Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

MEMBANGUN KEHIDUPAN UMAT BERBASIS LOCAL WISDOM/KASJIM SALENDA/AL MARKAZ

Terbit 13 Maret 2020 | Oleh : admin | Kategori : ceramah jum'atKhutbah jum'atMakalah/Ceramah/Khutbah Jum'at
MEMBANGUN KEHIDUPAN UMAT BERBASIS LOCAL WISDOM/KASJIM SALENDA/AL MARKAZ

MEMBANGUN KEHIDUPAN UMAT BERBASIS LOCAL WISDOM

Kasjim Salenda

Jum’at 13 Maret 2020

Upaya pembangunan jati diri bangsa Indonesia, seperti penghargaan pada nilai budaya, agama, bahasa, nilai-nilai solidaritas sosial dan ekonomi, kekeluargaan, dan rasa cinta tanah air, akhir-akhir ini nampaknya mengalami kemerosotan yang cukup tajam. Hal itu ditandai dengan peristiwa-peristiwa intoleransi antar sesama warga bangsa yang belakangan bergolak, semisal isu anti suku, ras, agama dan antar golongan (SARA) tertentu, bahkan anti pemerintah. Kondisi seperti ini diperparah lagi dengan maraknya berita hoaks yang menghiasi ruang media terutama media sosial (medsos), yang dikuatirkan dapat merusak tatanan sosial dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Globalisasi secara nyata telah menggeser nilai-nilai budaya lokal asli Indonesia. Nilai budaya asing yang berkembang begitu pesat di dalam kehidupan masyarakat sehingga berdampak luas pada tatanan kehidupan keseharian. Hal ini ditandai dengan keterbukaan pada seluruh aspek kehidupan tanpa terkendali dan kurangnya filterisasi serta kondisi masyarakat yang belum  siap  mengakibatkan   masyarakat   Indonesia   terbawa   arus  kebebasan   yang  lebih berorientasi pada individualisme dan materialisme serta mulai melupakan nilai-nilai budaya lokal. Seiring perkembangan zaman, eksistensi budaya dan nilai-nilai budaya yang dimiliki  oleh  bangsa  Indonesia  sampai  saat  ini  belum  optimal  dalam  upaya  membangun karakter  warga  negara. Fenomena  sosial  yang  muncul  akhir-akhir  ini  cukup mengkhawatirkan,   fenomena   kekerasan (anarkis)   dalam   menyelesaikan   masalah,   meningkatnya perilaku merusak diri, seperti narkoba, alkohol dan seks bebas, keterpurukan ekonomi akibat kebocoran (mis management), menurunnya perilaku sopan santun, langkanya perilaku kejujuran, pudarnya rasa kebersamaan, dan kerdilnya rasa gotong-royong  di antara  anggota  masyarakat.

Oleh sebab itu, diperlukan solusi dari permasalahan yang dihadapi bangsa saat ini. Salah satu upaya yang dapat ditempuh adalah kembali menggali nilai-nilai luhur yang terdapat dalam budaya kearifan lokal (local wisdom atau local genius). Pengembangan pendidikan harus berbasis kearifan lokal (local wisdom-based education) yang berpijak pada keyakinan bahwa setiap komunitas mempunyai strategi dan teknik tertentu yang dapat dikembangkan untuk menjalankan kehidupan sesuai konteksnya. Kearifan  lokal  merupakan  modal  pembentukan  karakter luhur yakni watak  bangsa  yang  senantiasa  bertindak  dengan  penuh  kesadaran,  purba  diri,  dan pengendalian diri. (Daniah 2012).

Penghayatan dan pengamalan nilai-nilai yang terkandung dalam kearifan lokal akan berpengaruh terhadap pembangunan nasional karena budaya yang telah lama stertanam dalam masyarakt yang dijadilan sebagai pedoman dan petunjuk dalam kehidupan bermasyarakat. Misalnya yang terdapat dalam wérékkada dan pappaseng. Wérékkada adalah salah satu bentuk sastra klasik Bugis yang sekaligus sebagai warisan budaya masyarakat Bugis yang banyak mencerminkan kearifan lokal. Kearifan lokal yang menjadi fokus utama meliputi bawaan hati yang baik, konsep pemerintahan yang baik (good governance), demokrasi, motivasi berprestasi, kesetiakawanan sosial, kepatutan, dan penegakan hukum. Demikian halnya pappaseng merupakan suatu bentuk pernyataan dengan bahasa yang mengandung nilai etis dan moral, baik sebagai suatu sistem sosial maupun sebagai sistem budaya dari suatu kelompok masyarakat Bugis. Kearifan itu masih relevan dengan perkembangan zaman, bahkan bisa dijadikan terapi bagi pemecahan persoalan bangsa saat ini. Kearifan lokal yang tercermin dalam wérékkada dan pappaseng antara lain lempu (kejujuran), getteng (keteguhan), siri’ (harga diri), dan etos kerja.

  1. Lempu (Kejujuran)

Kejujuran merupakan landasan pokok dalam  menjalin  hubungan  dengan  sesama manusia dan merupakan salah satu faktor yang sangat mendasar di dalam kehidupan. Tanpa kejujuran, mustahil akan tercipta hubungan yang baik dengan sesama manusia. Untuk mengemban suatu amanah atau menjadi seorang pemimpin, kejujuran itu sangat dibutuhkan.

Pasenna Puang ri Maggalatung (Cendekiawan kerajaan Wajo) sezaman dengan Kajaolalido (La Mellong): “aja nasalaio acca sibawa lempu’. Naiya riasengnge acca, de’gaga masussa napogau, detto ada masusa nabali ada deceng, malemmai, mateppei ripadanna tau. 

Naiya riasengnge lempu’, makessingngi gau’na, patujui nawa-nawanna, madeceng ampena , metau’ ri dewatae”.

(Janganlah ditinggalkan oleh kecakapan dan kejujuran. Yang dinamakan cakap, tidak ada yang sulit dilaksanakan, tidak ada juga pembicaraan yang sulit disambut dengan kata-kata yang baik serta lemah lembut, percaya kepada sesama manusia. Yang dinamakan jujur; perbuatannya baik, pikirannya benar, tingkah lakunya baik, dan takut kepada Tuhan).

Dalam werekkada yang berisi dialog antara Arumpone dengan Kajao Laliqdong menekankan tentang kejujuran dalam menjalankan amanah yang dipercayakan oleh orang banyak atau masyarakat. Menurut Arumpone,  kemuliaan  seseorang  bukan  dinilai dari jabatan atau harta benda yang dimiliki, melainkan yang memelihara semua itu adalah kejujuran yang inti dasarnya adalah tidak mengambil sesuatu yang bukan miliknya.

Bila diamati fenomena masyarakat saat ini, tidak sedikit di antara manusia yang masih sering mengambil sesuatu yang bukan miliknya dengan cara manipulasi, curang, zalim, dan korupsi. Perilaku semacam ini akan merusak tatanan kehidupan masyarakat, seperti sabda Nabi saw:

عليكم بالصدق فان الصدق يهدى الى البر وان البر الى الجنة واياكم والكذب فان الكذب يهدى الى الفجور وان الفجور يهدى الى النار .

Pada intinya bahwa kejujuran akan mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan, sedang kecurangan akan berdampak kegelisahan dan kegalauan serta malapetaka. Kalau bangsa Indonesia ingin sejahtera, damai dan tentram, maka bercerminlah pada negara Denmark.

  1. Getteng (Keteguhan)

Berikut  ungkapan Kajaelalido kepada Arumpone:

Narékko temmagettenngi bicaraé, masolangni ritu jemma tekbek é. Narékko temmagettengni rapanngé, ianaritu Arumponé mancaji assisalangeng; gaégaénna ritu mancaji musu, musuéna ritu mancaji assiuno-unong. (Jika sudah tidak tegas lagi peradilan maka binasalah  rakyat  jelata.  Jika  rapang (aturan) sudah tidak tegas lagi Arumpone, itulah menjadi sumber pertentangan. Kejadian serupa itu, menjadi pangkal permusuhan dan permusuhan menjadi pangkal saling membunuh).

Dari kutipan wérékkada di atas kita mendapat gambaran bahwa sejak dahulu orang-orang tua masyarakat Bugis sudah menekankan betapa pentingnya sikap ketegasan kepada anak cucunya. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya di sini adalah ketegasan dalam peradilan. Sejak dahulu para leluhur masyarakat Bugis sudah menegaskan kepada anak cucunya betapa  pentingnya  ketegasan  dalam  peradilan atau dengan kata lain betapa pentingnya penegakan hukum. Hukum harus ditegakkan dengan seadil-adilnya agar tidak menimbulkan ketidakpuasan bagi masyarakat yang bersengketa.

Ungkapan-ungkapan yang disampaikan dalam wérékkada di atas mengenai pertentangan, permusuhan,    dan    pembunuhan    sering    kita saksikan terjadi di tengah-tengah masyarakat saat ini akibat kurang tegasnya pengambil kebijakan. Hukum bisa menjadi sumber malapetaka apabila tidak ditegakkan dengan baik. Orang bisa saling membunuh apabila hukum tidak dilaksanakan dengan adil.

Perilaku keteguhan dalam melaksanakan aturah telah diperlihatkan oleh Nabi ketika ada seorang wanita dari suku Mahzum mencuri perhiasan, dia dilaporkan kepada Rasulullah, dan diakuinya kesalahan tersebut. Kaumnya khawatir kalau Nabi saw akan menghukumnya akan berdampak mempermalukan suku Mahzum. Lalu orang-orang suku Mahzum ini mendatangi Usamah bin Zaid, yang terkenal sangat dekat dan sangat dicintai oleh Rasulullah. Usamah dimnita untuk menghadap Rasulullah guna merundingkan pembebasan wanita terpidana itu. Ketika Usamah memberitahukan Rasulullah akan hal tersebut, Rasulullah terlihat marah dan bersabda : apakah engkau hendak menolong orang-orang supaya aku tidak melaksanakan suatu ketentuan hukuman yang telah ditetapkan oleh Allah? Lalu Nabi saw mengumpulkan orang banyak kemudian berseru :

يأيها الناس إنما اهلك من كان قبلكم أنهم كانوا إذا سرق فيهم الشريف تركوه وإذا سرق فيهم الضعيف اقاموا عليه الحد  والله لو أن فاطمة بنت محمد سرقت لقطعت يدها (متفق عليه)

Artinya:

Hai sekalian manusia, sesungguhnya yang menyebabkan orang-orang dahulu sebelum kamu itu menjadi rusak adalah karena jika ada pencuri dari kalangan orang terhormat (misalnya pejabat atau keluarganya), maka mereka biarkan tanpa diberi sanksi hukuman. Tetapi jika pencuri itu dari kalangan orang lemah (rakyat biasa), mereka menerapkan sanksi hukuman. Demi Allah, seandainya Fatimah puteri Muhammad mencuri, pasti akan kupotong tangannya (HR. Bukhari Muslim).

Demikian halnya khalifah Umar bin Khattab menegur gubernur Mesir (Amar bin Ash) yang mengurangi hukuman terhadap Abdurrahman bin Umar bin Khattab.

  1. Siri(harga diri)

Siriadalah suatu sistem nilai sosio- kultural    dan    kepribadian    yang    merupakan pranata pertahanan harga diri dan martabat manusia sebagai individu dan anggota masyarakat. Secara singkat ia adalah pandangan hidup yang  bertujuan  untuk  mempertahankan  harkat dan martabat pribadi, orang lain atau kelompok, terutama negara (Hamid, 2005: 57).

Siri’ tidak bisa ditegakkan sendirian melainkan harus secara bersama baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat agar tidak terjadi tindakan yang memalukan (mappakasiri-siri) atau perasaan malu (masiri) atau dipermalukan (ripakasiri). Perasaan malu (siri) tidak hanya timbul dari orang yang dipermalukan , namun ia juga harus timbul dari orang yang berbuat curang, khianat, zalim dll.dari perbuatan negatif.

Siri selalu bergandengan dengan pesse (rasa pedih) karena penderitaan diri sendiri atau sesama manusia akan menimbulkan kebersamaan dan rasa solidaritas yang memperkokoh kesatuan keluarga, kampung, suku dan negara.

Menurut Zainal Abidin Farid: siri terbagi dua:

  1. Siri’ ripakasiri: seseorang mempermalukan orang lain di depan umum, seperti menempeleng, maka balasannya adalah tindakan setimpal. Bila tidak maka yang bersangkutan disebut : mati siri’ dan orang yang mati siri’ sama dengan binatang.
  2. Siri’ masiri’: spirit untuk meraih suatu prestasi yang unggul demi siri’ sendiri atau siri’ keluarga atau siri’ kelompok. Bila tidak berhasil ditempatnya maka ia akan merantau untuk dapat maju.

Berikut ditampilkan beberapa wérékkada yang berkaitan dengan sirik.

Makkedai torioloé: “Limai wuwangenna sappona wanuaé tennauttamaiwi toppé-gauq bawang. Séuani, lempu silaong adeq. Maduanna, rapanngé nasilaong getteng. Matellunna, waranié nasilaong acca. Maeppana, malaboé nasilaong palecé. Malimanna ripassaniasai éwa-ngeng pammusué, naripassilaong ada madécéng namalemma. Ajaq tawedding naottong uluada balitta. Ianaro gauq limaé wuwangenna ri assappoang wa-nua, ajaq naengka sakibanra tanaé.  (Fachruddin,  Lagausi,  &  Nur,  1985:14)

Terjemahan

“Berkata orang tua-tua, “Lima jenis pagar negeri sehingga tidak dimasuki orang yang berbuat sewenang-wenang. Pertama, kejujuran yang disertai adat. Kedua, ibarat yang disertai  ketabahan.  Ketiga,  keberani-an disertai kepandaian. Keempat, tidak bathil disertai keramahan. Kelima, diper-siapkan peralatan perang disertai kata-kata yang baik dan lemah lembut. Hendaknya jangan kita ditekan dengan janji-janji oleh lawan. Itulah lima jenis tingkah laku pemagar negeri, sehingga negeri tidak mempunyai celah.”

Kutipan wérékkada di atas menggambarkan para leluhur menitipkan pesan kepada anak cucunya agar senantiasa menjaga harkat dan harga diri negerinya agar tidak dimasuki oleh orang-orang yang akan mengacau. Jujur disertai adat, karena adat itulah yang memperbaiki orang banyak. Sedangkan orang jujur biasanya Tuhan berpihak kepadanya.

Dari perspektif agama, sirik mengarahkan bagaimana orang Bugis-Makassar mengabdi pada Tuhan dan memberikan aturan normatif yang membimbing perilaku manusia. Orang disamakan dengan binatang jika tidak mematuhi aturan agama. Sebagaimana digambarkan dalam pepatah yang artinya ‘jika tidak ada siri’, maka tidak akan ada agama, jika tidak ada agama, maka tidak akan ada Allah, jika tidak ada Tuhan, maka tidak akan ada surga”.

  1. Etos Kerja

Sejak dahulu leluhur bugis makassar dikenal sebagai pelaut ulung. Karena akrabnya dengan air dan laut, maka sifat-sifat dinamis dari gelombang yang selalu bergerak dan tidak mau tenang itulah yang mempengaruhi jiwa dan pikirannya (Said, 1997:4). Hal tersebut dilukiskan sebagai sifat dinamis, penuh semangat tanpa kenal putus asa, dan pantang mundur yang dapat dilihat dalam pappaseng  berikut ini:

‘Pura babbara sompekku

             Pura gucciri gulingku

Ulebbirenngi tellenngé natowalié” Dikutip oleh Amir, dkk., (1982:56)

(Layarku sudah berkembang, Kemudiku sudah terpasang, Kupilih tenggelam dari pada kembali)

Demikianlah sifat yang hebat, pantang mundur bila ingin mencapai sesuatu. Hal senada dinyatakan juga dalam sebuah elompugi yang sudah sangat populer di kalangan masyarakat  Bugis, sebagai berikut:

Resopa temmanginngi

             Namalomo naletei

             Pammase dewata

(Hanya dengan kerja keras dan tekun yang akan mendatangkan rahmat Ilahi). Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Q.S al-Najm/53: 39:

وأن ليس للانسان الا ما سعى

(Tiada yang dapat diperoleh manusia kecuali apa yang ia usahakan).

Kesimpulan:

Nilai-nilai filosofi yang terdapat dalam kearifan lokal (werekkada dan pappaseng) hendaknya kembali dijadikan landasan, pedoman dalam menata kehidupan yang carut marut saat ini. Penanaman nilai-nilai substansial tersebut dapat dimulai dari rumah, sekolah dan masyarakat. Makna yang terkandung dalam werekkada dan pappaseng  sejalan dengan ajaran agama (Islam) yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadis.

Hanya dengan berpegang pada nilai kearifan lokal tersebut, pembangunan kehidupan umat dapat mewujudkan kedamaian, ketenteraman, dan kebahagian dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Wallu a’lam bi al-sawab.

SebelumnyaH. BURHANUDDIN YUSUF./KHUTBAH JUMAT/ALMARKAZ SesudahnyaMAKNA ISRA MI’RAJ DALAM KEHIDUPAN MASA KINI

Tausiyah Lainnya