Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

MENGUKUR KUALIFIKASI IBADAH/Aswar Hasan/Al Markaz

Terbit 25 Desember 2019 | Oleh : admin | Kategori : BelajarCERAMAHKolomPenulis
MENGUKUR KUALIFIKASI IBADAH/Aswar Hasan/Al Markaz

MENGUKUR KUALIFIKASI IBADAH
Oleh Aswar Hasan

Setiap kita yang beragama, Agama apapun, pasti wajib beribadah sebagai bukti ritual, bahwa kita memang beragama dalam sikap dan tindakan. Salah satu inti Agama adalah ibadah dalam bentuk ritual yang memiliki aturan ketentuan yang menjadi ciri Agama bersangkutan. Ibadah tersebut, merupakan tata cara menghambakan diri ( mengabdi) kepada Tuhan yang menciptakan Agama bersangkutan.
Dalam Agama Islam, salah satu ritual yang merupakan inti dari wujud ibadah penyembahan secara langsung kepada sang Pencipta Agama adalah sholat. Sholat merupakan tiang Agama. Bahkan, dalam hadits disebutkan, bahwa; “(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim ). Sungguh merugi dan celakalah orang yang mengaku beriman tapi tidak sholat.
Permasalahannya kemudian, apakah kita sudah melaksanakan ibadah sholat sebagaimana mestinya? Jawabannya bisa dari dua aspek, yaitu berdasarkan prosedural formal – syariat- dan hakekat substansial. Yang pertama bersifat obyektif teramati, sedangkan yang kedua bersifat subyektif dan tidak teramati tetapi terasakan oleh bersangkutan. Yang pertama sudah dijelaskan secara rinci oleh hukum – kaedah- dalam bentuk fiqhi. Sementara yang terakhir, biasanya menjadi kajian para tasawuf. Namun demikian, yang kedua takkan sempurnah sesuai prinsip ibadah tanpa yang pertama. Keabsahan suatu ibadah sangat ditentukan oleh yang pertama, namun kualitas kualifikasinya secara subyektif bisa dimanifestasikan oleh yang kedua.
Setidanya, ada empat tingkatan kualifikasi subyektif ibadah kita, yaitu; pertama, melaksanakan kewajiban ibadah sebagai beban. Ibadah ( sholat) misalnya, masih dilakukan karena menganggapnya sebagai kewajiban yang dilaksanakan karena takut akan sanksinya. Akibatnya masih di rasakan sebagai beban dari sebuah kewajiban.
Kedua, melaksanakan kewajiban ibadah (sholat) sebagai sebuah rutinitas. Ibadah dalam hal ini dianggap sebagai sesuatu yang sudah seharusnya. Akibatnya, ibadah seolah sudah menjadi tradisi. Yang mau tak mau dilakonkan. sebagian anggota masyarakat, kerap mengabaikannya jika dilanda kesibukan duniawi.
Ketiga, Ibadah (Sholat) dianggap sebagai tanggung jawab. Dalam hal ini, ibadah sholat merupakan konsekuensi logis sebagai orang beriman, sebagaimana tanggung jawab orang tua kepada anaknya, guru kepada muridnya. Melaksanakan ibadah secara sadar karena merasa itu sudah menjadi keharusan sebagai tanggung jawab pribadi orang yang beriman.
Keempat, Ibadah sebagai kebutuhan. Level ini merupakan kualifikasi tertinggi. Ibadah telah menjadi sesuatu yang dibutuhkan, sehingga dikejar dan diprioritaskan. Melaksanakannya adalah kenikmatan. Setiap saat dinantikan dan melaksanakannya pada kesempatan pertama. Sedih jika harus berpisah pada saatnya dan merasa terpuaskan jika telah melaksanakannya.
Demikian gambaran kategori kualifikasi Subyektif subtansial sebuah ritual ibadah. Pertanyaannya, dilevel kualifikasi dimana kita berada? Semoga dilevel keempat tentunya. Wallahu a’lam bishawwabe.

Sebelumnya3 Hakekat Hidup/Aswar Hasan/Al Markaz SesudahnyaManfaat dari fenomena gerhana matahari / Al Markaz

Tausiyah Lainnya