumnya menuduhnya sebagai orang yang tidak waras karena menolak menyembah berhala-berhala yang disembah kaumnya.  Kata al-qisth disebutkan dalam S. Ali ‘Imran 18, bahwa Allah, para malaikat dan para ulama adalah penegak keadilan. Tiada Tuhan kecuali Allah yang Maha perkasa dan bijaksana.

Adil lawannya adalah zalim. Nabi saw tak mau menjadi saksi pada suatu kezaliman walaupun itu hanya sesuatu yang biasa menurut sebagian manusia.  Beliau pernah berkata ittaqullah wa ‘dilu bayna abnaikum “ Bertakwalah kepada Allah dan berbuat adillah pada anak- anakmu.    Hadis dikemukakan Nabi kepada seorang sahabatnya  yang membeda bedakan pemberian pada anaknya. Sahabat ini memberikan pemberian yang banyak pada anak seorang isterinyayang bernama Nu’man bin Basyir. Si isteri tak mau menerima pemberian itu sebelum minta  kesaksian Rasulullah SAW. Rasulullah lalu bertanya apakah semua anakmu juga dapat pemberian yang sama. Si ayah menjawab: tidak. Nabi lalu berkata saya tak mau bersaksi pada sebuah kezaliman.

Pada sabdanya yang lain Nabi menyampaikan bahwa para pejuang dan pelaku keadilan akan mendapat keistimewaan dalam surga pada mimbar mimbar yang bercahaya dengan segala kenikmatannya.

Selain itu, beberapa ulama mensyaratkan keamanan dan kestabilan suatu pemerintahan dapat terjamin  bila di tengah mereka di tegakkan keadilan. Sebaliknya negara dapat hancur  bila yang bersimaharalela adalah kezaliman dan ketidak adilan.   Al Imam Ibnu Taymiyah sampai menegaskan :    اللهينصر الدولة العادلة و إن كانت كافرة

Allah menolong Negara yang adil sekalipun negara kafir.

ولاينصر الدولة الظالمة وإن كانت مؤمنة

DaN  ALLAH TIDAK MENOLONG NEGARA YANG ZALIM SEKALIPUN NEGARA ITU MU’MIN.

Umar bin Abdul aziz berkata :

أذادعتك قدرتك على ظلم الناس فاذكر قدرة الله تعالى عليك  ونفاد ما تأتى إليهم وبقاء ما يأتون إليك

Apabila kekuasaamu mendorongmu untuk menzalimi manusia maka ingatlah kekuasaan Allah terhadapmu  dn hilangnya apa yang kamu datangkan pada mereka dan kekalnya  ap yang mereka dtangkan padamu.

Barakallah al-  Azhim wa nafaani wa iyyakum bima fihi min al-ayati wa –dzikr al- hakim

SebelumnyaREVITALISASI MAKNA ISRA MI’RAJ DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA/KASJIM SALENDA/AL MARKAZ DAKWAH SesudahnyaDR. H. Amirullah Amri, MA/Islam dan Ajarannya ( Ta’abbudi dan Ta’aqquli)/Al Markaz Dakwah

Tausiyah Lainnya