Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

PENTINGNYA ASUPAN KASIH SAYANG BAGI PERKEMBANGAN KESEHATAN MENTAL ANAK/H. SHAIFULLAH RUSMIN/AL MARKAZ

Terbit 23 Oktober 2020 | Oleh : admin | Kategori : CERAMAHceramah jum'atIbadahKhutbah jum'at
PENTINGNYA ASUPAN KASIH SAYANG BAGI PERKEMBANGAN KESEHATAN MENTAL ANAK/H. SHAIFULLAH RUSMIN/AL MARKAZ

Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah,
Pada kesempatan khutbah ini saya mengajak hadirin untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT serta senantiasa mensyukuri semua kenikmatan dan karunia yang diberikan kepada kita dengan menggunakan dan menyalurkannya pada jalan yang diridhai oleh-Nya.
Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah Setiap orangtua menyadari pentingnya asupan nutrisi yang baik untuk pertumbuhan anak. Selain nutrisi fisik orangtua juga perlu memerhatikan nutrisi psikis. Seringkali terjadi, orangtua lebih fokus pada pemberian nutrisi fisik dan mengabaikan nutrisi psikis. Nutrisi psikis yang dimaksud adalah pemberian cinta, perhatian, dan kasih sayang, yang diwujudkan dalam ucapan, tindakan, sentuhan, dan tutur kata lembut terhadap anak. Anak yang semasa pertumbuhannya kurang mendapat nutrisi psikis akan mengalami banyak gangguan dan hambatan, yang akan tampak dalam pertumbuhan fisik, mental, dan emosi anak yang kurang optimal. Sebuah adagium Arab menyatakan bahwa, keluarga adalah sekolah pertama dan utama bagi anak. Kedua orangtua merupakan guru pertama yang mengajarkan begitu banyak hal pada anak, termasuk dari sisi emosional berupa cinta kasih. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan sepanjang 12 tahun, terungkap bahwa anak yang dibesarkan dengan merasakan kasih sayang orangtua memiliki masa depan yang lebih baik. Kasih sayang orangtua ini bisa dicurahkan dengan cara sederhana. Di dalam kajian psikologi anak, bentuk atau ungkapan cinta, dan kasih sayang orangtua kepada anak dapat dilakukan dengan lima bahasa kasih; yaitu menyediakan waktu berkualitas, memberi pujian atau kata-kata yang mendukung, tindakan pelayanan, sentuhan fisik, dan pemberian hadiah. Kelima bahasa kasih ini perlu dilengkapi dengan tatapan mata saat orangtua
berkomunikasi dengan anak.salah satunya. Dengan demikian, anak akan merasa bahagia dan aman sehingga berimbas positif pada banyak aspek dalam kehidupannya
Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah,
Sebagaimana peran penting orang tua dalam keluarga dan rumah tangga muslim terhadap generasi pelanjut, yang akan tampil menggantikan kita 20-30 tahun yang akan datang, lalu bagaimana realitas obyektifnya sekarang? Realitasnya sangat mengkhawatirkan. Data yang saya dapatkan dari Pengadilan Tinggi Agama Makaassar menyebutkan bahwa di Kota Makassar pada tahun 2019 terjadi 2.057 kasus perceraian. Itu berarti setiap hari terjadi 6-7 keluarga yang bercerai. Di balik itu tentu akan kita dapatkan angka anak-anak yang tidak mendapatkan pendidikan yang baik dari keluarganya secara sempurna. Keluarga yang hancur berantakan adalah salah satu faktor yang sangat mempengaruhi, jika kita tidak ingin kita katakana sebagai faktor utama lahirnya kasus-kasus kenakalan remaja dan berbagai realitas yang sangat mengkhawatirkan bagi generasi pelanjut kita.
Karena itu, sebagai manusia yang beriman, sebagai pengikut Rasulullah SAW, tentunya kita harus selalu menghadirkan sunnah, menghadirkan ajaran dan harapan Rasulullah SAW yang kelak akan membanggakan pehgikutnya yang banyak di hadapan para Rasul. Dan kita yakin kebanggaan RAsulullah saw tidak semata kuantitas, namun yang utama adalah kualitas. تزوجوا امودود امومود فإني مكاثر بكم . رواه أٔبو دا ود
“Menikahlah kalian dengan wanita yang penyayang dan subur, karena saya bangga dengan jumlah kalian yang banyak”. (HR. Abu Daud: 2050)
Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah,
Barangkali, salah satu hikmah yang dapat kita petik dari pandemic Covid-19, di mana kita dianjurkan banyak beraktifitas di rumah, bahkan beribadah di rumah, adalah bagaimana kita kembali mengevaluasi dan melihat sejauhmana rumah tangga kita berjalan sesuai yang diharapkan oleh Rasulullah SAW. Sudahkah, Rumah tangga kita menjadi madrasah pertama anak-anak kita? Sudahkah Rumah tangga kita menjadi tempat yang menyejukkan bagi keluarga? Sudahkah Rumah tangga kita menjadi sumber keteladanan atas budi pekerti yang baik? Sudahkah Rumah tangga kita menjadi sumber sakinah mawaddah dan rahmah? Sudahkah Rumah tangga kita telah menjalankan perannya mengkader anak-anak kita menjadi muslim yang baik dan menjauhkan mereka dari karakter tidak baik sebagaimana hadis Nabi : Fa’abawaahu Yuhawwidaanihi, wa yunashshiraanihi wa yumajjisaanihi. Bahwa setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah atau suci, adapun ia akan menjadi Yahudi atau Nasrani tergantung orang tuanya dalam mendidik dan mempengaruhinya.
Apakah keluarga kita telah aman dan bersih dari gangguan syaitan yang telah berjanji akan menyesatkan anak cucu Adam?
Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah,
Marilah kita introspeksi diri masing-masing dan segera memulai merekonstruksi rumah tangga kita.
Pondasi Rumah Tangga Muslim adalah Keimanan kepada Allah SWT dan pelaksanaan apa yang menjadi konsekuensi dari keimanan itu. Laksanakan perintah dan kewajiban, jauhi larangan Allah dan RAsul-Nya kemudian tanamkan akhlakul karimah, nilai-nilai kejujuran, amanah, tanggungjawab. Sebab anak-nak-anak kita terutama di usia 1-8 tahun adalah peniru yang baik. Apa yang terbiasa dilihatnya, maka itu sangat dominan menjadi tuntunan prilakunya. Apa yang dilihat lebih berpengaruh dari apa yang didengarnya.
Selanjutnya, Senantiasa membangun komunikasi yang intens dan menyediakan waktu yang berkualitas bersama dengan anak-anak dan segenap anggota keluarga, terutama di saat berjamaah, makan bersama dan di waktu-waktu berkualitas lainnya. Bukankah keberkahan selalu menyertai jamaah.
Namun hal yang tidak boleh dilupakan adalah, bagaimana memproteksi rumah tangga kita dalam mengemban tugasnya dari pengaruh syaithan yang telah berjanji akan menyesatkan anak cucu Adam. Bahkan menjadi agendanya adalah memporak-porandakan keluarga muslim, memisahkan suami dan isteri, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: 102.
Bagaimana caranya? Berdasarkan petunjuk Rasulullah SAW, bahwa syaithan itu lari ketakutan karena mendengar adzan. ذَا هُودِيَ نِل ذ صلاَةِ أَدْبَرَ ام ذ ش يْطَانُ لََُ ضَُُاطٌ « : غنْ أَبِِ ىُرَيْرَةَ رضي الله غنو، أَ ذ ن امنذ ذِ بِ صلَ الله ػليو وسلّ كَالَ
ِ
ا
Maka sebaiknya ada waktu bagi keluarga untuk mendirikan Sahalat secara berjamaah di rumah yang dimulai dengan lantunan adzan.
Kedua: Memperbanyak shalat-shalat sunnat di rumah, selain sebagai media menjauhkan syaithan, juga untuk menerangi rumah kita “As-Shalaatu Nuurun” dan menjadi teladan yang baik bagi anak-anak. Rasulullah telah berpesan: غن ابن عَر رضي الله غنو أٔهو صلَ الله ػليو وسلّ كال: اجؼلوا من صلاتكم بيوتكم ولا تجؼلوىا كبورا . Dari sahabat Ibnu Umar ra. berkata sesungguhnya Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Jadikanlah Rumah-rumah Kalian Sebagai tempat Shalat, dan jangan jadikan seperti Kuburan,” (HR. Bukhari & Muslim)
Ketiga, Senantiasa membaca al-Qur’an terutama surah al Baqarah: Nabi SAW bersabda: ذ ن ام ذ ش يْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ امْبَيْتِ ا ذ لَِّ
ِ
لَا تَجْؼَلُوا بُيُوتَكُمْ مَلَابِرَ ا ي تُلْرَف أ فِيوِ سُورَةُ امْبَلَرَةِ
“Jangan jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya setan itu akan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah di dalamnya.”
Keempat, senantiasa melantunkan dzikir seusai mendirikan shalat. Dzikir-dzikir kita menjadi benteng yang menghalangi kita dari syaithan dan keburukan-keburukan. Senantiasa membaca kalimat Laailaaha illallaah, sebagai sebaik-baik dzikir akan membuat kita masuk dalam perlindungan Allah SWT. Dalam hadis Qudsi disebutkan:
كال رسول الله صلَ الله ػليو وأٓلَ وسلّ يلول: سمؼت جبَئيل يلول: سمؼت الله جل جلالَ يلول: لا إلَ إلا الله
حصني فمن دخل أٔمن من ػذابِ
Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah,
Sebagai kesimpulan Khutbah ini, mari kita memanfaatkan suasana pandemic Covid-19 ini untuk kembali mengevaluasi eksistensi kita di atas permukaan bumi ini. Mengevaluasi apakah kita telah melaksanakan dan menuaikan taggung jawab kita. Sebab, tiap-tiap kita akan ditanya. Dan sebagai orang tua akan dimintai pertanggung jawaban atas anak-anak kita. Mari kita mempersiapkan mereka sebagai generasi pelanjut yang menjadi kebanggaan Rasulullah SAW dengan mendidik mereka divdalam madrasah keluarga kita. Di mana mereka mendapatkan pengajaran dan kasih sayang, mereka belajar tentang kejujuran, kesetiaan, kesabaran dan nilai-nilai yang baik. Generasi yang baik, dengan mental yang baik tumbuh dari keluarga yang baik. Ibaratnya tanah yang baik lagi subur, akan menumbuhkan tanaman-tanaman yang baik. وَامْبَلََُ ام ذ طيِّبُ يََْرُجُ هَبَاتُوٗ بِِِذْنِ رَِبّوٖ وَا ذ لَِّيْ خَبُثَ لَا يََْرُجُ اِ ذ لا نَكِدً ا
Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhan, dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. (QS. Al-A’raf: 58)
Namun sebelumnya, mari kita persiapkan rumah tangga kita, keluarga kita sebagai tempat yang kondusif dan dijauhkan dari gangguan syaithan-syaithan yang selalu menjauhkan manusia dari jalan yang benar dan menjurumuskannya ke dalam kesesatan.
Semoga Allah menganugerahi kita keturunan dan generasi yang shaleh dan shalehah, generasi yang kuat “qurrata a’yun” bukan “dzurriyah dhi’aafaa” serta menganugerahakn rahmat dan petunjukNya kepada kita untuk dapat mencapai kedamaian, dan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

SebelumnyaKontribusi Umat Islam Memperkuat Pangan Nasional/Dr. H. Nurman Said, M.A./Al Markaz SesudahnyaH.M. Hamdar Arraiyyah/Sikap Empati dan Persatuan Umat/Al Markaz

Tausiyah Lainnya