Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

Membangun Jaringan Umat Islam/Prof. Dr. H. Kamaruddin Amin, MA/Al Markaz

Terbit 9 September 2019 | Oleh : admin | Kategori : Makalah/Ceramah/Pengajian
Membangun Jaringan Umat Islam/Prof. Dr. H. Kamaruddin Amin, MA/Al Markaz

Jaringan sebenarnya dalam bahasa agamanya itu adalah membangun atau memperkuat kembali tali kasih atau silaturrahim antar umat Islam. Namun demikian sebelumnya saya ingin kembali mengajak kita sekalian untuk kembali melihat realitas umat Islam di dunia ini.

Jumlah umat Islam di dunia ini dilaporkan oleh beberapa data, mulai dari 1,2 sampai 1,4 Milyar umat Islam di dunia ini. Artinya bahwa umat Islam menghuni dunia ini lebih dari 20 %, lebih dari 20 % penduduk dunia ini adalah muslim, sebuah jumlah yang sangat spektakuler yang patut kita banggakan. 800 juta umat Islam hidup di negara-negara muslim lebih dari 149 negara dan 400 juta umat Islam hidup sebagai komunitas minoritas di 149 negara. 149 negara di mana umat Islam hidup sebagai kelompok minoritas, mulai dari Australia, Jepang, Cina, Amerika dan Eropa Timur dimana umat Islam berdomisili sehingga hampir tidak lagi kita menemukan sebuah kelompok, sebuah negara tidak ada umat islamnya, hingga di Moskow, Korea, umat Islam di sana juga sudah banyak, meskipun mereka menjadi kelompok minoritas. Saya kira ini merupakan potensi yang sangat luar biasa ketika potensi ini mampu dilegitalisasi, potensi ini mampu dimaksimalkan untuk menjalin sebuah komunitas atau jaringan yang bersifat global.

Meskipun demikian menurut World Development Report yang dikeluarkan oleh Bank Dunia bahwa hampir atau sebahagian besar negara-negara muslim atau negara-negara Islam atau negara-negara yang berpenduduk muslim sebagian besar berpenghasilan rendah. Sehingga karakteristik umum negara-negara yang berpenduduk muslim baik sosial, politik dan demografi adalah memiliki tingkat inflasi yang relatif tinggi, berpenghasilan relatif rendah, dan memiliki tingkat pendidikan yang rendah kalau dibanding dengan negara-negara maju di dunia. Oleh karena itu negara-negara yang dihuni oleh umat Islam pemerintahnya hendaknya berusaha dan berjuang semaksimal mungkin mengangkat derajat martabat umat Islam dengan melakukan sejumlah perbaikan baik pendidikan ekonomi dst, saya kira Indonesia kalau disorot dari perspektif global, atau melihat dunia Islam secara keseluruhan Indonesia termasuk meskipun belum maksima. Beberapa tahun terakhir memiliki perkembangan yang cukup signifikan terutama masalah pendidikan dan pengembangan ekonomi meskipun masih banyak kekurangannya.

Sehingga patut kita banggakan anggaran pendidikan 20% di negeri kita ini belum pernah terjadi dalam sejarah dan patut kita syukuri dan mudah-mudahan anggaran tersebut difungsikan secara maksimal agar pendidikan di negeri kita menjadi lebih bagus dan karena ternyata kualitas suatu penduduk negara sangat korelatif kualitas pendidikannya.

Oleh karena itu kalau kita melihat jumlah umat Islam di seluruh dunia, dimana umat Islam yang menghuni 149 negara di dunia ini kalau itu mampu dimanfaatkan, diciptakan sebuah jaringan umat Islam yang mampu menghadirkan sebuah produk atau apapun namanya saya kira ini sesuatu yang sangat luar biasa jika kita memaksimalkannya.

Sehingga kalau kita ingin mengambil pelajaran, contoh, baik di masa Rasulullah atau di masa modern sekarang ini banyak sekali hal-hal yang patut kita contoh untuk kita melakukan perbaikan-perbaikan terutama untuk mengangkat martabat dan derajat umat Islam. Saya ingin mengajak untuk melihat suatu komunitas umat Islam yang ada di negara-negara maju, di Eropa dan Amerika misalnya. Umat Islam yang berada di negara maju, di mana mereka menjadi kaum minoritas, mereka berjuang untuk bisa survive, mereka berjuang untuk mempertahankan nilai-nilai keagamaannya dan saya kira ini adalah prestasi yang patut kita contoh.

Kalau dulu di masa lalu, ide, ilmu dan pengaruh pemiki­ran Islam mengalir dari satu jalur. Umat Islam yang ada di perantauan, yang ada di Amerika, di Eropa mendapatkan informasi dari negara mereka berasal. Mereka mencari ilmu pengetahuan, mereka menyampaikan pertanyaan, menjadikan negara asal mereka menjadi sumber inspirasi, menjadi sumber ilmu pengetahuan sehingga nama-nama seperti yang kita kenal di dunia Islam dikenali di dunia barat di mana komunitas Islam itu berada karena memang mereka menjadikan negaranya sebagai sumber inspirasi, sumber ilmu pengetahuan untuk mencari ilmu, untuk mengatasi masalah-masalah yang mereka hadapi di negara di mana mereka hidup.

Di akhir abad 21 ternyata ada perubahan yang sangat dramatis tentang sumber informasi, sumber inspirasi. Umat Islam di negara perantauan tidak lagi hanya mendapatkan ilmu dari negara asal mereka akan tetapi sudah terjadi dua jalur komunikasi, dua jalur international super highway, untuk menjadi sumber informasi, sumber ilmu pengetahuan, sumber ide untuk menciptakan informasi yang dibutuhkan oleh manusia atau umat Islam yang hidup diperantauan.

Studi Islam sebagai sumber informasi umat Islam tidak lagi kita menemukan di Mesir, tidak hanya ada di Damaskus, Madinah, tidak hanya di Saudi, tidak hanya di Jakarta, atau tidak hanya di Makassar, akan tetapi sudah hampir kita temukan di hampir semua perguruan tinggi besar di dunia ini. Studi Islam ada di New York, ada di Washington, ada di Berlin, ada di Amsterdam, ada di Jepang, hampir perguruan tinggi maju di dunia ini memiliki pusat-pusat studi Islam. Sehingga ini adalah tantangan umat Islam, tantangan kita bersama, karena ada kontes, ada kompetisi untuk memperkenalkan Islam sehingga kalau umat Islam tidak mampu mempelajari agamanya dengan bagus, tidak mampu mempromosikan agamanya dengan bagus, tidak mampu melakonkan agamanya dengan bagus, maka kita akan dikalahkan oleh orang-orang yang bukan Islam tapi mengajarkan Islam mempromosikan Islam bahkan membuat pencitraan tersendiri terhadap Islam.

Oleh karena itu umat Islam saya kira wajib hukumnya, bukan hanya mempelajari Islam akan tetapi melakoni Islam, memperkenalkan Islam, membuat pencitraan terhadap Islam dengan pencitraan dalam bentuk produktif dan tidak kalah dengan pencitraan yang dibuat oleh orang lain yang bisa jadi merugikan kita secara kolektif sebagai komunitas umat Islam.

Disinilah perlunya ada jaringan, disinilah perlunya kita melakukan penguatan, silaturrahim antarumat Islam, dari berbagai perspektif, dari berbagai hal, bukan hanya pendidikan tapi juga ekonomi, sosial, politik, umat Islam harus kuat, umat Islam harus mampu menunjukkan sebuah komunitas yang produktif agar bisa disegani menjadi komunitas yang memilki martabat.

Ada buku di Gramedia yang sangat menarik yang terbit beberapa bulan yang lalu. Barangkali di antara kita sudah ada yang membacanya, buku itu judulnya Cindia, Cindia itu adalah Cina dan India. Kesimpulan yang saya tarik dari buku tersebut adalah kalau Cina dan India sudah bersatu sebenarnya masalah dunia ini masalah bangsa ini selesai. Amerika dan Eropa secara umum bisa terkalahkan oleh sebuah kekuatan baru yaitu kekuatan Cina dan India kalau mereka bergabung dan salah satu rahasia atau karakter kedua negara tersebut yang akan menjadi negara superpower ini meskipun sekarang masih memiliki masalah-masalah sosial kultural dan ekonomi akan tetapi ada tren yang sangat menarik di kedua negara tersebut. Salah satu rahasianya adalah karena Cina dan India adalah negara yang memiliki penduduk yang sangat besar sehingga menjadi mega pasar, jadi menjadi pasar yang sangat menarik untuk produk apapun dan kebijakan yang mereka lakukan ialah kebijakan produk dalam negeri, kebijakan untuk mempersulit impor barang-barang dari luar sehingga produk-produk Cina dan India bisa laku di negaranya sendiri kemudian bisa mendukung untuk pengembangan ekonomi. Bayangkan kalau India dan Cina yang berpenduduk di atas 1 Milyar memproduksi kemudian mengkonsumsi semua produk-produk dalam negeri dan kemudian mengekspor juga ke luar negeri saya kira sangat berpotensi untuk menjadi kekuatan yang akan disegani.

Kalau umat Islam Indonesia khususnya bisa melakukan hal yang sama, dan saya kira ini adalah sesuatu yang tidak mustahil untuk dilakukan dan sesuatu yang sangat potensial untuk kita lakukan dan sesuatu yang sangat menjanjikan. Produk-produk dalam negeri, pasar-pasar tradisional bisa direvitalisasi kemudian ekonomi masyarakat bisa ditumbuhkan dengan cara-cara seperti itu.

Mari kita mencoba untuk melihat diri kita sendiri, mencoba untuk mempelajari diri kita sendiri, mencoba mengenal potensi diri sendiri, mencoba menghargai potensi internal yang kita miliki. Saya kira dengan cara itu maka umat Islam akan disegani, kita akan kuat, bangsa Indonesia kan kuat, Indonesia akan disegani. Saya yakin dan percaya kalau ini kita maksimalkan, nilai-nilai Islam kita maksimalkan untuk menjadi nilai yang produktif, nilai yang fungsional kemudian keberagamaan kita, keberislaman kita evaluasi kembali, kita refleksikan dalam kehidupan keseharian kita. Yakin dan percaya bahwa suatu saat Indonesia secara khususnya dan umat Islam secara umum akan menjadi sebuah ummat, sebuah komunitas, bukan hanya disegani dalam percaturan global tapi bisa menjai play maker dalam percaturan global di dunia ini.

Oleh karena itu sekali lagi saya ingin berpesan bahwa mari kita menjaga, menjalin silaturrahim kita, jangan lagi ada pertengkaran di antara kita, jangan lagi ada permusuhan di antara kita umat Islam. Mari kita saling menghargai, saling menghormati, saling menyayangi, saling respek di antara kita, kita menjadi komunitas yang kuat, komunitas yang disegani, komunitas yang bermartabat, kita pecah, berselisih, dan saling tidak menghargai bukan hanya kita tidak kuat, bukan hanya kita tidak disegani tapi kita diketawai dan kita menjadi beban terhadap orang lain, na’udzubillahi min dzaalik.

SebelumnyaRahasia Sukses Nabi/Prof. Dr. H. Ali Parman, MA/Al Markaz SesudahnyaEkonomi Syariah: Solusi Atau Tantangan Ekonomi Masa Depan/Prof. Dr. H. Arfin Hamid, SH. MH/Al Markaz

Tausiyah Lainnya