Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

Mewujudkan budaya membaca dan menulis dalam masyarakat/Prof. Dr. H. Najamuddin HS., MA/Al Markaz

Terbit 3 Oktober 2017 | Oleh : admin | Kategori : Makalah Ceramah
Mewujudkan budaya membaca dan menulis dalam masyarakat/Prof. Dr. H. Najamuddin HS., MA/Al Markaz

Tidak ada kata yang paling indah diucapkan kecuali mengucapkan alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin dan menyampaikan rasa syukur ke hadirat Allah swt karena Allah swt masih tetap memberikan kepada kita semua hidayah dan taufik-Nya, masih tetap menganugerahkan kepada kita semua berbagai macam-macam nikmatnya. Dari semua nikmat itu, nikmat yang paling besar dan nikmat yang paling mulia adalah nikmat keislaman dan nikmat keimanan.

Allah swt berfirman,وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا, maksud­nya sekiranya kalian akan menghitung nikmat Allah maka niscaya kalian tidak akan mampu menghitunya. Oleh karena itu tidak seorang pun sarjana bahasa yang mampu menyu­sun suatu kata atau suatu ungkapan yang bisa memenuhi ucapan terima kasih kepadaNya. Itulah sebabnya Allah sendiri yang mengajarkan kepada kita ungkapan terima kasih itu yaitu mengucapkan alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin.

Shalawat dan taslim atas junjungan kita Nabi Muhamamd saw, Nabi yang diutus di bumi ini sebagai Nabi dan rahmat untuk seluruh manusia tanpa kecuali,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Maka tidak pantaslah seseorang mengaku pengikut Rasulullah saw, mengaku ummat Rasulullah saw kemudian tidak mau mengikuti Beliau sebagai Nabi dan rasul yang terakhir. Sedangkan Allah swt menegaskan dalan surah al-Ahzab ayat 40:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Maksudnya Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu sekalian, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Rasulullah saw juga menegaskan لو كان نبي بعدى لكان عمر, maksudnya sekiranya masih ada Nabi sesudah saya maka Umar bin Khattablah yang akan menjadi Nabi. Tapi Rasulullah sudah menegaskan bahwa tidak ada Nabi sesudahnya maka Umarpun bukanlah Nabi dan tidak akan menjadi Nabi.

Bagi umat Islam, membaca dan menulis adalah perintah wajib dalam agama Islam, bahkan perintah yang utama dan pertama yang diterima oleh Rasulullah saw dari Allah swt melalui wahyu yang pertama turun kepadanya yaitu kelima ayat yang mengawali surah al’Alaq seperti yang saya bacakan pada awal khutbah ini yaitu;

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ . اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ . الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ . عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Maksudnya bacalah dengan nama Tuhanmu yang mencipta, yang telah menciptakan manusia dari ‘alaq, bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah yang mengajarkan dengan pena, mengajarkan manusia apa yang belum diketahuinya.Iqra’ atau perintah membaca begitu pentingnya kata ini sehingga diulang dua kali dalam rangkaian wakyu yang pertama. Mungkin akan mengherankan bahwa perintah tersebut ditujukan pertama kali kepada seseorang yang tidak pernah sama seklai membaca suatu naskah, tidak pernah membaca suatu kitab sebelum al-Qur’an bahkan seseorang yang tidak pandai membaca suatu tulisan sampai akhir hayatnya. Namun keheranan ini akan sirna jika disadari arti kata iqra’ dan disadari juga bahwa perintah ini tidak hanya ditujukan kepada priibadi Rasulullah saw tetapi juga untuk umat manusia sepanjang sejarah kemanusian karena realisasi perintah tersebut merupakan kunci pembuka jalan meraih kebahagian hidup duniawi dan ukhrawi.

Kata iqra dalam surah tersebut diambil dari kata qara’a, yang pada mulanya berarti menghimpun. Arti asal kata ini menunjukkan bahwa iqra’ yang diterjemahkan dengan bacalah tidak mengharuskan adanya sesuatu teks tertulis yang dibaca, tidak pula harus diucapkan sehingga didengar oleh orang lain. Oleh karena itu dapat ditemukan dalam kamus-kamus bahasa Arab beraneka ragam arti dari kata tersebut seperti, menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-cirinya dan lain sebagainya, yang kesemuanya itu dapat dikembalikan kepada hakikat menghimpun yang merupakan arti kata tersebut. Iqra’, demikian perintah Allah swt yang disampaikan oleh Jibril, tetapi ayat tersebut tidak menyebutkan objek bacaan dan Jibril ketika itu tidak juga membaca suatu teks tertulis dan karena itu dalam suatu riwayat dinyatakan bahwa Rasulullah saw bertanya, apakah yang harus saya baca? Maa dzaa aqra’, demikian pertanyaan beliau setelah berulang kali Jibril menyampaikan perintah tersebut sambil merangkul Beliau.

Berdasarkan hal tersebut maka terdapat beberapa pendapat ahli tafsir tentang objek bacaan yang dimaksud antara lain, pertama ada yang berpendapat bahwa objek bacaan adalah wahyu al-Qur’an sehingga objek perintah tersebut adalah bacalah wahyu-wahyu al-Qur’an ketika di turun nanti. Yang kedua, pendapat yang kedua, ada juga yang berpendapat bahwa objeknya adalah bismirabbika, di situ mengatakan iqra’ bismirabbika, itu menjadi objek ismi rabbika, sambil memperhatikan fungsi huruf ba, yang menyertai kata ismi, adalah sisipan sehingga ia berarti bacalah nama tuhanmu atau berdzikirlah. Namun pendapat ini ada yang tidak setuju dengan alasan bahwa mengapa Rasulullah menjawab bahwa saya tidak dapat membaca sekiranya yang dimaksud adalah perintah berdzikir, tentu tidak menjawab demikian karena jauh sebelum datangnya wahyu beliau telah berdzikir melakukan itu.

Pendapat yang ketiga, yaitu pendapat Syeikh Muhammad Abduh. Syaikh Muhammd Abduh membagi perintah menjadi dua, ada amrun takliifi dan ada amrun taqwiini sehingga beliau menjelaskan dan mengatakan, memahami perintah membaca di sini bukan sebagai beban tugas yang harus dilakukan atau amrun takliifi, sehingga membutuhkan objek. Tetapi perintah membaca tersebut adalah amrun taqwiini yang menuntut untuk mewujudkan kemajuan membaca secara aktual pada diri pribadi Muhammad Rasulullah saw.

Dalam kaidah bahasa Arab menyatakan, apabila suatu kata kerja yang membutuhkan objek, tetapi tidak disebutkan objeknya maka objek yang dimaksud bersifat umum, mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata tersebut. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa karena kata iqra digunakan dalam arti membaca, menelaah, menyampaikan dsb. Karena objeknya bersifat umum maka objek tersebut mencakup segala hal yang dapat terjangkau, baik yang merupakan bacaan suci yang bersumber dari Allah swt maupun yang bukan, baik yang menyangkut ayat-ayat yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Ringkasnya perntah iqra’ atau perintah membaca mencakup telaah terhadap alam raya, masyarakat, diri sendiri serta bacaan tertulis, baik yang suci maupun bukan yang suci.

Di samping itu, perintah membaca, menelaah, meneliti, dsb, dikaitkan dengan ungkapan bismi rabbika, dengan nama tuhanmu. Pengaitan tersebut merupakan syarat sehingga menuntut dari si pembaca bukan saja sekedar melakukan bacaan dengan ikhlas tetapi juga antara lain dituntut memilih bahan bacaan yang tidak mengantarnya kepada hal-hal yang bertentangan dengan nama Allah tersebut. Demikinlah al-Qur’an secara dini menggarisbawahi perintah membaca dan keharusan adanya keikhlasan serta kepandaian memilih bahan bacaan yang tepat.

Begitu pentingnya membaca sehingga perintah membaca diulang dua kali dalam surah al-Alaq, yaitu pada ayat yang pertama dan ayat yang ketiga. Namun perintah membaca yang kedua dirangkaikan dengan wa rabbukal akram, ini antara lain merupakan perintah untuk meningkatkan motivasi dan minat baca. Dalam ungkapan tersebut dapat dilihat perbedaan antara perintah membaca pada ayat yang pertama dan perintah membaca pada ayat ketiga. Yang pertama menjelaskan syarat yang harus dipenuhi seseorang ketika membaca yaitu membaca karena Allah swt sedangkan perintah yang kedua menggambarkan manfaat yang diperoleh dari bacaan, bahkan dari pengulaan bacaan tersebut. Dalam ayat ketiga dari surah al’Alaq Allah menjanjikan bahwa pada saat seseorang membaca dengan ikhlas, maka Allah swt akan menganugerahkan kepadanya ilmu pengetahuan, pemahaman, wawasan baru, walaupun yang dibacanya itu-itu juga. Apa yang dijanjikan ini terbukti dengan sangat jelas dalam kegiatan membaca.

Perintah membaca merupakan perintah yang paling berharga yang dapat diberikan kepada umat manusia karena membaca adalah jalan yang akan mengantarkan manusia mencapai derajat kemanusiannya yang sempurna sehingga tidak berlebihan jika dikatakan bahwa membaca adalah syarat utama untuk membangun peradaban. Bila diakui bahwa semakin luas pembacaan semakin tinggi peradaban, demikian pula sebaliknya maka tidak mustahil jika pada suatu ketika manusia akan didefinisikan sebagai makhluk pembaca, suatu defenisi yang tidak kurang nilainya, nilai kebenarannya dengan definisi yang lain. Sebagai makhluk sosial, makhluk berfikir, hal ini tidak mustahil akan tercapai manakala minat membaca sudah membudaya dalam masyarakat.

Sejarah umat manusia secara umum dibagi dalam dua periode utama. Sebelum penemuan baca tulis dan sesudahnya. Sekitar 5000 tahun yang lalu dengan ditemukannya baca tulis, peradaban manusia tidaklah melambat dan merangkak, tetapi mereka telah berhasil melahirkan tidak kurang dari 27 peradaban dari peradaban Sumeria sampai kepada peradaban Amerika sekarang. Peradaban yang datang memepelajari peradaban yang lalu dari apa yang ditulis dan dapat dibaca oleh peradaban yang akan datang. Manusia tidak lagi memulai dari nol berkat kemampuan tulis membaca itu. Manusia di muka bumi ini disamping bertugas sebagai abdillah, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an وَمَا خَلَقْتُ الجن والإنس إِلاَّ لِيَعْبُدُون juga bertugas sebagai khalifah fil ardh.

SesudahnyaRahasia Sukses Nabi/Prof. Dr. H. Ali Parman, MA/Al Markaz

Tausiyah Lainnya