Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

Pakaian Takwa Membentuk Kesalehan Sosial/Dr (Hc). AGH. Sanusi Baco, Lc/Al Markaz

Terbit 13 September 2019 | Oleh : admin | Kategori : Makalah/Ceramah/Pengajian
Pakaian Takwa Membentuk Kesalehan Sosial/Dr (Hc). AGH. Sanusi Baco, Lc/Al Markaz

Alhamdulillah adalah ucapan yang mulia untuk selalu diucapkan oleh seorang hamba berulang-ulang sebagai penterjemahan isi hati atas segala nikmat karunia Allah yang tak terhitung sesuai dengan firman-Nya

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

Kata Allah swt, jika kalian mau menghitung-hitung nikmat Allah maka kalian tidak mampu menghitungnya. Ayat ini merupakan kebenaran mutlak sehingga sampai hari ini dan seterusnya belum ada organisasi, belum ada satu alat yang pernah mencoba-coba menghitung nikmat Allah dan seandainya ada alat yang mau mencoba menghitung nikmat Allah swt mungkin alatnya sudah rusak tapi nikmat Allah belum selesai dihitung. Begitu banyak nikmat Allah swt khususnya kepada kaum muslimin dan lebih umum kepada seluruh umat manusia.

Salawat dan taslim kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. Nabi yang tidak pernah kurang istigfarnya, memohon ampun kepada Allah sebanyak 100 kali. Lalu timbul pertanyaan apakah itu berarti Nabi banyak dosanya? Jawabnya tentu tidak, tapi Nabi mohon ampun kepada Allah sekurang-kurangnya 100 kali dalam sehari, karena setelah beliau menghitung-hitung amalnya, menghitung-hitung pengabdiannya memimpin umatnya lalu kemudian dia bandingkan nikmat Allah dengan nikmat yang diterima, maka Nabi menganggap seluruh amal dan pengabdiannya belum ada artinya dibanding dengan nikmat yang dia terima. Oleh karena itu, dia mengatakan “ampunilah saya ya Allah masih terlalu sedikit amalku dibanding dengan nikmatmu yang telah saya terima”. Apatah lagi kita umatnya yang perbedaannya sangat jauh dibanding beliau.

Lazimnya di kalangan kita umat islam pada hari ied atau hari lebaran dengarkan ucapan minal ‘aaidin wal faaidziin yang kalau diterjemahkan mengandung arti, “mudah-mudahan kita semua termasuk orang-orang yang baru kembali, wal faidziina membawa kemenangan”.

Ungkapan ini merupakan doa tetapi tidak dijelaskan kita kembali dari mana dan mau ke mana. Kita semua baru kembali dari perjuangan melawan hawa nafsu. Bumi yang sangat luas ini diandaikan suatu panggung raksasa. Di atas panggung ini bertarung dua kekuatan, yaitu kebenaran dan kebatilan. Sutradaranya manusia dan syaitan. Manusia bertugas memenangkan kebenaran tidak ada pilihan lain, dan syaitan bertugas memenangkan kebatilan.

Puasa adalah kebenaran dan tidak puasa adalah kebatilan. Kalau demikian siapa yang berhasil berpuasa pada bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan keiklasan berarti dia telah berhasil memenangkan kebenaran dan dia telah masuk minal ‘aaidiina wal faaidzin. Sebaliknya, orang yang tidak berpuasa tanpa alasan atau berpuasa hanya 10 hari, tiga hari tanpa alasan maka ia telah berhasil memenangkan kebatilan dan dia tidak termasuk minal ‘aaidiina wal faaidziin, tapi dia termasuk minal ‘aaidiina wal khasiriina kembali dari satu perjuangan tapi yang dibawa adalah kekalahan dan kerugian.

Selama satu bulan di bulan Ramadhan kita berusaha menenun, memintal pakaian takwa dan pakaian takwa itu itu dipakai pada 1 syawal dan seterusnya untuk mendapatkan predikat al-muttaqun atau orang-orang yang bertakwa.

Orang-orang yang bertakwa ialah orang-orang yang menjadikan takwa sebagai syiarnya. Sepanjang masa orang-orang yang bertakwa ialah orang-orang yang menjadikan takwanya sebagai pakaiannya selama hidupnya. Orang-orang yang bertakwa ialah orang-orang yang menjadikan takwanya sebagai pegangan hidupnya sampai dia dipanggil oleh Allah untuk menghadap ke hadirat-Nya. Orang-orang yang bertakwa sebagai hasil dari puasa ialah dengan takwanya dia mampu mengendalikan dirinya, nafsunya terutama dua nafsu, nafsu makan dan nafsu berhubungan suami-isteri dan dia mampu mengendalikan dirinya pada saat dia marah.

Orang-orang yang bertakwa ialah orang-orang yang tidak suka berdusta karena dusta berarti telah mendustai dirinnya sendiri. Dusta adalah penyakit dan kebenaran adalah kemuliaan.

Seandainya semua orang berusaha untuk tidak dusta karena ia telah dididik oleh puasa Ramadan. Anak tidak men­dustai orang tuanya, orang tua tidak mendustai anaknya, suami tidak dusta terhadap istrinya dan istri tidak dusta terhadap suaminya. Pemerintah tidak dusta kepada rakyat dan rakyat tidak dusta kepada pemerintahnya, insya Allah akan terbangunlah masyarakat madani, masyarakat yang tenteram seperti tenteramnya perasaan selama bulan Ramadhan.

Orang yang bertakwa ialah orang-orang yang memiliki rasa kasih sayang dan keberadaanya di tengah-tengah masyarakat dirasakan sebagai rahmat. Puasa menghendaki agar kita semua menjadi orang-orang rahmat. Kalau kita seorang anak, jadilah rahmat terhadap orang tuanya. Orang tua hendaknya menjadi rahmat terhadap anak-anaknya dan hendaklah suami menjadi rahmat terhadap istrinya dan hendaklah pemerintah menjadi rahmat bagi rakyatnya dan hendaklah rakyat menjadi rahmat terhadap pemerintahnya.

Kasih sayang adalah ajaran inti dari agama Islam. Rasulullah bersabda yang artinya: “Sayangilah, kasihanilah kata Nabi seringlah mengunjungi orang yang pernah jaya hidupnya lalu jatuh hina. Yang kedua kata Nabi sayangilah, hormatilah orang-orang yang pernah kaya lalu jatuh miskin. Cari itu dan yang ketiga kata Nabi sayangilah, hormatilah ulama yang hidup di tengah-tengah orang bodoh.

Inilah yang diharapkan oleh Nabi agar setiap umatnya bisa menjadi rahmat, kasih sayang di antara kita, ukhuwah islamiyah di antara kita adalah nilai yang paling mahal sehingga diharapkan kepada kaum muslimin untuk menjunjungnya setinggi mungkin.

SebelumnyaPengaruh Ibadah Haji Dalam Kehidupan Sosial/Dr. KH. Baharuddin HS., MA./Al Markaz SesudahnyaStrategi Dakwah/Anwar Arifin/Al Markaz

Tausiyah Lainnya