Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

Manfaat dari fenomena gerhana matahari / Al Markaz

Terbit 26 Desember 2019 | Oleh : admin | Kategori : CERAMAHCeramah DhuhurCeramah dhuhurMakalah/Ceramah/Ceramah Dhuhur
Manfaat dari fenomena gerhana matahari / Al Markaz

MENJADI MANUSIA BERMANFAAT
Oleh : Dr. H.M. Ishaq Shamad, MA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى وَحَّدَ هٰذِهِ اْلأُمَّةَ بِالتَّوْحِيْدِ وَاْلإِيْمَانِ وَالْعَقِيْدَةِ .
اَشْهَدُ أَنْ لاَ إلٰه إِلاَّ اللهُ . وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ . اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰٰى يَوْمِ الدِّيْنِ، اَمَّا بَعْدُ.
فَيَا عِبَادَ اللهِ ، إِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ . قَالَ اللهُ تَعَالٰى :

….
(QS. Al-Hujarat: 11)
صَدَقَ اللهُ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمِ

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Dialah yang memberikan berbagai nikmat kepada kita, nikmat lahiriah dan bathiniah, terutama, terutama atas hidayahNya, sehingga kita masih beriman kepadaNya. Teristemewa pada hari ini kita dapat melaksanakan shalat gerhana Matahari.
Tema khutbah kita hari ini adalah “Menjadi Manusia yang Bermanfaat” Kenapa tema ini penting? Rasulullah bersabda, “ Khaiyrunnaas Amfa’uhum Lin Naas” yang artinya “Manusia terbaik adalah yang paling banyak manfaatnya kepada sesama manusia”. Selain itu, sebagai wujud pengabdian kepada Allah Swt, atas peristiwa alam, gerhana matahari. Allah berfirman:

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS Yunus:5).”
Jamaah Rahimakumullah,

Rasulullah SAW hanya sekali melaksanakan shalat gerhana matahari. Itu terjadi pada 27 Januari 632, awal Dzuqaidah 10 H, empat bulan sebelum Rasulullah SAW wafat. Saat itu terjadi gerhana matahari cincin yang melintasi bagian selatan Jazirah Arab. Di Madinah hanya terjadi gerhana matahari sebagian dengan kegelapan 77 persen.
Bayangkan suasana pagi itu di Madinah. Putra Rasulullah yang bernama Ibrahim wafat. Beberapa saat setelah matahari terbit mulailah terjadi gerhana.

Di dalam hadits Abu Burdah dari Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu, dikisahkan peristiwa gerhana di Madinah:“Ketika terjadi gerhana matahari, Nabi SAW langsung berdiri terkejut dan merasa ketakutan kiamat akan datang. Beliau pergi ke masjid dan melakukan sholat yang panjang berdiri, ruku’, dan sujudnya.
Setelah itu Nabi bersabda, “Gerhana ini adalah tanda-tanda dari Allah, bukan disebabkan karena kematian atau kelahiran seseorang. Namun gerhana ini terjadi supaya Allah menakuti hamba-hamba-Nya.
Apabila kalian melihat sesuatu dari gerhana, maka takutlah dan bersegeralah berdzikir kepada Allah, berdoa, dan memohon ampunan-Nya.” (Muttafaq ‘Alaihi)
Rasullah SAW mengajarkan tauhid, tidak mengaitkan fenomena gerhana dengan mitos. Gerhana bukan karena kematian atau kelahiran seseorang. Bukan pula karena matahari dimakan raksasa atau makhluk yang tak masuk akal.
Gerhana adalah tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah-lah yang mencipkan matahari dan bulan sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya. Setelah ilmu astronomi berkembang, diketahui bahwa gerhana matahari adalah bagian dari keteraturan sistem matahari-bulan-bumi. Bulan mengitari bumi, sementara bumi bersama bulan mengitari matahari.

Kaum Muslimin Rahimakumulah,
Untuk menjadi manusia yang bermanfaat, setidaknya ada lima hal yang perlu dilakukan, yakni:
Hidup adalah perjuangan. Dan yang namanya perjuangan sangat dekat dengan pengorbanan. Tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan. Para pahlawan, pejuang sejati adalah mereka yang paling banyak berkorban. Sedangkan pengorbanan identik dengan kesulitan, kesusahan, serta ketidaknyamanan. Dengan demikian, siapa pun yang hidup pasti akan berhadapan dengan aneka kesulitan dan kesusahan. Dengan kata lain, manusia yang hidup akan dihadapkan pada beragam ujian.
Saudaraku, sesungguhnya manusia itu teramat lemah. Ia tak kuasa bergerak, kecuali atas izin dan kehendak Allah. Kita pun tidak akan sanggup menghadapi beratnya ujian hidup tanpa bergantung kepada Dzat yang menguasai setiap kesulitan. Semakin kita bergantung kepada-Nya, insya Allah hidup kita akan semakin mudah.
Allah SWT berjanji, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya.” (QS Ath Thalaaq [65]: 2-3).
Menurut ayat ini, agar urusan kita dipermudah, agar hidup kita lapang, ternyata syaratnya hanya satu, yaitu takwa. Hanya dengan takwalah pintu-pintu pertolongan Allah akan terbuka lebar. Sumber-sumber kebahagiaan akan mudah kita raih. Mudah memang mengucapkan kata takwa, namun aplikasinya tidak semudah yang dibayangkan.
Sesungguhnya, takwa itu luas cakupannya. Bersungguh-sungguh untuk taat kepada-Nya termasuk salah satu makna takwa. Ada satu rumus agar kita bisa dekat dengan Allah, sekaligus meraih cinta-Nya. Kita sebuat “Rumus 5 AT”.
Pertama, tekad yang sangat kuAT untuk meraih ridha Allah. Tekad jangan sekadar “kuat”, tapi harus “sangat kuat”. Jadikanlah Allah sebagai tujuan tertinggi hidup kita. Semua yang kita lakukan, bekerja, belajar, berumah tangga, dsb pastikan hanya untuk Allah semata. Apa pun risikonya.Bukankah di dalam do’a iftitah selalu kita baca “ Inna Shalaatiy Wanusukiy Wamahyaa ya wama maatiy lillaahi rabbil ‘aalamiyn” (Sesungguhnya Shalatku, ibadahku, segala urusanku bahkan hidup dan matiku semuanya untuk Allah Semata).
Kedua, perbanyak tobAT. Sungguh, Allah teramat “gembira” melihat hamba-hamba yang betobat. Menurut Rasulullah SAW kegembiraan Allah melebihi kegembiraan seorang musafir yang menemukan kembali unta serta seluruh perbekalannya yang sempat hilang. Maka perbanyaklah tobat, basahi lisan kita dengan istighfar, tangisi dosa-dosa yang pernah kita lakukan, serta tanamkan dalam hati kebencian untuk melakukan dosa serupa. Tidak ada manusia yang tidak ada dosanya, jangankan manusia awam, Nabi Adam saja, bersalah ketika melanggar perintah Allah Swt di Syurga. Namun ia cepat bertaubat.
Ketiga, jauhi maksiAT. Maksiat adalah hijab tebal yang akan menghalangi pertolongan Allah. Maksiat hanya akan terjadi bila ada niat dan kesempatan. Maka kendalikan hati sejak dari lintasan-lintasan buruk. Tutup sekecil apa pun peluang berbuat maksiat. Kendalikan mata, telinga dan lisan dari yang diharamkan. Jaga pergaulan dan pikiran dengan selektif memilih kawan dan bahan bacaan. Insya Allah, semakin kita bersungguh-sungguh menjaga diri dari maksiat, Allah akan mengaruniakan manisnya iman dan nikmatnya ibadah.
Keempat, perkuat taAT. Setelah membersihan diri dengan tobat, menjaganya dari maksiat, maka perindahlah ia dengan taat. Pastikan program ACM (Aku Cinta masjid), ACQ (Aku Cinta Quran), ACT (Aku Cinta Tahajud) dan ACS (Aku Cinta Sedekah/Shaum) menjadi program harian kita. Lakukan kebaikan di mana pun dan kapan pun. Berjuanglah mati-matian untuk menjadi ahli ibadah yang tangguh lagi ikhlas.
Kelima, tebarkan manfaAT. Menurut Nabi SAW sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Tidak inginkah kita menjadi hamba terbaik dalam pandangan Allah? Jika ingin, tebarkanlah sebanyak mungkin kebaikan. Kebaikan adalah tabungan. Semakin banyak kita melakukan kebaikan, hakikatnya semakin banyak pula tabungan kita di sisi Allah. Andai belum bisa melakukan hal-hal besar, lakukanlah hal-hal yang kita anggap kecil. Memungut sampah, mengongkosi orang, menyeberangkan orangtua, dsb. Pokoknya, tiada hari tanpa berbuat kebaikan. Siapa pun yang gemar menebarkan kebaikan, maka ia akan dicintai Allah dan disayangi manusia.
Jika kita konsisten mengamalkan 5 AT ini, hidup akan lebih bermakna, cinta kasih serta pertolongan Allah pun akan selalu menyertai gerak langkah kita. Insya Allah, sehingga kita meninggalkan dunia ini dikenang sebagai orang yang baik dan meninggalkan nama baik yang akan selalu dikenang sepanjang masa.

اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ سَلاَمَةً فِى الدِّيْنِ وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ

بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ . وَنَفَعْنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَا فَيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ . وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ .

Wabillahi Taufiq Wal-Hidayah.
Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwamittahriyq
Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

SebelumnyaMENGUKUR KUALIFIKASI IBADAH/Aswar Hasan/Al Markaz SesudahnyaHIKMAH DIBALIK MUSIBAH/Aswar Hasan/Al Markaz

Tausiyah Lainnya