Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

Kepemimpinan Dan Kemelut Dunia Islam/Prof. Dr. H. Basri Hasanuddin/Al Markaz

Terbit 13 September 2019 | Oleh : admin | Kategori : Makalah/Ceramah/Pengajian
Kepemimpinan Dan Kemelut Dunia Islam/Prof. Dr. H. Basri Hasanuddin/Al Markaz

Akar permasalahan di dunia Islam pasca Kolonialisme Barat adalah kegagalan para pemerintah di negara-negara Muslim yang baru merdeka itu dalam memanfaatkan kekuasaan yang mereka miliki bagi kesejahteraan masyarakat dan membangkitkan kembali harga diri umat Islam. Tentu saja tiap negara yang baru merdeka itu menghadapi kenyataan dan pengalaman yang berbeda dalam mengelola negara yang diwariskan oleh pemerintah kolonial.

Pemimpin-pemimpin baru yang kebanyakan menjalani pendidikan Barat kemudian meneruskan format kenegaraan yang ditinggalkan oleh penjajah dari pada menggantinya menurut jalan yang dikehendaki oleh Islam. Bahkan seperti dikemukakan oleh Esposito, pemerintah baru pasca kolonial itu pada hakekatnya meneruskan format bernegara ala pemerintah Kolonial (perpetuating the attitude of colonial power).

Pemerintah di Dunia Islam pasca pemerintahan kolonial berpendapat bahwa hukum Islam tidak compatible dengan kelembagaan hukum Barat dan kemudian terjadi jarak antara yang memerintah baru dan rakyat yang diperintah, fenomena yang yang dialami pada masa penjajahan. Kegagalan pemerintah di Dunia Islam pascakolonialisme Barat, mendorong bangkitanya ideologi Islamism yang menolak praktek pemerintahan ala Barat yang dipertontonkan oleh pemimpin-pemimpin pemerintahan barupa scakolonialisme Barat .

Ideologi Islamism seperti Persaudaraan Muslim, Jamaah Islamiah dan lain-lain di berbagai Dunia Islam mencanangkan keinginan untuk kembali kepada hukum Islam (Shariah) dan selanjutnya merebut kembali kejayaan Islam yang pernah ada tetapi telah dihancurkan oleh imprialisme Barat.

Akhbar Ahmad, membagi kepemimpinan di Dunia Islam dalam empat kategori: para raja yang memimpin kerajaan-kerajaan, para dictator militer, pemimpin demokrat dan pimpinan oleh para ulama atau mullah. Kegagalan dari hampir semua pemimpin dengan kategori seperti dikemukakan di atas, menimbulkan munculnya gerakan-gerakan yang lebih populis dan agresif yang dikenal sebagai pemimpin-pemimpin Islamis yang berjuang dan bercita-cita menumbangkan kekuasaan yang ada. Pemimpin-pemimpin yang radikal ini muncul antara lain di Aljazair, Mesir dan Pakistan.

Dalam pada itu, para pemimpin radikal yang disebutkan di atas, berhadapan dengan penguasa di negara-negara Arab yang korup, yang sebagiannya mendapat dukungan dari Barat menimbulkan persoalan politik dan kebudayaan diberbagai negara di Dunia Arab. Karena dukungan Barat atas pemetintah yang menurut kelompo kradikal ini tidak berpihak kepada rakyat, makaorganisasi-organisasi radikal ini kemudian menetapkanDunia Barat khususnya Amerika Serikat sebagai musuh.

Mari kita lihat gambaran dari pemimpin-pemimpin elit di Dunia Islam itu. Yang pertama dari 4 kategori itu adalah pemerintahan kerajaan dengan Saudi Arabia sebagaiikonnya. Kerajaan Saudi Arabia memerintah dengan konsep Wahabi. Di negara-negara dalam kategori kerajaan yang disebutkan di atas, suku-suku bangsa atau tribe adalah merupakan penopang struktur kenegaraan.

 Karena itu suku bangsa yang dominan sekaligus juga men­jadi penguasa negara, pejabat-penjabat tinggi negara, dan juga sebagai pengusaha. Kerajaan Saudi Arabia dan beberapa negara teluk lainnya adalah merupakan contoh dari kategori ini, Bahkan pemerintahan para dictator muliter juga didasarkan pada system kesukuan ini. Saddam Hussein sebelum diturunkan dari tahta kekuasaan lebih banyak memberikan peranan bagi kelompoknya sendiri ( kaum Sunni dan Baath) dalam pemerintahan dan Angkatan Bersenjata Iraq dan memarjinalkan kelopok Shiah. Demikian juga mantan Presiden Haffez Assad juga banyak memberikan peranan kenegaraan atas dasar kaitan kesukuan.

Pemimpin kategori kedua adalah pemimpin negara-negara dengan ideologi Komunis/sosialis (Iraq dan Syria) yang punya cita-cita membangun negara yang berfokus pada kepentingan rakyat. Dalam kenyataannya cita-cita para pemimpin itu hanya bersifat retorika saja dan sama sekali jauh dari kenyataan. Tindakan-tindakan represif yang dilakukan oleh pemerintah terhadap penduduk melalui Polisi Rahasia yang mereka ciptakan menjadi pengalaman buruk negara-negara tersebut.

Pemimpin kategori ketiga adala hnegara-negara demo­krasi ( Mesir, Pakistas, Turkidan Bangladesh) dimana pemili­han umum diselenggarakan secara teratur meskipun dalam masa-masa kritis undang-undang keadaan darurat langsung dicanangkan oleh pemerintah. Tentangpemimpn-pemimpin kategori ini Akhmad Akber melukiskan sebagai stories of corruption, mismanagement and the collapse of law and order ( A.Akbar; 112).

Pemimpin-pemimpin kategori ini juga digambarkan sangat pandai mengeksploitasi kekhawatiran Barat tentang Muslim fundamentalis, dalam rangka membangkitkan dukungan Barat atas rezim mereka.

Pemimpin kelompok keempat adalah pemerintah oleh ulama atau mullah. Pemimpin kategori keempat ini ber­tujuan menerapkan syariat Islam dalam tata kehidupan masyarakat. Kelompok Taliban di Afghanistan berhasil menun­dukkan pemerintah pendudukan Rusia . Di negara-negara Muslim lainnya seperti di Aljazair, Mesir dan Pakistan juga muncul kelompok-kelompok radikal Islam yang ingin menunmbangkan kekuasaan yang ada.

Pada awalnya kelompok-kelompok radikal Islam ini maupun partai-partai Islam yang muncul kemudian kurang mendapat simpati masyarakat, seperti dari rendahnya Perolehan suara dalam Pemilihan Umum dari hampir semua partai –partai Islam di negara-negara yang disebutkan di atas. Partai Jamaat- Islami di Pakistan dalam setiap pemilihan umum tidak pernah mendapatkan perolehan suara yang signifikan dalam setiap Pemilihan Umum.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah :Mengapa kelompok-kelompok radikal Islam itu kemudian memaling­kan perlawananan mereka terhadap Barat khususnya AmerikaSerikat? Ben Wedeman, Kepala Biro CNN di Kairo menyatakan banwa aksi-aksi terror dari kelompok Islam radikal kemudian menetapkan Amerika Serikat sebagai sasaran aksi antara lain disebabkan oleh karena dukungan Amerika Serikat terhadap apa yang disebutya friendly rulers di Timur Tengah yang berusaha mempertahankan kekuasaan mereka dengan mengabaikan pelaksanaan HAM di negara-negara tersebut.

Bahkan terbukti kemudian pemerintahan-pemerintahan tersebut bukan saja gagal menciptakan kesejahteraan masya­rakat tetapi juga semakin sangat represif terhadap rakyat.

Kegagalan kepemimpinan Dunia Islam pada umumnya dan Dunia Arab pada khususnya mencapai puncaknya ketika terjadi Perang Teluk yang diawali oleh penyerbuan Iraq ke Kuwait dan kemudian menduduki negeri itu. Perang Teluk Persia bukan saja menyebabkan Amerika Serikat terlibat langsung dalam politk dalam negeri di Dunia Arab, tetapi lebih dari itu Amerika Serikat telah menjadi kekuatan Dunia yang sangat dominan di Kawasan Timur Tengah.

 Dalam pada itu negara-negara Arab menja diterpecah belah. Sejumlah negara Arab berkoalisi dengan Amerika Serikat dalam melawan invasi Iraq ke Kuwait dalam pelak­sanaan doktrin Pax Americana. Amerika Serikat terhadap koalisinya di Dunia Arab terlepas dari latar bela­kang pemerin­tahannnya yang mungkin korup dan represif terhadap rakyat mendapat julukan dari Barat sebagai negara-negara moderat dan menerima sikap bersahabat yang hangat dari Amerika Serikat. Realitas baru di Dunia Arab mendorong kelompok-kelompok radikal kemudian mengalihkan sasaran aksi-aksi radikal mereka kesasaran atau musuh baru yaitu Amerika Serikat.

Amarika Serikat menurut kelompok Muslim Radikal ini telah mesuk kejantung Dunia Arab dan telah menjadi ultimate king maker dikawasan itu. Menurut kelompok radikal ini apa yang dilakukan oleh negara-negara Arab yang berkoalisi dengan Amerika Serikat itu, telah sangat memalukan bangsa Arab. Kehadiran secara fisik pasukan Amerika Serikat di Saudi Arabia sangat ditentang oleh pimpinan kelompo kradikal Oshama bin Laden.

 Menurutnya untuk kembali kepada ajaran Islam yang benar kawasan tersebut harus dibersihkan dari kehadiran pasukan Amerika Serikat. Untuk membersihkan Dunia Arab dari apa yang disebutnya sebagai apostasy, maka langkah awal yang dilakukan kelompok radikal ini adalah menyatakan perang terhadap Amerika Serikat.

 Aksi-aksi terorisme kelompok bin Laden terus berlang­sung dengan kepentingan Amerika Serikat sebagai sasaran. Pada September 1995 terjadi serangan bom di Riyadh dan serangan terhadap menara Khobar di Dhahran Suudi Arabia pada bulan Juni 1996, pemboman terhadap Kedutaan Amerika Serikat di Tanzania dan Kenya pada tahun 1998 dan serangan terhadap Kapal USS Cole di Yaman pada bulan Oktober 2000. Puncak dari aksi-aksi terror oleh kelompok Radikal Muslim tersebuta dalah serangan bom terhadap World Trade Center dan Gedung Pentagon di Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001.

Itulah sekelumit persoalan yang terjadi di Dunia Islam khususnya di Dunia Arab yang pada hakekatnya bersumber dari kegagalan pemimpin-pemimpin di negara-negara Arab dalam menciptakan kemajuan dan kesejahteraan. Dunia Islam khususnya Dunia Arab hingga saat ini terus dilanda perpecahan dan perang saudara yang sulit dibayangkan kapan berakhirnya.

SebelumnyaHidup Di Bawah Naungan Syariah/AGH. Wahab Zakariya, MA./ Al Markaz SesudahnyaMukmin Yang Profesional/Prof. Dr. H. Rusydi Khalid, MA./Al Markaz

Tausiyah Lainnya