Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

Menghormati Perbedaan Paham Keagamaan/Dr. H. Nurman Said, M.A./Al Markaz

Terbit 18 Oktober 2019 | Oleh : admin | Kategori : CERAMAHMakalah/Ceramah/Khutbah Jum'at
Menghormati Perbedaan Paham Keagamaan/Dr. H. Nurman Said, M.A./Al Markaz

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه قال الله تعالى فى كتابه الكريم يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وقال تعالى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Alhamdulillah, Allah swt Sang Maha Pencipta telah menjadikan manusia sebagai makhluk yang istimewa dengan berbagai keutamaanya. Salah satu keistimewaan manusia karena diberi akal sebagai instrument untuk berpikir sehingga mampu menciptakan peradaban.  Kemampuan manusia menggunakan pikirannya menjadikannya sebagai makhluk yang sangat dinamis dengan mobilitas yang sangat tinggi melebihi makhluk-makhluk ciptaan Allah lainnya. Akal bagi manusia merupakan penentu yang membedakan apakah dikategorikan sebagai mukallaf yakni orang yang dituntut untuk menjalankan kewajiban agama atau tidak.  Karena akallah maka manusia bertanggung jawab terhadap perbuatannya.  Jika karena sesuatu dan lain hal akal tidak dapat berfungsi bukan karena kesengajaan maka yang bersangkutan terbebas dari pertanggungjawaban seperti saat masih anak-anak, saat mengalami gangguan jiwa menyebabkan akalnya tidak berfunsi dengan baik, atau pada saat lupa.

Syariat Islam diturunkan oleh Allah swt kepada umat manusia sebagai pedoman untuk meraih kemuliaan dan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.  Para ulama seperti Imam Al-Ghazali dan Imam Al-Syatibi meyakini bahwa tujuan utama diturunkannya syariat adalah untuk kemaslahatan umat manusia. Karena itu pemahaman dan pengamalan ajaran Islam harus berimplikasi pada pemeliharaan agama (hifdz al-din), pemeliharaan jiwa (hifdz al-nafs), pemeliharaan akal (hifdz al-aql), pemeliharaan harta (hifdz al-mal) serta pemeliharaan keturunan (hifdz al-nasl).

Usaha untuk memahami petunjuk ajaran Islam sebagaimana tersurat pada sumber-sumber ajaran Islam yakni al-Qur’an dan Hadis melahirkan perbedan-perbedaan disebabkan karena tidak semua ayat al-Qur’an maupun hadis dapat dipahami dengan mudah.  Ada ayat Al-Qur’an yang dikategorikan ayat-ayat muhkamat yang maknanya dapat dipahami dengan mudah; namun ada pula ayat yang dikategorikan ayat-ayat mutasyabihat yang maksudnya samar-samar sehingga tidak mudah dipahami.  Ayat-ayat   inilah yang berpotensi menimbulkan perbedaan pendapat.  Selain itu, perbedaan metode yang digunakan untuk memahami petunjuk wahyu memungkinkan terjadinya perbedaan pemahaman terhadap maksud ayat maupun hadis Rasulullah saw.  Karena itulah maka meskipun sama-sama berpegang teguh kepada Al-Qur’an, akan tetapi tidak bisa dihindari terjadinya perbedaan pendapat sebagai konsekuensi terkadinya perbedaan penafsiran terhadap makna ayat-ayat Al-Qur’an.  Demikian halnya dengan kedudukan Hadis sebagai sumber kedua ajaran Islam.  Perbedaan sikap dalam memandang kedudukan sebuah hadis sebagai sumber ajaran Islam ditambah lagi dengan perbedaan cara memahaminya, menjadi faktor signifikan yang turut mendorong terjadinya perbedaan pendapat di kalangan umat Islam.  Karena itulah maka perbedaan pemahaman keagamaan merupakan kenyataan historis yang selalu hadir mewarnai kehidupan umat Islam.

Dengan demikian, umat Islam bersatu dalam menjadikan syari’at Islam sebagai acuan dasar dalam menjalani hidup sebagai hamba Allah dan pengikut Muhammad saw, namun dapat berbeda dalam pemahaman keagamaan.  Oleh karena itu maka umat Islam dituntut untuk menghargai perbedaan pemahaman terhadap persoalan-persoalan yang memungkinkan dipahami secara berbeda.

Memang Allah swt memerintahkan kita untuk bersatu. Jika berselisih tentang sesuatu, hendaknya kita kembali pada Al-Qur’an dan Hadis. Para ulama hendaknya melakukan ijma’ untuk memutuskan hal yang diperselisihkan.

Namun jika terjadi perbedaan pendapat sebagai konsekuensi perbedaan dalam memahami petunjuk Al-Qur’an ataupun Hadis maka hendaknya tidak saling mencela atau saling menghina karena itu diharamkan Allah swt sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an [Al Hujurat 11-12].

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَسۡخَرۡ قَوۡمٞ مِّن قَوۡمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُواْ خَيۡرٗا مِّنۡهُمۡ وَلَا نِسَآءٞ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيۡرٗا مِّنۡهُنَّۖ وَلَا تَلۡمِزُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَلَا تَنَابَزُواْ بِٱلۡأَلۡقَٰبِۖ بِئۡسَ ٱلِٱسۡمُ ٱلۡفُسُوقُ بَعۡدَ ٱلۡإِيمَٰنِۚ وَمَن لَّمۡ يَتُبۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ١١

Terjemahnya:

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah satu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan-perempuan lain, (karena) boleh jadi permpuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.  Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan fasik setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Sesungguhnya perbedaan paham keagamaan haruslah disikapi sebagai hasil dari usaha menggunakan akal untuk memahami syariat Islam.  Dengan kata lain paham keagamaan adalah hasil ijtihad yang tidak bersifat mutlak.  Hasil ijtihad bisa benar dan bisa pula salah.  Bahkan perbedaan pendapat terhadap suatu masalah bisa terjadi di antara Nabi-nabi Allah sebagaimana perbedaan yang terjadi antara Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman saat memberikan keputusan mengenai lading yang dirusak oleh kambing-kambing milik kaumnya, seperti yang digambarkan dalam Al-Qur’an [Al-Anbiya’: 78-79]

وَدَاوُۥدَ وَسُلَيۡمَٰنَ إِذۡ يَحۡكُمَانِ فِي ٱلۡحَرۡثِ إِذۡ نَفَشَتۡ فِيهِ غَنَمُ ٱلۡقَوۡمِ وَكُنَّا لِحُكۡمِهِمۡ شَٰهِدِينَ ٧٨ فَفَهَّمۡنَٰهَا سُلَيۡمَٰنَۚ وَكُلًّا ءَاتَيۡنَا حُكۡمٗا وَعِلۡمٗاۚ وَسَخَّرۡنَا مَعَ دَاوُۥدَ ٱلۡجِبَالَ يُسَبِّحۡنَ وَٱلطَّيۡرَۚ وَكُنَّا فَٰعِلِينَ ٧٩

Terjemahnya:

Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu.

Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kamilah yang melakukannya.

Demikian pula perbedaan pemahaman terhadap ajaran Islam terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw.  Sebagai contoh para sahabat yang diutus oleh Rasulullah ke perkampngan Banu Quraizhah.  Seusai melaksanakan shalat Zuhur bersama para sahabatnya, Rasulullah saw segera memberikan komando untuk mendatangi Bani Quraizhah sesuai sabda beliau:

لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ

Artinya:

“Jangan sekali-kali mengerjakan shalat Ashar kecuali di Bani Quraizhah,” (H. R. Bukhari)

Setelah mendapat perintah Rasulullah saw, para sahabatpun segera berangkat.  Namun di perjalanan terjadi perbedaan pemahaman terhadap perintah Rasulullah tersebut. Sebagian dari pasukan kaum Muslimin tidak melaksanakan shalat Ashar di perjalanan. Bahkan sebagian riwayat mengatakan, ada di antara mereka yang melaksanakan shalat Ashar setelah Isya di perkampungan Bani Quraizhah. Namun sebagian lain melaksanakan shalat Ashar di perjalanan. Ungkapan Nabi yang mengatakan, “Jangan sekali-kali mengerjakan shalat Ashar kecuali di Bani Quraizhah,” dipahami agar mereka bersegera menuju perkampungan Bani Quraizhah sehingga bisa melaksanakan shalat Ashar di tempat itu. Ketika hal itu diketahui oleh Rasulullah saw, beliau tidak mempermasalahkannya. Beliau mendiamkan dan tidak menyalahkan salah satu dari dua pendapat itu.

Perbedaan pemahaman tentang ajaran Islam, juga terjadi di kalangan para imam mazhab. Namun mereka saling menghargai dan saling menghormati. Mereka tidak saling merendahkan apalagi saling mengkafirkan.  Begitu pulalah kita seharusnya menghargai perbedaan paham keagamaan yang hidup dan berkembang di kalangan umat Islam.  Jika karena perbedaan tersebut kita mencela sesama muslim dengan sebutan ahlul bid’ah, sesat, kafir, musyrik dan semacamnya maka boleh jadi kitalah yang sesat.

Wallahu a’lam bi al-sawab.

أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم

SebelumnyaDr.H.M.Ishaq Shamad, M.A./Menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW 1441 H/Al Markaz SesudahnyaProf.Dr.H. Basri Hasanuddin., MA/Tantangan Umat Menghadapi Globalisasi/Al Markaz

Tausiyah Lainnya