Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

Prof. Dr. H. Muslimin Kara, MA/Relasi Iman dan Cinta Tanah Air/Al Markaz

Terbit 19 Desember 2020 | Oleh : admin | Kategori : ceramah jum'atIbadahKhutbah jum'atMakalah/Ceramah/Khutbah Jum'at
Prof. Dr. H. Muslimin Kara, MA/Relasi Iman dan Cinta Tanah Air/Al Markaz

Prof. M. Quraish Shihab mengungkapkan salah satu objek cinta yang diajarkan oleh Islam dalam kehidupan sosial kebangsaan kita, yaitu cinta Tanah Air.  Dalam pandangan beliau meski cinta Tanah Air adalah bagian dari iman, namun penisbahannya tidaklah sahih. Meski demikian, bukan berarti Islam tidak memerintahkan umatnya untuk mencintai Tanah Air. Karena Alquran meletakkan agama dan Tanah Air dalam posisi yang penting dalam kehidupan umat Islam. Seperti dalam firman Allah yang berbunyi:
لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik, memberi sebagian hartamu kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu dalam agama atau mengusir dari Tanah Air mu.” (QS. Al-Mumtahanah Ayat 8).
Para Hadirin, Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah SWT.
Al-Jurjani dalam kitabnya al-Ta’rifat mendefinisikan tanah air dengan al-wathan al-ashli. اَلْوَطَنُ الْأَصْلِيُّ هُوَ مَوْلِدُ الرَّجُلِ وَالْبَلَدُ الَّذِي هُوَ فِيهِ Artinya; al-wathan al-ashli yaitu tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya.
Konsep cinta Tanah Air dalam ilmu politik tidak terlepas dari perkembangan paham Nasionalisme. Nasionalisme berasal dari kata “nation” (Bahasa Inggris) yang berarti bangsa. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kata bangsa memiliki beberapa arti: (1) kesatuan orang yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya serta berpemerintahan sendiri; (2) golongan manusia, binatang atau tumbuh-tumbuhan yang mempunyai asal usul yang sama dan sifat khas yang sama atau bersamaan, dan (3) kumpulan manusia yang biasanya terikat karena kesatuan bahasa dan kebudayaan dalam arti umum, dan biasanya menempati wilayah tertentu di muka bumi (Lukman Ali. Dkk., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1994, hal. 98).
Istilah nasionalisme yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia memiliki dua pengertian: dalam arti yang luas berarti paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri dan kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabdikan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuatan bangsa. Nasionalisme dalam arti sempit dapat diartikan sebagai cinta tanah air.

Argumentasi Cinta Tanah Air berdasarkan al-Qur’an dan Hadis

Mencintai tanah air adalah hal yang sifatnya alami pada diri manusia. Karena sifatnya yang alamiah melekat pada diri manusia, maka hal tersebut tidak dilarang oleh agama Islam, sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran/nilai-nilai Islam. Meskipun cinta tanah air bersifat alamiah, bukan berarti Islam tidak mengaturnya. Islam sebagai agama yang sempurna bagi kehidupan manusia mengatur fitrah manusia dalam mencintai tanah airnya, agar menjadi manusia yang dapat berperan secara maksimal dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara, serta memiliki keseimbangan hidup di dunia dan akhirat.

Cinta Tanah Air dalam al-Qur’an dapat dilihat pada Surat al-Qashash ayat 85, Alah swt berfirman:
إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ
Artinya: “Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) al-Qur’an benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.”.
Para mufasir berbeda pendapat dalam menafsirkan kata “معاد”. Ada yang menafsirkan kata “معاد” dengan Makkah, ada yang menafsirkan dengan akhirat, kematian, dan bahkan hari kiamat. Namun menurut Imam Fakhr Al-Din Al-Razi dalam tafsirnya Mafatih al-Ghaib, mengatakan bahwa pendapat yang lebih mendekati yaitu pendapat yang menafsirkan kata “معاد” dengan Makkah.
Syekh Ismail Haqqi Al-Hanafi Al-Khalwathi (wafat 1127 H) dalam tafsirnya Ruhul Bayan mengatakan:
وفي تَفسيرِ الآيةِ إشَارَةٌ إلَى أنَّ حُبَّ الوَطَنِ مِنَ الإيمانِ، وكَانَ رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ كَثِيرًا اَلْوَطَنَ الوَطَنَ، فَحَقَّقَ اللهُ سبحانه سُؤْلَهُ ……. قَالَ عُمَرُ رضى الله عنه لَوْلاَ حُبُّ الوَطَنِ لَخَرُبَ بَلَدُ السُّوءِ فَبِحُبِّ الأَوْطَانِ عُمِّرَتْ البُلْدَانُ.
Artinya: “Di dalam tafsirnya ayat (QS. Al-Qashash:85) terdapat suatu petunjuk atau isyarat bahwa “cinta tanah air sebagian dari iman”. Rasulullah SAW (dalam perjalanan hijrahnya menuju Madinah) banyak sekali menyebut kata; “tanah air, tanah air”, kemudian Allah swt mewujudkan permohonannya (dengan kembali ke Makkah)….. Sahabat Umar RA berkata; “Jika bukan karena cinta tanah air, niscaya akan rusak negeri yang jelek (gersang), maka sebab cinta tanah air lah, dibangunlah negeri-negeri”.
Cinta Tanah Air dalam hadits Rasulullah SAW dapat dilihat pada hadis Nabi:
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ نَاقَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا ……. وَفِي الْحَدِيثِ دَلَالَةٌ عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّة حُبِّ الوَطَنِ والحَنِينِ إِلَيْهِ “Diriwayatkan dari sahabat Anas; bahwa Nabi Muhamad SAW saat kembali dari bepergian, dan melihat dinding-dinding Madinah lalu beliau mempercepat laju untanya. Apabila beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkanya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah. (HR. Bukhari, Ibnu Hibban, dan Tirmidzi).
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany dalam kitabnya Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari menegaskan bahwa dalam hadits tersebut terdapat dalil (petunjuk): pertama, dalil atas keutamaan kota Madinah, kedua, dalil disyariatkannya cinta tanah air dan rindu padanya. Badr Al-Din Al-Aini dalam kitabnya ‘Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari menyatakan bahwa :
وَفِيه: دَلَالَة عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّةِ حُبِّ الوَطَنِ وَاْلحِنَّةِ إِلَيْهِ
“Di dalamnya (hadits) terdapat dalil (petunjuk) atas keutamaan Madinah, dan (petunjuk) atas disyari’atkannya cinta tanah air dan rindu padanya.” (Badr Al-Din Al-Aini, Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, Beirut, Dar Ihya’i Al-Turats Al-Arabi, Juz 10, hal. 135)
Para Hadirin, Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah SWT
Bagi kita umat Islam Indonesia memupuk dan mewujudkan rasa cinta kita pada Tanah Air ini merupakan sebuah keharusan sebagai wujud terima kasih kepada Allah SWT atas nikmat dan karuniaNya melalui negeri tercinta ini. Kita harus menjaga kemerdekaan RI, menjaga Pancasila, menjaga Bhineka Tunggal Ika, menjaga NKRI, dan menjaga Undang-undang 1945 sebagai bagian dalam kehidupan kebangsaan dan ketakwaan kita. Pancasila dalam pandanganya Nurcholish Madjid, sebagai kalimatun sawa’ dalam kehidupan kebangsaan kita perlu dijaga dan diisi untuk menjaga keberlangsungan kebangsaan kita. Untuk itu umat Islam perlu mengembangkan persaudaraan: Pertama, al-ukhuwah islamiyah, persaudaraan sesama muslim; bahwa semua orang Islam adalah bersaudara, apapun bahasa, etnis, sukubangsa, warna kulitnya. Kita semua diikat oleh satu kalimat yang sama yaitu la ilaha illah, tidak ada tuhan selain Allah swt. Kedua, al-ukhuwah al-wataniyah, persaudaraan sesama bangsa. Kita semua bangsa Indonesia adalah bersaudara, kita semua diikat oleh persaudaraan kebangsaan kita, nasionalisme kita. Oleh karena itu, segala persoalan kebangsaan kita, diselesaikan dengan mengedepankan prinsip persaudaraan di antara kita. Ketiga, al-ukhuwah al-Bashariayah, persaudaraan sesama manusia.

SebelumnyaSikap Empati dan Persatuan Umat/H.M. Hamdar Arraiyyah/Al Markaz SesudahnyaHAKEKAT DAN LANGKAH KONGKRIT MEWUJUDKAN WASATHIYAH SEBAGAI MODERASI BERAGAMA/H.MASYKUR YUSUF., M.Ag/ Al MARKAZ

Tausiyah Lainnya