Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

Masjid Sumber Kekuatan Islam/H. Arifin Ilham/Al Markaz

Terbit 13 September 2019 | Oleh : admin | Kategori : Makalah/Ceramah/Pengajian
Masjid Sumber Kekuatan Islam/H. Arifin Ilham/Al Markaz

Tiada sikap yang lebih baik dan mulia sebagai hamba Allah yang bertauhid, cepat atau lambat pasti berjumpa dengan-Nya, kecuali langkah takwa menyertainya di mana pun, kapan pun dan di dalam situasi apapun.

Ketika Rasulullah saw. hijrah ke Madinah, yang pertama sekali beliau bangun adalah masjid maka sejarah mencatat infrastruktur negara Madinah sebagai negara beradab, politik, ekonomi, sosial, budaya, bahkan militer dimulai dari masjid. Maka masjid menjadi sumber kekuatan umat Islam yang membawa kemenangan.

Orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang senantiasa berada di rumah Allah. Mereka sangat mencintai rumah Allah, حركته بركة karena itulah aktivitas harakah, gerakan orang-orang mukmin itu diberkahi oleh Allah karena mereka senantiasa berada di rumah Allah sehingga mereka meng-akses hidayah, rahmat, berkah Allah jalla jalaalun. Mereka tidak meninggalkan berjamaah. Karena itulah hati mereka dihimpun oleh Allah dan mereka mau bersama-sama memenuhi panggilan Allah. Masjid adalah baitullah,

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ

Di rumah-rumah Allah itulah kita diperintahkan memperhebat dzikir kepada-Nya. Allah menyebutnya dengan buyuut jamak dari bait, rumah. Masjid disebut dengan rumah, rumah Allah jalla jalaalun.

Dalam hadis Qudsi Allah swt berfirman,

“ بيتي فى الأرض المساجد“, rumahku di muka bumi ini adalah masjid, “ “أحبابى عماربيتى. Para kekasihku adalah mereka yang senang memakmurkan masjid, dari membangunnya, merawatnya, menghidupkannya dengan aktivitas dakwah, merekalah para kekasih Allah

من أراد أن يزورنى فليزوروا بيتى

Siapa yang ingin berjumpa denganku hendaklah ia datang ke rumahku. Waajibun ‘alaa musawwir ayyukrimaa zaairahu, wajib bagi tuan rumah menghormati para tamu-tamunya. الله أكبر ولله الحمد. Allah muliakan mereka yang senang berada di masjid, mereka para kekasih Allah, mereka tamu-tamu Allah karena itulah orang-orang beriman tahu persis bahwa adzan bukan panggilan muadzdzin tapi undangan Allah Jalla jalaalun. Karena itulah yang dipanggil hamba-hamba Allah yang bersyahaadah. Allahu akbar Allahu akbar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, maka tidak ada kesibukan kepentingan saat itu melainkan hanya untuk memuliakan, mengagungkan Allah Jalla Jalaalun. Serta merta orang beriman itu menuju panggilan Allah Jalla Jalaalun. Yang dipanggil yang bersyahaadah asyhadu alla ilaaha illallah, asyhadu annamuhammadarrasuulullah. Yang bersaksi tuhannya Allah, yang bersaksi Nabinya Muhammad saw. Hayya ‘alashshalaah, mari shalat. Hayya ‘alal falaah, mari menuju kemenangan. Yang dipanggil yang bersyahaadah. Orang kafir, musyrik, fasik, munafik, mereka tidak dipanggil, tapi yang dipanggil adalah mereka yang bersyahaadah.

Hamba-hamba Allah yang beriman menuju rumah Allah, rijaalun yuhibbuuna ayyatathakhkharuun, wallahu yuhibbul muttakhiriin. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang menyukai kesucian, menuju tempat suci, karena itulah mereka disucikan Allah Jalla Jalaalun. Setiap kaki kanannya menuju rumah Allah, mereka mendapat rahmat Allah, setiap kaki kiri yang mereka langkahkan, nughfirah, mereka mendapat ampunan dosa, Tuuba! Tuuba! Tuuba! Bahagia! Beruntung! Gembira! Siapa yaa, rasuulullah? Mereka yang jauh rumahnya dari masjid tapi tetap berjamaah di masjid. Allahu akbar walillahil hamd. Karena itu Allah Jalla Jalaalun menegaskan dalam surah at-taubah ayat 18, dengarkan dengan iman,

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآَتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya hanya –kata hanya– pengecualian, sangat spesial! Hanya hamba Allah yang benar-benar beriman kepada Allah, yang benar-benar beriman pada hari akhirat, merekalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah, yang benar imannya, yang imannya benar! Bukan Islam keturunan, bukan Islam KTP, bukan Islam pengakuan, tapi benar-benar beriman, benar-benar Islam! Merekalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah. Mereka menegakkan shalat, mereka tunaikan zakat, mereka tidak takut pada siapa pun dan merekalah yang mendapat hidayah iman dari Allah Jalla Jalaalun.

Karena itu sangat mudah menjumpai orang-orang yang beriman itu. Setiap lima waktu shubuh, duhur, ashar, mahgrib, isyaa, mereka dapat kita jumpai di rumah Allah. Karena mereka mendapat hidayah iman walau rumahnya jauh dari masjid, walau gelap subuh-subuh, dingin-dingin, hujan turun. Karena orang beriman mendapat hidayah, ia akan tetap berjamaah subuh di masjid. Tapi kalau tidak mendapat hidayah iman, walau rumahnya dekat dengan masjid, tidak ada aral melintang tetap ia tidak berjamaah di masjid. Illaa min ibaadihil musthafaa, kecuali hamba yang dipilih untuk mendapat hidayah iman itu. Dalam buku Among Nation ukuran kekuatan politik umat Islam dari masjid. Jika jamaah shubuh umat Islam tidak sebanyak jamaah Jum’atnya, we can sleep forever, kita dapat tidur dengan lelap. Tetapi jika jamaah shubuh umat Islam sudah sebanyak jamaah Jum’atnya itu tanda badai kebangkitan umat Islam. Dan lihatlah sekarang di negeri Indonesia, mayoritas umat Islam, tetapi saat adzan subuh berkumandang minoritas yang beriman.

Pantaslah negeri Indonesia ini mengalami krisis berkah, karena meninggalkan Allah, meninggalkan rumah Allah, tidak peduli dengan panggilan Allah Jalla Jalaalun. Bukankah mereka yang dipanggil, bukankah yang bersyahadat itu yang dipanggil. Kalau tidak panggil orang munaafik, orang musyrik. Yang dipanggil hanya yang besyahaadah. Lalu ke mana mereka? Pantas Allah tidak peduli dengan mereka, pantas doa-doa mereka tidak diijabah oleh Allah, pantas mereka mengalami krisisberkah, bencana demi bencana terjadi, mereka tidak peduli dengan Allah. Bagaimana Allah peduli dengan mereka. Lihatlah Rasulallaah saw. sakitpun beliau tetap berjamaah di masjid. Ketika sakit beliau, panas yang luar biasa, mendengar adzan beliau menangis, “Bilal, puaskan aku dengan senandung adzanmu, umatku.. Aku bahagia. Antarkan aku ke rumahku”. Aisyah ra. berkata, “alaisa haadza baitukum, yaa habiiballaah”. Wahai suamiku, Kekasih Allah, bukankah ini rumah kita?”

Laa, baitiy al masjid. Tidak. Rumahku adalah masjid”. Lalu sahabat menggotong beliau untuk berjamaah di masjid. Selesai shalat berjamaah itu beliau bersabda, “Seandainya umatku mengetahui keutamaan berjamah di masjid, merangkak pun mereka akan tetap berjamah di masjid”. Pantaslah, ketika Ummi Makhtum yang tuna netra, buta, minta dispensasi keringanan untuk tidak berjamaah di masjid, “Yaa Rasul, saya ini susah, mata saya buta, rumah saya jauh dari masjid, apakah saya boleh tidak berjamaah di masjid?” Rasulullah saw. balik bertanya, “hal sami’tannidaa?, Kau dengar adzan?”

“Sami’tu ya rasulallah. Iya, aku mendengar adzan, ya Rasulallah”,

“Maka tidak ada alasan bagi kamu untuk tidak shalat di masjid. Allahu akbar! Yang buta karena dengar adzan tidak ada alasan kecuali harus shalat berjamaah di masjid. Lalu apa alasan kita yang melek mata ini? Kecuali karena buta hati kita. Fa innaha laa ta’mal abshaar, wa lakin ta’mal quluubullati bishshurur. Yang disebut buta bukanlah buta mata kepala, tapi buta mata hati. Banyak mereka yang melek matanya tapi justru membutakan mata hatinya. Lebih baik buta mata tetapi terbuka mata hati.

Inilah yang membuat umat Islam sekarang jauh mundur ke belakang. Miskin dan dimiskinkan. Bukan lagi dhuafa tapi mustadh’afiin. Dengan leluasa kekuatan Dajjal menguasai umat yang besar ini. Centang berenang! Banyak tapi meninggalkan cela, meninggalkan Allah Jalla Jalaalun. Lihatlah para sahabat, mereka semua memakmurkan rumah Allah Jalla Jalaalun. Para salafussaleh mereka menjaga shalat berjamaah, sehingga Allah himpun hati mereka, Allah berkahi hati mereka, politik mereka, ekonomi mereka, sosial mereka, budaya mereka, militer mereka, negara mereka semua diberkahi oleh Allah karena mereka tidak meninggalkan Allah, tidak meninggalkan rumah Allah Jalla Jalaalun. Mudah-mudahan khutbah jumat ini membangun kesadaran kita untuk menjadikan masjid sebagai markaz, gerakan kekuatan umat.

فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

SebelumnyaIslam Moderat Untuk Bangsa Dan Umat/Prof. Dr. Ahmad Sewang, MA/Al Markaz SesudahnyaAntara Dua Pilihan (Momen Tahun Baru)/Prof. Dr. H. Abd. Rahman Getteng, MA/Al Markaz

Tausiyah Lainnya