Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

MASJID AL-MARKAZ MAKASSAR Khutbah Jumat 13 Desember 2019

Terbit 13 Desember 2019 | Oleh : admin | Kategori : CERAMAHceramah jum'atMakalah CeramahMakalah/Ceramah/Pengajian
MASJID AL-MARKAZ MAKASSAR Khutbah Jumat 13 Desember 2019

MASJID AL-MARKAZ MAKASSAR
Khutbah Jumat
13 Desember 2019

SIFAT PEMAAF

الحمد لله رب العا لمين نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا
من يهد الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادى له
أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له و أشهد أن محمدا عبده ورسوله. اللهم صل و سلم على سيدنا محمد وعلى اله واصحابه ومن تبعه الى يوم الدين .
اما بعد فيا عباد الله اوصيكم ونفسي بتقوى الله و طاعته لعلكم تفلحون.
قال الله تعالى في القرأن الكريم ياايها الذين امنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون.

Kaum Muslimin, Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita melaksanakan ibadah pada hari Jumat yang penuh berkah ini dengan khusyuk. Mari kita merenungkan firman Allah Swt. dan sabda Rasulullah Muhammad Saw. yang disampaikan melalui mimbar yang mulia ini. Mudah-mudah ibadah kita diterima oleh Allah Swt., dosa kita diampuni, dan doa kita dikabulkan. Semoga iman dan takwa kita meningkat.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Allah Swt. mempunyai nama-nama yang terbaik (al-Asmaa al-Husnaa). Salah satu di antaranya, seperti dijelaskan dalam hadis Rasulullah Saw. adalah al-‘Afuww (Maha Pemaaf). Nama yang mencerminkan sifat Allah tersebut perlu dikaji dan senantiasa dikaji. Harapannya, agar makna yang terkandung di dalamnya dijadikan pedoman di dalam rangka memelihara hablun minallah (hubungan dengan Allah) dan hablun minan naas (hubungan dengan sesama manusia).
Dalam konteks hablun minallah, nama-nama Allah dapat dipakai untuk berzikir dan berdoa kepada-Nya. Ini sesuai dengan firman Allah Swt. yang menyatakan:
وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ
Artinya: Dan Allah mempunyai al-Asmaa al-Husnaa (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu (Al-A‘raf/7: 180).
Zikir dengan membaca al-Asmaa al-Husnaa sudah lazim diamalkan oleh umat Islam, baik sendiri-sendiri maupun berkelompok. Doa yang memuat satu atau lebih dari al-Asmaa al-Husnaa juga lazim diamalkan. Lafaz doa yang masyhur, antara lain: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘annaa (Ya Allah; Engkau Maha Pemaaf; Engkau suka memaafkan; karenanya, maafkanlah kami).
Al-‘Afuww dari segi bahasa berarti ‘banyak memberi maaf’. Menurut Imam Al-Gazali, al-‘Afuww mengandung arti Dia yang menghapuskan dosa-dosa dan mengabaikan tindakan-tindakan durhaka hamba-Nya (1996: 172). Ini mencerminkan betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Sejalan dengan pengertian itu, Sayid Sabiq dalam buku Aqidah Islam menjelaskan bahwa al-‘Afuww termasuk ke dalam kategori nama-nama yang berhubungan dengan kecintaan dan kasih sayang Allah Swt. (1986: 48).
Sifat Allah Swt. Yang Maha Pemaaf (al-‘Afuww) disebut secara tegas di dalam Al-Qur’an. Di antaranya:

إِن تُبۡدُواْ خَيۡرًا أَوۡ تُخۡفُوهُ أَوۡ تَعۡفُواْ عَن سُوٓءٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَفُوّٗا قَدِيرًا ١٤٩

Artinya: Jika kamu menyatakan sesuatu kebajikan, menyembunyikannya atau memaafkan suatu kesalahan (orang lain), maka sungguh Allah Maha Pemaaf, Mahakuasa (an-Nisa’/4: 149).
Ayat 149 dari surah an-Nisa’ menyatakan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pemaaf. Sifat ini digandengakan dengan sifat Mahakuasa. Letaknya di akhir ayat. Ungkapan ini memberi dorongan agar orang beriman meniru sifat Allah tersebut dengan memiliki sifat pemaaf, walaupun sesunguhnya ia mampu untuk membalas ucapan dan perlakuan yang tidak pantas yang ditujukan kepadanya. Dengan demikian, pemahaman dan penghayatan Muslim terhadap sifat Allah Yang Maha Pemaaf menimbulkan pengaruh yang baik terhadap hubungan Muslim dengan sesama manusia (hablun minan naas).
Al-Qur’an juga menjelaskan sifat Pemaaf dari Allah Swt. dengan menggunakan kata kerja ‘memaafkan’. Di antaranya, Allah Swt. berfirman, yang artinya, Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan (Asy-Syuuraa/42: 25).
Selanjutnya, dengan memahami sifat Allah Yang Maha Pemaaf, orang-orang beriman berusaha meraih penghapusan atas dosa-dosanya oleh Allah Swt. dengan penuh pengharapan. Harapan itu diusahakan dengan mengamalkan doa yang diajarkan di dalam Al-Qur’an. Di antaranya:
وَٱعۡفُ عَنَّا وَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَآۚ أَنتَ مَوۡلَىٰنَا فَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٢٨٦
Doa ini adalah bagian dari ayat 286 surah Al-Baqarah. Ini akhir surah. Arti doa, Dan maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir (Al-Baqarah/2: 286). Lafaz doa ini mengandung beberapa harapan yang perlu dijelaskan. Di antaranya: (1) wa’fu ‘annaa agar kesalahan dihapuskan oleh Allah Swt, (2) wagfir lanaa, agar kesalahan ditutupi, dan (3) warhamnaa, agar orang-orang yang berdoa diberi rahmat, dalam arti kebaikan yang lebih luas cakupannya.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Hablun minallah harus dipelihara. Demikian pula hablun minan nas. Kedua aspek itu terdapat pada diri orang-orang yang bertakwa. Takwa merupakan tujuan dari ibadah di dalam Islam. Derajat ini harus diusahakan setiap Muslim. Di samping itu, sifat pemaaf terhadap sesama manusia menjadi salah satu tanda dari orang-orang yang bertakwa.
Di dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa surga disiapkan bagi orang-orang yang bertakwa (Ali ‘Imran/3: 133). Sebagian dari sifat-sifat orang yang bertkwa dijelaskan pada ayat berikutnya, yakni:
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٣٤
Artinya: (yaitu) orang-orang yang berinfak pada waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. (Ali ‘Imran/3: 134)
Ayat ini menjadi landasan, agar setiap Muslim berusaha memiliki sifat pemaaf. Setiap Muslim perlu berusaha masuk ke dalam kategori al-‘aafiina ‘anin nas (orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain). Dalam ayat itu disebutkan dua sifat secara berurutan, yaitu (1) ‘menahan amarah’ kemudian (2) ‘memaafkan kesalahan’. Urutan ini, menurut ahli tafsir, mengandung arti bahwa memaafkan kesalahan orang lain menempati kedudukan yang lebih tinggi dari menahan amarah. Dikatakan bahwa seorang yang memaafkan orang lain berarti menghapus bekas luka di hatinya akibat kesalahan yang dilakukan orang lain terhadapnya. Demikian dijelaskan dalam Tafsir Al-Misbah (2007, II: 637).
Wallahu yuhibbul muhsinin (dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan). Ungkapan ini menjadi penutup ayat 134 dari surah Ali ‘Imran. Ini memberi isyarat bahwa ‘menahan amarah’ itu termasuk ihsan (perbuatan yang baik atau terbaik). ‘Memaafkan kesalahan’ orang lain juga masuk kategori ihsan. Ungkapan ini memberi dorongan agar umat Islam senantiasa berbuat yang terbaik. Di antaranya, membalas tindakan buruk orang lain dengan kebaikan. Hal yang demikian itu diperintahkan oleh Rasulullah Saw. Ahsin ilaa man asaa’a ilaika.
Berbuat baik dianjurkan untuk ditingkatkan. Itu dapat dilakukan antara lain: dengan (1) memaafkan dan berlapang dada (an-Nur/24: 22); (2) memaafkan dan berdoa untuk kebaikan orang yang diberi maaf (Ali ‘Imran/3: 159); dan (3) berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat (Asy-Syuuraa/42: 40).
Sebagai bagian akhir dari uraian ini, mari kita bersama-sama mencermati firman Allah Swt. yang menyatakan:
وَجَزَٰٓؤُاْ سَيِّئَةٖ سَيِّئَةٞ مِّثۡلُهَاۖ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ ٤٠
Artinya: Dan balasan atas suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat), maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang berbuat zalim (Asy-Syuuraa/42: 40).
Ayat ini memberi motivasi kepada umat Islam untuk bebubuat baik dan melakukan perbaikan. Upaya-upaya rekonsiliasi di atara pihak-pihak yang bertikai, mendamaikan orang-orang yang berselisih di dalam masyarakat merupakan tindakan yang sangat berharga dan diperlukan. Semoga kita semua bisa mengambil bagian di dalam upaya demikian.
Baarakallahu lii wa lakukm fil qur’anil ‘azhiim wa nafa‘nii wa iyyaakum bimaa fiihi minal aayaati wadz-dzikril hakiim. Aquulu qaulii haadzaa wa astagfirullah lii wa lakum fastagfuruuhu innahuu huwal gafuurur rahiim.
____

Makassar, 12 Desember 2019
Prof. Dr. H.M. Hamdar Arraiyyah, M.Ag.

SebelumnyaBahaya Gibah dan Fitnah/Muhammad Agus, M.Th.I./Al Markaz SesudahnyaProf. Dr. H.M. Hamdar Arraiyyah, M.Ag./Pemaaf/Khutbah Jum'at

Tausiyah Lainnya