Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

PANCASILA SEBAGAI KALIMATUN SAWA BAGI PEMBANGUNAN BANGSA/MARDAN/AL MARKAZ

Terbit 2 Oktober 2020 | Oleh : admin | Kategori : ceramah jum'atKhutbah jum'atMakalah/Ceramah/Khutbah Jum'at
PANCASILA SEBAGAI KALIMATUN SAWA BAGI PEMBANGUNAN BANGSA/MARDAN/AL MARKAZ

Kaum Muslimin, Jamaah Jumat, serta Para Pendengar Radio-Masjid al-Markaz al-Islami yang Disayangi Allah swt.!
Kemarin dulu, tepatnya tanggal 13 Safat 1442 H/30 September 2020 M., kita peringari Hari Peringatan Gerakan 30 September/PKI; dan kemarin tertanggal 14 Safar 1442 H/01 Oktober 2020 M., kita juga memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Ini semua dilakukan sebagai bagian penting dari tanda syukur kita atas keberhasilan para pahlawan dan syuhada bangsa, menggagalkan berbagai idiologi, di antaranya: Nasakom, Demokrasi Terpimpin, Ravolusi, dan puncaknya G 30 S PKI Tahun 1965 sebagai misi komunis yang ingin mengganti Dasar Negara Indonesia (Pancasila) sebagai idiologi negara dengan idiologi komunis. Dengan kegagalan tersebut ketika itu, selanjutnya Pancasila sebagai idiologi nasional semakin memperlihatkan kesaktiannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sekarang dengan kehadiran Pandemi Covid-19 yang bersifat global, terutama ketika melihat karakteristiknya dan multiplier effect yang ditimbulkan, Pancasila dengan 5 sila-silanya kembali teruji, yang pada awalnya hanya dari bidang kesehatan, kemudian berlanjut pada bidang perekonomian, pendidikan, kegamaan, lingkungan, pemerintahan, dan pangan, bahkan sudah menelan korban meninggal sebanyak kurang lebih sejutaan jiwa manusia dan 36-jutaan kasus. Tantangannya, apakah kita sebagai bangsa Indonesia masih mampu membasminya paling tidak di tahun 2020 ini? Di sinilah letaknya tugas berat kita semua, dan negara hanya meminta satu hal saja untuk sementara dari kita semua sebagai syarat menuju terbebasnya bangsa Indonesia dari Bencana Global itu, yakni kesadaran tinggi kita untuk mau menegakkan Protokol Kesehatan yang telah dirumuskan oleh Pemerintah dengan berdisiplin tinggi sambil dibarengi banyak berzikir dan berdoa kepada Allah swt. serta banyak berbuat baik pada sesama. Insyaallah, dengan terbasminya Pandemi Covid-19 ini, Bangsa Indonesia sudah bisa memulai untuk menata dan mengembangkan kembali kehidupannya dari berbagai dimensi menuju “Indonesia Maju Berlandaskan Pancasila” sebagaimana tema peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2020.
Keputusan pemerintah sejak tahun 2017 ditetapkan 1 Juni resmi menjadi hari libur Nasional dalam memperingati hari “Lahirnya Pancasila” patut diapresiasi, disebabkan karena;
Untuk me-refresh kembali spirit ber-Pancasila bangsa, yang terus memudar. Bahkan sejak masa reformasi, kita tidak lagi mengenal pembelajaran tentang Pedoman, Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) bagi peserta didik.
Untuk membentengi rakyat Indonesia dari paham yang bertentangan dengan Pancasila, misalnya paham komunis yang jelas-jelas bertentangan dengan Pancasila, dikhawatirkan akan bangkit kembali.
Untuk merekatkan terus kemajemukan bangsa yang belakangan terancam mengalami disintegrasi. Saat ini, kita menyaksikan hilangnya semangat kebersamaan di tengah masyarakat. Mereka terlihat makin sensitif dan kerap terlibat kekerasan masif bernuansa SARA.
Dalam konteks inilah, menetapkan 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila menemukan signifikansinya. Memang harus selalu ada upaya untuk menyatukan bangsa yang beragam ini, agar tidak menjadi serpihan-serpihan yang mudah terserak. Bubarnya beberapa negara besar seperti Uni Soviet dan Yugoslavia, atau terpisahnya Ceko dan Slowakia, serta terbelahnya India jadi Pakistan dan Bangladesh, cukup jadi pelajaran betapa pengabaian nilai-nilai kebersamaan bisa berakibat fatal bagi keberlangsungan persatuan dan kesatuan suatubangsa.
Pancasila sebagai kalimatun sawa bagi pembangunan bangsa
Bagi bangsa Indonesia yang selama ini telah memiliki 5.193.250 km persegi luas wilayah (terbesar dan terluas ke-7 di dunia, setelah Rusia, Kanada, Amerika Serikat, China, Brasilia, dan Australia), 2/3-nya adalah lautan (Negara Kepulauan Terluas di Dunia), 17.504 Pulau, 733 Bahasa, 1.340 Suku, dan 6 agama resmi dan puluhan Aliran Kepercayaan, memang tidak gampang mempersatukannya, ia membutuhkan strategi khusus. Di sinilah letak antara lain kesaktian Pancasila sebagai kalimatun sawa’ (common platform/titik temu) yang telah menyatukan keragaman etnis, ras, budaya dan agama. Meskipun pada awal Indonesia merdeka terjadi perdebatan panjang tentang ideologi negara, namun founding fathers menemukan titik temu pada sebuah terminologi bernama Pancasila. Pancasila sebagai perekat dan pemersatu bangsa Indonesia, terlihat dalam sila-silanya yang merupakan konsepsi dasar dalam menyatukan berbagai perbedaan yang ada di Indonesia. Kemajemukan bangsa yang terdiri atas berbagai suku bangsa, bahasa, adat, dan agama, hanyalah mencerminkan kekayaan budaya Nusantara, akan tetapi semuanya mampu bersatu dan berdiri kokoh di atas satu titik temu, yakni Pancasila. Karena itu, dengan kebersamaan dan persatuan inilah yang menjadi modal utama bagi pembangunan bangsa menuju Indonesia Berkemajuan. Untuk mencapainya, kita harus bersatu-padu dan saling bertukar-budaya terutama dalam pembinaan generasi millenial kita. Menurut Prof. Dr. Yusuf Qardhawi, “Apabila kita ingin melihat sebesar apa kemajuan suatu negara di masa depan, maka lihatlah pemudanya hari ini. Dalam al-Quran Allah swt. tegaskan, sebagaimana firman-Nya dalam QS al-Hujurat/49:13, seperti tersebut di atas.
Saat itu, Umat Islam baik di parlemen maupun lapisan grass root mendukung upaya ke arah yang lebih substantif, di mana Islam dan negara tidak berada pada posisi yang berlawanan, namun saling menguatkan. Kelompok ini sukses mengintegrasikan kesalehan beragama dengan bernegara tanpa mengabaikan kebhinekaan yang ada. Terbukti, dalam kurun 15 tahun reformasi bergulir, mereka mampu mewarnai produk-produk hukum yang terintegrasi dengan Islam. Pada gilirannya, Pancasila sebagai kalimatun sawa’, justru mendukung umat beragama melaksanakan keyakinan beragama secara moderat, toleran, dan inklusif. Sikap toleransi bagi seorang mukmin penting demi memelihara marwah Islam dan umat Islam itu sendiri. Dasarnya kuat dan tegas dalam QS al-Kafirun/109:6, sebagaimana tersebut di awal bahasan di atas. Dalam arti, toleransi yang tidak mengorbankan akidah.
Menurut K. H. Hasyim Asyari, Pancasila sebagai idiologi nasional, cita-cita, serta tujuan negara, dan sebagai kalimatun sawa/titik temu bagi bangsa Indonesia penting, sebab tanpa Pancasila, masyarakat Indonesia sulit bersatu, lihat misalnya: Uni Soviet dan Yugoslavia, atau terpisahnya Ceko dan Slowakia, serta terbelahnya India jadi Pakistan dan Bangladesh, cukup jadi pelajaran betapa pengabaian nilai-nilai kebersamaan bisa berakibat fatal bagi keberlangsungan persatuan dan kesatuan suatu bangsa. Dalam pada itu menurutnya, Pancasila wajib hukumnya dipertahankan, karena kalau tidak, maka bangsa Indonesia akan mudah terpecah- belah, serta tidak memiliki tujuan dalam bernegara dan berbangsa, persis sama halnya dengan warga yang membela bangsanganya, hukumnya fardlu ain. Dan pada saat yang sama, beliau berfatwa, “Hubbul wathani minal iman” (Cinta Tanah Air adalah Sebagian dari Iman).
Akhirnya, Pancasila sebagai dasar negara Indonesia telah menjadi perekat satu-satunya dan pemersatu bangsa Indonesia. Tanpa Pancasila, bangsa Indonesia mustahil dapat bersatu. Karena itu, ia telah manjadi kalimatun sawa bagi pembangunan bangsa. Dalam pada itu, Indonesia bukan milik satu agama saja, tetapi milik semua agama yang diakui di Indonesia serta penghayat kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain Pancasila, yang bertujuan untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, juga yang tidak kalah pentingnya, adalah sikap toleran, moderat, dan inklusif dalam beragama dan bernegara. Demikian, wa Allah a’lam, semoga!

SebelumnyaPENTINGNYA MENSYUKURI NIKMAT ALLAH SWT/DR. M. ILHAM MUCHTAR, LC., MA./AL MARKAZ SesudahnyaSTRATEGI MENGHADAPI PANDEMI COVID 19 : PENDEKATAN SYARIAH ISLAM/ PROF. DR. H. MOH. ARFIN HAMID, SH,MH/AL MARKAZ

Tausiyah Lainnya