Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

Nabi Sebagai Teladan Dalam Kehidupan Umat/Dr. KH. Mustamin Arsyad, MA/Al Markaz

Terbit 13 September 2019 | Oleh : admin | Kategori : Makalah/Ceramah/Pengajian
Nabi Sebagai Teladan Dalam Kehidupan Umat/Dr. KH. Mustamin Arsyad, MA/Al Markaz

Tidak semua orang yang beriman mendapatkan hidayah dari Allah untuk mengamalkan apa yang mereka imani. Tidak semua orang yang beriman mendapatkan hidayah untuk mengamalkan apa yang mereka yakini sebagai suatu kebenaran. Karena itulah di dalam al-Qur’an Allah mengajarkan kita doa agar kita mendapatkan hidayah pengamalan iman itu minimal kita baca 17 kali sehari semalam kala kita komitmen melaksanakan shalat lima waktu. Doa tersebut terdapat dalam surah al-Fatihah:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ, صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Ya Allah berilah kami hidayah untuk menuju ke jalan yang lurus, jalan yang lurus yang ditafsirkan oleh para ulama bahkan di dalam al-Qur’an sendiri menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan jalan yang lurus adalah mengamalkan apa yang kita imani sebagaimana para Nabi dan Rasul mengamalkan apa yang mereka imani tersebut.

Di dalam al-Quran betapa banyak ayat yang ditemukan yang memberikan jaminan kepada kita untuk mendapatkan keselamatan di dunia dan keselamatan di akhirat. Jaminan itu ada kriteria yang ditetapkan oleh Allah swt. Ketika Allah memberi garansi bahwa umat Nabi Muhammad akan mendapatkan imbalan surga di akhirat bahkan akan mendapatkan kehidupan yang sejahtera di dunia, persyaratan yang ditetapkan Allah dalam al-Qur’an dimulai dengan berbagai ayatnya antara lain, Allah swt berfirman

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa beramal saleh sedang dia beriman kepada Allah sama halnya dari kaum laki-laki atau dari kaum perempuan maka pasti kami akan memberikan kehidupan di dunia dengan kehidupan yang baik, kehidupan yang sejahtera dan pasti kami akan memberikan imbalan buat mereka di akhirat jauh lebih baik dari apa yang mereka dapatkan di dunia.

Ayat tersebut menggambarkan bahwa untuk mendapatkan keselamatan di dunia, kebahagian di dunia dan keselamatan di akhirat dan kebahagian di akhirat Allah menetapkan dua kriteria. Pertama, harus beriman kepada Allah dengan segala implementasi dan segala objek iman yang diatur dalam Islam. Yang kedua hanya dengan modal iman jaminan itu belum memenuhi kriteria untuk diberikan kepada kita oleh karena itu kriteria yang kedua adalah mengimplementasikan atau mengamalkan apa yang mereka imani. Oleh karena itu ketika al-Qur’an memberikan garansi kepada kita semua untuk mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan keselamatan di akhirat selalu ada sinergi antara iman dan amal kebaikan yang kita lakukan. Sayang sekali ummat Nabi Muhammad belum optimal mensinergikan antara iman yang sudah dimiliki dengan amal yang ditawarkan oleh Allah dalam berbagai ajaran al-Qur’an bagaimana semestinya kita menyikapi dan mengimplementasikan ajaran-ajaran tersebut berdasarkan iman.

Banyak hal-hal yang ditawarkan oleh Allah khususnya yang terkait dengan kehidupan duniawi, bahwa amal yang disebutkan oleh Allah tersebut seringkali dipahami oleh sebagian umat Islam bahwa yang dimaksud dengan amal itu adalah ketika kita shalat, ketika kita beribadah, ketika kita naik haji dsb. Itu tidak salah, itu benar tapi apabila kita pahami bahwa amal yang dimaksudkan oleh Allah di ayat ini adalah amal yang bersifat spiritual. Karena itu maka harus kita pahami bahwa apa yang dimaksud dengan iman yang bersinergi dengan amal? Iman yang bersinergi dengan amal artinya bahwa apa yang kita imani dalam al-Qu’an sebagai suatu kebenaran, apa yang kita imani dari perilaku-perilaku Rasulullah saw dan ajaran Rasulullah saw mestinya terimplementasi dalam kehidupan kita supaya implemementasi iman ini bersinergi dengan bentuk iman dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dalam membangun keluarga harus bersinergi antara iman dengan amal penerapan nilai-nilai yang ditawarkan oleh Rasulullah saw, nilai-nilai yang ada dalam al-Qur’an dalam menciptakan keluarga yang sakinah karena seringkali kita hanya berteori bahwa keluarga sakinah seperti ini, keluarga yang baik seperti ini tapi implementasinya dalam kehidupan keluarga jauh dari apa yang disebutkan oleh Allah swt dan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Demikianlah semua lini kehidupan kita, harus kita pahami bahwa ajaran Islam bukan hanya persoalan ritual, ajaran Islam terkait dari seluruh aspek kehidupan kita, mulai dari pada pembenahan diri kita secara fisik, pembenahan lingkungan kita secara fisik, semua diatur dalam Islam mulai dari bagaimana umat Islam memperhatikan kebersihan, bagaimana semestinya umat Islam memperhatikan yang namanya ketepatan waktu, bagaimana semestinya umat Islam menepati janji, itu semua masih jauh daripada implementasi komunitas umat Islam.

Justru implementasi-implementasi nilai amal yang saya sebutkan ini banyak diamalkan oleh mohon maaf oleh orang-orang non muslim. Ketika kita melihat bagaimana perilaku masyarkat di Barat, masyarakat di Jepang, bagaiman perilaku masyrakat-masyarakat yang hidup di negara maju lalu kita hubungkan dengan nilai-nilai pengamalan ajaran agama Islam, itu tergambar dalam kehidupan mereka.

Oleh karena itu tidak pernah kita dengar bahwa di Amerika ada flu burung, ada flu babi, bahwa di Jepang ada flu babi, kenapa? Karena semua penyakit-penyakit yang demikian sangat erat hubungannya dengan ketidakbersihan. Ketika umat Islam mengamalkan kebersihan dalam hidupnya saya kira yang namanya flu burung, yang namanya flu babi tidak akan meraja lela di kalangan umat Islam tetapi sebaliknya justru penyakit-penyakit menular lebih banyak diderita oleh mayoritas umat Islam di mana saja berada, di Indonesia, Afrika, Pakistan dsb. Karena umat Islam belum menerapkan kebersihan dalam al-Qur’an,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Allah sangat mencintai orang yang senantiasa bertaubat dan senantiasa membersihkan fisiknya dan memperhatikan kebersihan empiris. Di dalam al-Qur’an kebersihan jiwa disebut at-tazkiyah tapi kalau kebersihan fisik, empiris itu disebut attatahhur, artinya aththahaarah. Jadi ayat ini yang dimaksud adalah kebersihan bukan kesucian dalam bentuk fisik atau non empiris karena menggunakan wa yuhibbul mutatahhiriin.

Akan tetapi dalam mengimplementasikan atau mensinergikan iman dan amal tidak cukup hanya sebatas itu. Iman dan pengamalan dari ajaran iman itu perlu dikontrol oleh ilmu. Karena itu Rasulullah saw mengajarkan kepada ummatnya

من أراد الدنيا فعليه بالعلم

Barangsiapa yang ingin mendapatkan prestasi di kehidupan dunianya harus didasari dengan ilmu.

ومن أراد الأخرة فعليه بالعلم

Barangsiapa yang ingin mendapatkan prestasi akhirat hendaklah dia berilmu,

ومن أراد هما فعليه بالعلم

barangsiapa yang menghendaki prestasi kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat harus berilmu.

Ini merupakan ajaran Rasulullah yang bersifat realitas dengan kehidupan kita. Dalam kehidupan duniawi misalnya, untuk mendapatkan nafkah, beda cara mencari rezki orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu.

Sebagai contoh yang konkrit, petani yang tidak berilmu, beda penghasilannya dengan petani yang punya pengetahuan dengan ilmu pertanian. Begitu juga orang yang paham ekonomi beda pendapatannya dengan orang yang buta ekonomi ketika mencari nafkah, ketika berbisnis, itu sudah pasti. Ini yang dimaksud oleh Rasulullah man ‘araadaddun-yaa fa ‘alaihi bil ‘ilmi. Demikian kehidupan duniawi apabila kita buta, tidak punya latar belakang ilmu yang kita geluti, tidak punya ilmu perdagangan ketika kita berdagang, kita tidak punya ilmu keguruan apabila kita berprofesi sebagai guru, tidak punya latar belakang ilmu yang berkaitan dengan akademik apabila kita sebagai dosen maka kehidupannya amburadul, paling tidak dia bisa menyesatkan orang lain, kalau itu terkait dengan interaksi ilmiah.

Dalam kehidupan yang lain kita bisa saksikan seperti yang saya sebutkan tadi bahwa berbeda orang-orang yang melakukan usaha-usaha kehidupan yang didasari dengan ilmu pengetahuan yang terkait dengan usaha orang yang tidak didasari ilmu pengetahuan yang dimaksud. Juga seterusnya ketika Rasulullah saw bersadbda, man ‘araada al-akhirata fa ‘alaihi bil ‘ilmi, barangsiapa yang ingin mendapatkan keselamatan akhirat secara optimal hendaklah ia berilmu kenapa? Karena kalau hanya modal iman dan amal, seringkali amal yang dilakukan tanpa ilmu seringkali itu dipahami bahwa itu kebaikan, tapi ketika dikaji bahwa itu ternyata bukan kebaikan. Betapa banyak orang yang berilmu yang melakukan pengrusakan dalam kehidupan ini yang mengatasnamakan iman lalu kemudian dia menganggap dirinya beramal tetapi pengrusakan tersebut tidak mungkin terjadi apabila yang bersangkutan berilmu.

Di dalam teori ilmu pengetahuan dan ilmu sosiologi dikatakan bahwa orang yang berilmu tentang suatu persoalan secara profesional tidak akan mudah untuk didoktrin. Seorang yang paham akan ilmu agama tidak akan mudah didoktrin. Seorang yang tahu tentang ajaran Islam, bagaimana agama Islam membawa kerahmatan, tidak akan mudah didoktrin untuk melakukan pengeboman di mana-mana, karena terbukti yang melakukan hal-hal tersebut mereka menilai dirinya bahwa saya beriman dan saya beramal tapi sayang sekali tidak tahu ajaran Islam yang disebutkan di dalam al-Qur’an dan di dalam Hadis bahwa apa yang dikatakan itu iman dan amal adalah bertetentangan dengan ajaran Islam. Oleh karena itu banyak pelaku-pelaku kejahatan yang mengatasnamakan Islam, yang mengatasnamakan iman, sebenarnya mereka korban doktrin disebabkan karena mereka tidak berilmu. Rasulullah saw menegaskan man ‘araadhal akhirah fa ‘alaihi bil ‘ilmi. Oleh karena itu mari kita mewaspadai generasi kita dari berbagai pikiran-pikiran yang mengatasnamakan Islam, dan generasi kita tidak paham akan ajaran Islam jangan sampai termakan doktrin yang menganggap dirinya beramal, menganggap dirinya melakukan hal itu karena dasar iman tapi yang menyebabkan mereka melakukan itu adalah karena doktrin tanpa ilmu. Bahwa sesungguhnya iman dan ilmu itu harus dikontrol dan dikawal oleh ilmu pengetahuan.

Tidak ada orang yang tahu ilmu agama Islam, tidak ada orang yang punya ilmu al-Qur’an dan hadis yang mudah didoktrin, semua itu adalah penyimpangan-penyimpangan. Apa yang terjadi dalam kasus yang beredar pada beberapa hari ini tentang pin, gambar Nabi Muhammad, menggambarkan Nabi Muhammad, baik yang mengedarkan maupun yang memperbanyak itu semua melakukan karena mereka tidak tahu bahwa itu tidak benar, mereka tidak tahu kalau itu melanggar ajaran Islam.

Sedikit Penjelasan untuk mewanti-wanti dan mewaspadai berbagai peristiwa yang dilatarbelakangi pelakunya oleh umat Islam dan pada dasarnya itu melanggar norma-norma ajaran Islam. Salah satu di antaranya ketika beredar gambar dalam bentuk pin Nabi Muhamamd saw. Peristiwa itu ada dua kemungkinan motifnya, yang pertama yang melakukan hal itu intelektual, yang melakukan hal itu didasari oleh ingin mensakralkan Nabi Muhammad, ingin mengkultuskan Nabi Muhammad saw sebagaimana ajaran-ajaran agama yang lain ketika mengkultuskan Nabinya, ketika mengkultuskan tokoh-tokoh agamanya, itu yang pertama. Yang kedua ingin melecehkan Nabi Muhamamd saw. Apa yang dimaksud ingin mengkultuskan Nabi Muhammad. Dalam ajaran Islam yang namanya pengkultusan artinya menempatkan seseorang melebihi daripada kapasitasnya. Ketika Nabi Muhammad saw di dalam al-Qur’an dan di dalam Hadis Nabi saw beliau ditegaskan bahwa dia hanya Rasulullah saw,محمد رسول الله والذين معه Muhammad itu tidak lain hanya sebagai Rasul.

Ada usaha-usaha secara internal umat Islam ingin mengangkat derajatnya Nabi Muhammad melebihi kapasi­tasnya sebagai Rasul, mempertuhankan Nabi Muhammad. Karena ketika pengkultusan itu terjadi pada seseorang maka akan dikembangkan dengan mempertuhankan apa yang dikultuskan. Ajaran Islam tidak pernah melegitimasi pengkultusan terhadap Nabi Muhammad, artinya mengangkat beliau melebihi kapasitasnya sebagai Nabi dan rasul sebab bahwa tidak ada lagi tingkatan di atas Nabi dan rasul dalam konteks manusia melebihi kalau dia diangkat maka diatasnya hanya Tuhan. Sehingga kalau mengangkat Nabi melebihi kapasitasnya maka ujung-ujungnya dipertuhankan itulah yang terjadi seperti ajaran agama yang lain makanya tidak dibenarkan adanya pengkultusan.

Yang kedua kemungkinan terjadi hal itu karena disebabkan pelecehan terhadap Nabi Muhamamad. Apa yang dimaksud dengan pelecehan? Menempatkan Nabi Muhammad di bawah kapasitasnya. Muhammad itu dalam kehidupan kita ada dua dimensinya, beliau sebagai manusia dan beliau sebagai Rasul. Kalau Muhammad hanya diperlakukan sebagai manusia, hilang eksistensinya sebagai Rasul maka kita lecehkan beliau. Salah satu di antaranya bagaimana kita memperlakukan sosok beliau, baik pada waktu beliau masih hidup, ataipun beliau sudah wafat, kita perlakukan sebagai manusia biasa maka kita melecehkan beliau, termasuk ketika kita menempatkan posisinya sama dengan posisinya para sahabat bahkan sama dengan posisinya dengan kita semua, seenaknya kita gambar wajahnya, dibuatkan ilustrasi, karena itu pelecehannya, kalau itu tujuannya.

Oleh karena itu di dalam sebuah buku sejak beberapa tahun yang lalu yang buku itu yang sebagian umat Islam menganggap buku itu penghormatan dan penghargaan Nabi Muhammad. Ketika ada buku yang ditulis oleh non muslim tentang 100 tokoh yang berpengaruh di dunia. Ditempatkan Nabi Muhamamd sebagai urutan pertama, orang yang tidak paham bahwa di balik itu adalah pelecehan, menganggap bahwa kita dihormati oleh mereka padahal kita dilecehkan, kenapa? Karena disejaajrkan Nabi Muhammad dengan orang-orang yang lain itu, disejajarkan Nabi Muhammad dengan Enstein, dengan penemu-penemu yang lain, itu tidak seperti itu. Dalam memperlakukan Nabi Muhammad tidak mungkin ada yang dibandingkan dengan beliau. Nabi Muhamamd saw selain sebagai manusia, beliau juga sebagai Nabi dan Rasul, yang memiliki kedudukkan di sisi Allah swt yang sangat mulia.

Dalam ajaran Islam tidak dibenarkan untuk mengkul­tuskan Nabi Muhammad dan tidak dibenarkan untuk melecehkan Nabi Muhammad baik dari dalam maupun dari luar. Kita wanti-wanti kemungkinan-kemungkinan apa ajaran Islam tentang Nabi Muhammad. Ajaran islam tentang Nabi Muhammad adalah mencintai beliau, menghormati beliau dengan memberikan berbagai kecintaan-kecintaan kepada beliau, mengikuti akhlak beliau, itu yang diajarkan dalam Islam. Bukan melecehkan tetapi menghormati, menghargai, mengikuti akhlak beliau. Saya kira dengan demikian mari kita pahami ajaran Islam sehingga kita tidak terjebak dengan kasus-kasus perintangan yang merajalela di kalangan umat Islam untuk membodoh-bodohi umat Islam yang tidak punya ilmu sehingga melakukan berbagai praktek-praktek yang menyimpang dari ajaran agama sebagaimana apa yang disebutkan tadi oleh al-Qur’an,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُون

Itulah yang perlu disikapi dalam beragama, bersosial dan dalam kehidupan kita sebagai hamba Allah yang mendapatkan tanggung jawab dari Allah sebagai khalifah untuk menata hidup kita sendiri, untuk menata hidup orang lain, untuk menata seluruh kehidupan, di alam di mana kita berada yaitu di dunia. Karena yang dimaksud dengan khalifah jangan sampai kita terjebak istilah khalifah. Bahwa istilah khalifah yang ada di dalam al-Qur’an, yang ada dalam surah al-Baqarah adalah tanggung jawab personil, tanggung jawab setiap orang yang memiliki potensi akal dan memiliki potensi iman untuk menata hidupnya dan menata kehidupannya, menata masyarakatnya adan menata alam ini sehingga mendapatkan keselamatan di dunia dan keselamatan di akhirat.

SebelumnyaNabi Sebagai Rahmatan Lil Alamin/Drs. H. Maskur Yusuf, MA/Al Markaz SesudahnyaIslam Agama Damai/Prof. Dr. H. Rahim Yunus, MA/Al Markaz

Tausiyah Lainnya