Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

Pengaruh Ibadah Haji Dalam Kehidupan Sosial/Dr. KH. Baharuddin HS., MA./Al Markaz

Terbit 13 September 2019 | Oleh : admin | Kategori : Makalah/Ceramah/Pengajian
Pengaruh Ibadah Haji Dalam Kehidupan Sosial/Dr. KH. Baharuddin HS., MA./Al Markaz

Secara hukum, ibadah haji wajib dilakukan sekali seumur hidup bagi setiap orang yang beragama Islam yang mempunyai kesanggupan, sedang haji yang lebih dari sekali adalah sunnah. Kewajiban untuk melaksanakan ibadah haji yang pertama kalinya diserukan oleh Nabi Ibrahim as. Seruan itu diabadikan dalam al-Qur’an surah al-haj ayat 27, dengan firman-Nya

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

Dan berserulah kepada manusia untuk melaksanakan haji niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.

Panggilan Nabi Ibrahim as untuk melaksanakan haji terjadi sekitar 3600 tahun yang lalu. Sejak saat itu manusia mulai melaksanakan haji ke Mekah dengan ritual yang diwariskan oleh Ibrahim dan Ismail as.

Dalam perjalanan sejarah, praktek pelaksanaan ibadah haji telah banyak mengalami penyimpangan yang kemudian diluruskan kembali oleh Nabi kita Muhammad saw. Salah satu yang diluruskan itu adalah ritual yang bertentangan dengan nilai-nilai kemansuian universal yang diinginkan Islam. Dalam konteks ini al-Qur’an menegur kelompok al-Hammas yang merasa lebih mulia dan terhormat dari kelompok lain sehingga enggan bergabung melakukan wukuf. Orang banyak melakukan wukuf di arafah, mereka wukuf di Muzdalifah, pemisahan diri karena perasaan superioritas ini, dan al-Quran sehingga turun ayat Surah al-Baqarah ayat 199 yang berbunyi

ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيم

Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak yaitu dari Arafah dan mohonlah ampun kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Rasulullah saw juga membatalkan praktek tawaf dengan bergandengan tangan. Memang filosofi bergandengan tangan dapat mempererat rasa persaudaraan dan persamaan tetapi tawaf dengan bergandengan tangan akan menyulitkan terlebih lagi di tengah-tengah jutaan jamaah haji.

Kewajiban haji hanya bagi orang yang mampu, biaya, fisik, waktu dan terjaminnya keamanan. Para ulama berbeda pendapat kapan kewajiban haji itu harus dilaksanakan, apakah segera setelah mampu atau dapat ditunda. Menurut imam Abu Hanifah, Abu Yusuf, ulama mazhab Maliki dan pendapat terkuat dari kalangan mazhab Hanbali, apabila seseorang telah mampu memenuhi persyaratan ia wajib segera melaksanakan haji dan tidak boleh menundanya, jika ditunda sampai beberapa tahun maka ia dipandang sebagai orang fasik karena penundaan itu termasuk perbuatan maksiat. Bila penundaan itu menyebabkan biaya untuk naik haji itu habis maka yang bersangkutan harus meminjam uang dari orang lain sebagai biaya untuk melakukan ibadah haji.

Alasan tentang tidak bolehnya menunda pelaksanaan haji, bagi seorang yang mampu adalah surah al-Imran ayat 97 :

فِيهِ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آَمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ .

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah yaitu bagi orang-orang yang sanggup melakukan perjalanan ke Baitullah, Hadis Nabi sebagai berikut:

تَعَجَّلُوا إِلَى الْحَجِّ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَا يَدْرِي مَا يَعْرِضُ لَهُ

Bersegeralah kalian untuk melaksanakan haji karena sesungguhnya salah seorang di antara kalian tidak ada yang mengetahui sesuatu yang akan menghalanginya.

Pendapat perlunya menyegerakan ibadah haji bagi yang mampu juga yang dikemukakan oleh Sayyidina Ali ra yang memperingatkan bagi orang yang mampu tapi lalai mengerjakan haji. Beliau berkata “orang yang telah mampu untuk melaksanakan haji tapi tidak melaksanakannya maka janganlah sampai orang tersebut mati seperti matinya orang Yahudi atau Nashrani.

Setiap perintah Allah dan Rasulnya adalah yang terma­suk kategori hukum mutlak segera dilakukan kecuali ada indikasi yang menghendaki lain. Bagi ulama mazhab Syafi’i, kewajiban menunaikan haji tidak mesti ditunaikan, namun jika sudah mampu dianjurkan, disunnahkan segera menunaikannya agar tanggung jawab atau kewajiban tersebut terlepas dari dirinya. Kewajiban menunaikan ibadah bagi mereka yang telah mampu dan memenuhi syarat wajib dapat ditunda karena Rasulullah saw sendiri menunda pelaksanaan ibadah haji sampai pada tahun ke 10 H. padahal kewajiban menunaikan ibadah haji sudah diperintahkan semenjak tahun ke 6 H.

Kewajiban haji bagi seorang muslim hanya sekali seumur hidup sebagaimana sabda Nabi,

الْحَجُّ مَرَّةٌ فَمَنْ زَادَ فَهُوَ تَطَوُّعٌ

Pelaksanaan haji itu hanya satu kali dan barangsiapa yang menambah itu merupakan perbuatan sunnat.

Haji merupakan kongres tahunan umat Islam sedunia yang dimanfaatkan sebagai sarana memupuk persatuan dan kesatuan ummat. Persatuan antara antara sesama umat Islam melalui haji ini sangat potensial dilakukan karena semua jamah haji selama melaksanakan ibadah haji dilatih dengan situasi yang sama melalui rangkaian ritual haji, adanya keseragaman rangkaian pelaksanaan ibadah haji memberikan pelajaran bahwa umat Islam harus mempunyai visi dan misi yang sama yaitu menegakkan syariat Islam. Semua pelaksanaan rukun haji dilakukan pada waktu yang sama dan tempat yang sama pula mereka sama-sama melakukan tawaf, sai melontar jumrah, wukuf di padang arafah dan berbagai ritual haji lainnya. Dengn persamaan rasa ini akan terbentuk persamaan cita-cita yang dilandasi ukhuwah islamiyah. Kesadaran akan nilai-nilai kemanusian yang universal akan selama ibadah haji dilakukan.

Ibadah haji dimulai dengan niat sambil menanggalkan pakaian biasa dan menggunakan pakaian ihram yang serba putih di miqat makaani sebagai tempat ritual ibadah haji dimulai. Sejak saat itu semua perbedaan-perbedaaan yang bersifat lahiriyah antara sesama manusia harus ditanggalkan mulai dari tempat ini harus ditanggalkan pakaiaan kemegahan pejabat,ditanggalkan pakaian kesukuan dan kebangsaan. Semua jamaah haji berada dalam satu kesatuan dan persamaan. Di miqat ini pula apapun ras dan suku seseorang dilepaskan, semuanya sama di hadapan Allah dengan menggunakan pakaian kesatuan yang tidak membedakan antara si kaya dan si miskin, tidak membedakan antara pejabat dan rakyat biasa, dan tidak pula membedakan nsuku dan bagsa, pakaian tersebut berwarna putih sebagai lambang bahwa manusia sama di hadapan Allah kecuali pembeda antar mereka adalah tingkat ketakwaan yang mereka miliki.

Melalui sarana ibadah haji terbuka kesempatan yang seluas-luasnya untuk saling mengenal dan bertukar fikiran atas dasar nilai-nilai kemanusian yang universal, wujud persamaan nilai kemanusiaan ini tampak jelas dalam khutbah Nabi saw pada haji wadha yaitu persamaan, keharusan memelihara jiwa dan kehormatan orang lain, dan larangan untuk melakukan pemerasan atau penindasan terhadap kaum lemah dalam bidang ekonomi maupun di bidang-bidang lainnya. Seorang yang telah melaksanakan haji dengan segala ketentuan ia telah terbebas dari kewajibannya. Bagi mereka yang mempunyai kemampuan biaya, fisik, waktu dan keamanan dalam perjalanan, Rasulullah saw menganjurkan untuk melaksanakan haji sekali dalam lima tahun. Itulah yang dikemukakan oleh al-Baihaqi dalam sebuah hadis yang diriwayatkannya.

Selain itu haji merupakan ibadah mahdah di mana semua tata cara pelaksanaannya tergantung dari apa yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Umat Islam tidak dapat menambah atau mengurangi syariat haji kecuali sebatas pengembangan atas apa yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an dan Sunnah. Selain sebagai pribadi manusia sekaligus sebagai makhluk sosial. Seseorang secara pribadi tidak dapat mememnuhi kebutuhannya sendiri. Ia memerlukan jasa orang lain, si kaya ia memerlukan si miskin, begitu pula sebaliknya, pimpinan memerlukan bawahan dan begitu pula sebaliknya. Demikianlah orang lain atau masyarakat telah banyak memberikan jasa dalam memenuhi dan melengkapi kebutuhan hidup kita bahkan ketika meninggal sekalipun kita membuthkan jasa orang lain untuk mengubur jenazah kita, dengan demikian kita harus memberikan kontribusi untuk kepentingan orang lain tidak hanya mementingkan diri sendiri. Inilah yang dinamakan peran timbal balik antara pribadi dan masyarakat.

Dalam hal ini Islam mengajarkan keserasian antara kehidupan pribadi dan kehidupan sosial. Kegiatan sosial yang dalam bahasa agama dapat diidentikkan dengan amal shaleh ialah segala perbuatan positif yang bermanfaat bagi kebaikan diri dan orang lain. Al-Qur’an seringkali menyebut term amal saleh beriringan dengan iman. Ini menunjukkan bahwa iman dan ibadah ritual seperti haji yang cenderung sebagai amalan pribadi harus direfleksikan dalam kehidupan sosial dengan memperbanyak amal saleh atau dengan kata lain amal shaleh merupakan refleksi kualitas iman danibadah ritual. Lawan dari amal shaleh adalah amal sayyi’ah, perbuatan negatif yang merugikan diri sendiri.

Setelah pulang dari menunaikan ibadah haji, kita mening­katkan ibadah tauhid, meningkatkan ibadah ritual, meningkatkan sifat-sifat luhur, juga harus memperbanyak amal shaleh dalam bentuk kegiatan sosial dan kepedulian dalam rangka meraih haji yang mabrur. Kemambruran haji tidak ditandai dengan ditambahnya titel haji di depan nama atau mengenakan pakaian ala Arab. Kemambruran haji ditandai dengan meningkatnya ketakwaan, keimanan dan amal saleh seseorang yang telah menunaikan haji, serta dapat menjadi teladan di tengah-tengah masyarakat. Sabda Nabi kita Muhammad saw.

من علامة حج مبروريكون الحج أحسن حالا من قبل وأن يكون قدوة لأهل بلده

Di antara tanda haji mabrur adalah haji yang keadaannya lebih baik dari seebelumnya dan menjadi contoh bagi penduduk kampungnya.

SebelumnyaNikmatnya Memberi/Dr. H. Muammar Bakry, Lc. MA/Al Markaz SesudahnyaPakaian Takwa Membentuk Kesalehan Sosial/Dr (Hc). AGH. Sanusi Baco, Lc/Al Markaz

Tausiyah Lainnya