Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

Prof. Dr. H. Syarifuddin Ondeng, M.A./Menghormati yang tua menyayangi yang muda/AlMarkaz

Terbit 14 Oktober 2019 | Oleh : admin | Kategori : Makalah/Ceramah/Khutbah Jum'at
Prof. Dr. H. Syarifuddin Ondeng, M.A./Menghormati yang tua menyayangi yang muda/AlMarkaz

Seiring perkembangan zaman yang disertai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang demikian pesat, sistem komputerisasi dan jaringan komunikasi sangat mudah disentuh oleh semua lapisan masyarakat yang menyebabkan Informasi dapat tersebar meluas hanya dalam hitungan detik. Perkembangan kebudayaan ini juga menyebabkan pergeseran nilai sosial, apalagi dengan adanya sistem jaringan internet yang menawarkan banyak pilihan yang dapat merubah prilaku di tengah masyarakat khususnya generasi muda, seperti halnya kebutuhan hidup, jika dahulu kebutuhan pokok manusia adalah dengan makanan 4 sehat 5 sempurna sekarang kebutuhan pokok manusia bertambah dengan Telpon Selulser, Android, note book dan sejenisnya, dengan mudahnya akses tegnologi semua kebutuhan dapat dipesan dengan mudah melalui telpon seluler.

Hal ini dapat kita lihat pada anak-anak, tak jarang kita temukan Anak-anak sibuk dengan ponselnya dan Game Online sehingga cenderung sulit untuk diajak komunikasi, banyaknya orang tua yang sibuk dengan urusannya sendiri sehingga mereka tidak memperdulikan perkembangan mental anak-anaknya yang dapat menggangu disebabkan oleh telepon seluler. Para orang tua merasa tenang melihat anak-anak mereka sibuk dengan ponselnya. Padahal ada banyak hal yang tak seharusnya dikonsumsi oleh mereka karena dapat mengakibatkan anak mudah panik, peningkatan emosi yang tidak terkendali sehingga tak ada lagi batasan tingkah laku sebagaimana mestinya, dari segi ilmu pengetahuan meningkat secara tajam tapi tanpa pengetahuan agama, pengetahuan menjadi ambigu seperti dua mata pisau, satu sisi membahas kebenaran satu sisi menguak hal-hal yang menjadi senjata merusak pribadinya sehingga mudah terprofokasi, jika hal ini dibiarkan maka generasi muda akan kehilangan pengetahuan tentang akhlakqul karimah dan tidak mengetahui bagaimana cara bersikap kepada orang yang lebih tua dan bagaimana seharusnya bersikap pada yang lebih muda.

Sebagai warga masyarakat yang menyadari akan terjadinya perubahan sosial dalam berperilaku yang cenderung kehilangan kontrol dan dapat berakibat terjadinya penyimpangan sosial, maka dipandang perlu adanya pendekatan-pendekatan sosial yang lebih dekat kepada anak-anak kita

sebagai penerus yang kelak akan menjadi pengaruh masa depan bangsa dan pengambil kebijakan untuk beberapa tahun kedepan dan kita hanya menunggu waktu untuk pergantian tersebut.

Maka kajaian-kajian pada kelompok-kelompok pengajian seperti yang diadakan di al-Markas ini sangat diperlukan, bahkan jika perlu diadakan lebih intens lagi selain itu perlu adanya penyiaran lewat media sosial untuk menggali kembali dan menyiarkan bagaimana seharusnya anak-anak generasi muda harapan bangsa ini dapat berperilaku dengan baik utamnaya pengetahuan mengenai akhlak mulia dan bagaimana cara adab bergaul terhadap yang lebih tua dan adab bergaul kepada yang lebih muda serta bergaul dengan teman sebaya.

Manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang membutuhkan interaksi dengan manusia lainnya serta lingkungan sekitarnya dengan mengedepankan akhlaqul karimah atau budi pekerti yang baik dan di dalam pergaulan yang baik harus sesuai norma-norma kemasyarakatan yang tidak bertentangan dengan hukum syara’,serta memenuhi segala hal yang berhak atas masing-masing sesuai kadarnya. Sebagaimana opini oleh Zamaksyari, Abdul Majid.

Wahai anak-anakku, saudara (i) yang berada pada era milenial, serta bapak-bapak dan ibu-

ibu yang menghasilkan generasi milenial, sangat penting untuk kita bersama mengingat

kembali tentang pentingnya memilih teman bergaul, sebab dari teman bergaul seseorang

dapat diketahui bagaimana pribadinya.

Rasulullah saw bersabda:

“Seseorang bergantung pada agama temannya.Perhatikanlah siapa yang dijadikan teman”.

(H.R. Ahmad).

Maka jelaslah dalam menacari seorang teman haruslah berakhlakul karimah (berbudi pekerti yang baik), cerdas atau tidak dungu dan bukan termasuk golongan yang merusak (fasik), tidak emosi pemarah dan menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan kehidupan ukhrawi dengan melihat kecintaannya kepada amal ibadah sesuai syariat.

Dalam pergaulan dengan teman sebaya, selain kita harus selektif dalam memilih teman yang dapat membawa kita kearah yang lebih baik sikap saling menghormati juga harus selalu kita terapkan dalam pergaulan dan berusaha untuk menghindari sikap suka mencela sebab manusia itu di tempatkan oleh Allah sebagai makhluk yang paling mulia sebagaimana firman Allah swt.

Dalam QS Al-Israa/17:70.

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

Agama Islam itu adalah agama yang menunjukkan jalan keselamatan kepada pemeliknya, agama yang mencintai perdamaian karena menenangkan rasa kasi sayang dihati orang lain untuk orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan berbuat kebaikan.

Allah berfirman QS. Maryam/19:96.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.”

Sebagai pemuda-pemudi juga kepada orang tua yang memiliki anak-anak di zaman milenial ini adalah suatu hal yang patut kita impikan, menjadi pemuda atau pemudi yang memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi tapi diimbangi pengetahuan agama yang luas, yang memiliki karakter seorang muslim yang memiliki adab pergaulan sesuai dengan tuntunan Syariah, Berikut ini akan dikutip

Dalam kamus bahasa Indonesia, orang yang dipandang tua atau berpengalaman itu seperti kedua orang tua kita, para pemimpin, guru, dosen, para penasehat alim ulama namun dalam menghormati orang yang lebih tua tidak didasarkan atas:

  1. Karena mereka saleh
  2. Karena mereka pintar atau cerdas
  3. Karena mereka pemimpin guru dosen atau jabatan lainnya
  4. Karena harta yang mereka miliki dalam kurung kaya atau miskin
  5. Karena terpandang.

Penghormatan kepada orang yang lebih tua harus didasari karena Allah SWT yang memerintahkannya. Ada 4 adab kepada orang yang lebih tua sesuai yang telah dicontohkan Rasulullah dari beberapa riwayat yang diperintahkan di dalam al-Quran adalah sebagai berikut :

  1. Berlaku sopan dan santun

Islam sebagai Syariat yang Paripurna yang lengkap telah mengajarkan umatnya adab dan

tata krama kepada sesamanya untuk mencapai keharmonisan dan lingkungan yang baik di antara mereka. Orang beriman akan menunjukkan perhatian kepada orang yang lebih tua khususnya kepada orang tua yang telah melahirkan sebagaimana firman Allah swt. QS. Al-Isra/17:24.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.

Demikian juga kepada guru/dosen kita, carilah ridho gurumu dengan berperilaku sopan santun kepada-nya yang akan membuatnya merasa senang dan mendoakanmu sehingga ilmu yang diberikan menjadi ilmu yang berkah lagi penuh manfaat. Salah satu sikap sopan santun kepada orang yang lebih tua yaitu dengan melembutkan perkataan dan Jangan bersuara lebih keras dari suara mereka, memutus pembicaraan, berbohong dan mengejutkan mereka meremehkan dan usil kepada mereka.

Perintah Allah swt. dalam firmannya QS. al-Isra/17:23.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

  1. Menghormati dengan ikhlas.

Menghormati orang yang lebih tua dari kita, makin jauh selisih jarak umur kita maka

semakin hormatlah kepadanya. Allah menjamin surga bagi umatnya yang menghormati orang yang lebih tua. Terdapat sebuah hadits dari Anas bin Malik.

“Rasulullah saw : bersabda, wahai Anas hormati yang lebih tua dan sayangi yang lebih mudah maka kau akan menemaniku di surga” (H.R.Bukhari).

Maka berbuatlah baik kepada kedua orang tua secara ikhlas dan berikanlah yang terbaik kepada kedua orang tua sebab perlakuan yang terbaik saja belum seimbang dengan pengorbanan dan upaya yang telah diberikan kepada kita.

  1. Menolak perintahnya yang buruk secara halus

Jika dalam kehidupan orang tua kita atau orang yang lebih tua melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku (berperilaku buruk) dan dipandang sesuatu hal yang tak patut dicontoh sehingga yang lebih muda tidak memberikan apresiasi kepadanya. Maka hendaklah menjaga sikap sopan dan tetap berkata santun sehingga mereka tidak merasa dihina dan dilecehkan. Segeralah mendoakan mereka (orang tua) untuk diberikan hidayahNya. Bisa jadi terkait persoalan akidah atau kegiatan buruk lainnya, tetap dengan tenang, jangan kesal tolaklah dengan halus.

Sebagaimana firman Allah swt dalam QS. Luqman/31:15

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.

  1. Mendahulukan Orang yang Lebih Tua

Sikap mendahulukan orang yang lebih tua dalam urusan duniawi dalam kehidupan sosial

kemasyarakatan sangatlah dianjurkan oleh agama sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Dalam Hadis Rasulullah saw bersabda :

“Ibnu Umar berkata aku melihat Rasulullah saw, sedang memakai Siwak lalu ia memberikannya pada orang yang lebih tua dari suatu kaum, dan ia berkata, “ Sesungguhnya Malaikat Jibril memerintahkanku untuk mendahulukan yang lebih tua.” (HR. Ahmad ).

Adapun larangan dalam berinteraksi dengan orang yang lebih tua adalah :

  1. Melawan atau durhaka

Janganlah melawan dan membuat mereka murka terutama kepada orang tua kita. Allah swt akan melaknat dan mengharamkan surga bagi mereka yang durhaka pada orang tua.

Sebagaimana dalam hadist Nabi saw.

Keridhaan Allah tergantung pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung pada kemurkaan orang tua. (HR. Tirmidzi ).

  1. Arogan

Arogan berarti sombong, congkak, angkuh, mempunyai perasaan atau superioritas yang dimanifestasikan dalam sikap suka memaksa. Memang menjadi tantangan buat pemimpin muda terhadap akhlak kepada yang lebih tua darinya, semisal dalam suatu pertemuan sikap merasa super, dan merasa lebih cerdas membuat mereka kehilangan kontrol, apalagi merasa tampan atau cantik. Sikap arogan seperti itu akan menutup mata hati seseorang menerima hidayah dan tidak mengenali kebenaran.

Allah swt berfirman dalam QS. Al-Isra/17:53.

Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.

Menjadi tugas orang tua untuk memberikan pendidikan kepada anaknya untuk mendidik

dan mengarahkan menjadi anak yang sholeh/sholehah yang memiliki akhlaqul karimah.

Adapun adab terhadap orang yang lebih muda ada 4 yaitu:

  1. Berilah Nasehat Bil Ma’ruf atau dengan Cara yang Bijak

Pada masa muda merupakan posisi yang penting karena mereka merupakan generasi

pelanjut, sehingga masa pancaroba mereka jalani dapat terarah kearah yang lebih baik dan

berkualitas.  Pada  masa  ini  pemuda  mengalami  pertumbuhan  fisik  dan  mental  dan  banyak

mengalami pertentangan dan gejolak dalam pikiran dan jiwa mereka yang dapat menyebabkan

hidupnya tergantung untuk memberikan nasehat namun harus dengan pendekatan yang lebih bijak

atau apa yang disebut dengan istilah bil ma’ruf.

Pada masa remaja (muda) seringkali anak merasa tertekan padahal mereka pada dasarnya

ingin bebas. Disisi lain seringkali anak dan orangtua terkadang berbeda pandangan. Dipikiran

orangtua, anak akan diarahkan untuk berperilaku dewasa sementara anak masih ingin bergaul dengan teman sebaya yang menyenangkan sehingga mereka lebih sibuk menghabiskan waktu dengan gadge, twitter, IG, FB, Game Online, WA, atau sekedar berkumpul bersama teman tanpa arah dan tujuan. Kondisi seperti inilah sering membuat orangtua marah dan murka tanpa kendali. Sehingga anak yang labil ini merasa semakin murka dan menjauh, sehingga orangtuanya memarahi anak tanpa control dan jadilah anak itu susah dikendalikan.

Pada kondisi inilah peran orangtua menasehati anak dengan bijaksana, agar tidak terjadi kesalah pahaman antara yang lebih muda dan lebih tua. Sikap lemah lembut akan membawa suasana hati penuh pengertian terhadap sikap seorang anak remaja (pemuda) yang sulit di kontrol.

  1. Memberi Kasih Sayang Kepada yang Lebih Muda

Nabi kita SAW. Sangat menganjurkan untuk bersikap penyayang terhadap yang lebih muda, sebagaimana dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan at-Tirmizi:

“Tidaklah termasuk golongan kami, orang-orang yang tidak mengasihi orang yang kecil diantara kami dan hak orang besar diantara kami.”

Orang yang muda membutuhkan kasih sayang dan perhatian oleh orang yang lebih tua. Kasih sayang dan perhatian tersebut dapat diberikan melalui komunikasi yang lebih baik, diberi penghargaan terhadap prestasi yang diperolehnya dan didengar keluhan-keluhannya diperhatikan apa kebutuhannya. Peran orang yang lebih tua disini bertindak sebagai seorang sahabat orangtua, guru yang memberikan tindakan yang persuasif yang dapat diterima oleh pikiran mereka dikarenakan generasi sekarang ini adalah generasi millenial yang cerdas,kritis, dan memiliki wawasan yang luas.

  1. Memberi Teladan yang Baik Kepada yang Lebih Muda

Melakukan dan memberikan sikap dan tingkah laku yang baik kepada siapa saja terutama

kepada yang lebih muda adalah metode pendidikan yang paling baik, karena dapat langsung dilihat oleh mereka dan terekam dimemori otaknya untuk diingat dan ditiru ketimbang hanya dengan ucapan saja. Sebagaimna Nabi Muhammad saw yang memperlihatkan semua ucapan dan tingkah lakunya sebagai contoh teladan dalam beramal shaleh sehingga diberi gelar “Al-Amien (terpercaya)” oleh masyarakatnya

Firman Allah swt dalam QS. al-Qalam/68:4.

Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Cara mendidik yang baik dan contoh teladan dari orangtua akan berdampak sangat baik terhadap perkembangan anak yang masih belia dilingkungan keluarga yang senantiasa menjaga keluarganya agar senantiasa dalam keadaan sakinah, mawaddah, warahmah. 4.  Membina dan Memberikan Perhargaan Atas Capaian Prestasinya

Generasi muda merupakan tonggak penopang umat yang akan lahir para ulama, cendekiawan dan tokoh-tokoh mudah yang melakukan pergerakan dan memiliki peran sangat besar dalam membangun masyarakat. Jika mereka sekarang ini baik insya Allah masyarakat dan lingkungannya juga akan baik.

Upaya pembinaan melalui kajian-kajian dan diskusi-diskusi bersama generasi muda harus dibarengi dengan pendekatan yang sesuai tingkat perkembangan, usianya, agar kita dapat memahami pola pikirnya.

Rasulullah bersabda dari Anas bin Malik:

“Mudahkanlah dan janganlah mempersulit dan berilah kabar gembira dan jangan menakut-nakuti. Rasulllah saw suka memberikan keringanan dan merahasiakan amal shaleh kepada manusia.” (H.R. Bukhari).

Sikap muslim diharapkan dapat berusaha bekerja dengan baik dan sesungguhnya dari setiap kebaikan kan ada balasan yang setimpal.

Adapun hal-hal yang dilarangan dilakukan terhadap yang lebih muda yaitu :

  1. Jangan meminta perhargaan yang berlebihan

Rasulullah saw dalam sebuah hadits dari Ustman bin affan R.A bersabda:

“Janganlah kalian menunjukkan sebagaimana orang-orang Nasrari memuji” Isa bin Maryam “Sesungguhnya aku adalah seorang hamba, maka katakanlah hamba Allah dan Rasul-Nya.” (H.R. Bukhari, Muslim, dan Tilmidzi)

  1. Sikap Anti Pati

Anti pati  adalah sikap tidak percaya kepada seseorang atau kepada suatu kelompok

masyarakat. Sesungguhnya anti pati merupakan perwujudan dari sifat individualism yang merugikan. Sikap mementingkan diri sendiri dan tidak memiliki kepekaaan terhadap apa yang dirasakan orang lain (generasi muda).

Jadi, sebagai orang yang lebih tua jangan meminta untuk dihargai secara berlebihan melebihi kedudukannya, sebab kita semua hanyalah hamba Allah swt.

Kesimpulannya:

Berdasarkan apa yang telah diuraikan mengenai pentingnya penanaman nilai-nilai kehidupan yang dekat dengan keagamaan untuk membendung zaman teknologi yang bisa mengantarkan generasi muda terjerumus pada keburukan maka peran orang yang ada disekitarnya sangat dibutuhkan utamana peran orang tua, guru, teman-temannya dan orang-orang yang ada disekitarnya.

Diantara solusi yang dapat dijadikan pilihan dalam mengantisipasi berbagai macam pengaruh negatif dalam kehidupan anak remaja (pemuda) adalah dengan mengadakan kajian-kajian dilingkungannya baik di sekolah atau lingkungan tempat dia tinggal yaitu kajian yang erat kaitannya dengan keagamaan perupa penanaman sikap atau akhlak yang baik terhadap sesama manusia dan makhluk ciptaan Tuhan yang lain, menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda dengan tidak membeda-bedakan satu dengan yang lainnya. Dengan membiasakan dan mengutamakan akhlakul karimah dalam pergaulan maka tidak mustahil akan tercipta generasi milenial yang diimpikan.

SebelumnyaDr.H.A.Darussalam Tadjang, MA/Lembut bertutur kata dalam berkomunikasi/Al Markaz SesudahnyaDr.H.M.Ishaq Shamad, M.A./Menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW 1441 H/Al Markaz

Tausiyah Lainnya