Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

RASULULLAH SAW, TELADAN UMAT MANUSIA SEPANJANG MASA/Dr.H.M.ISHAQ SHAMAD, M.A/ALMARKAZ

Terbit 21 November 2019 | Oleh : admin | Kategori : CERAMAHCeramah DhuhurMakalah CeramahMakalah/Ceramah/Ceramah Dhuhur
RASULULLAH SAW, TELADAN UMAT MANUSIA SEPANJANG MASA/Dr.H.M.ISHAQ SHAMAD, M.A/ALMARKAZ

Alhamdulillah, kajian ba’da dhuhur (21/11) di Masjid Al-Markaz al-Islami ini bertemakan “Rasulullah Saw, Teladan Umat Manusia Sepanjang Masa”. Mengapa tema ini dianggap penting, karena saat ini, sebagian besar umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw 1441 H. Selain itu, sebagai ungkapan rasa rindu dan menambah kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw. Shalawat dan taslim, atas junjungan Nabi Besar Muhammad Saw atas risalah dan dakwahnya yang telah menyelamatkan manusia dari perdaban jahiliah menjadi peradaban manusia yang saling menghargai dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.

Rasulullah SAW adalah manusia paripurna yang diutus dengan kesempurnaan akhlak. Ia menjadi telandan segenap manusia sepanjang masa. Allah SWT dalam Alquran surah Al-Qalam [68] ayat 4 berfirman, Wainnaka La’laa Khuluqin ‘adziym’.’Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” Muhammad SAW adalah sosok yang berakhlak mulia. Sejak usia belia, penduduk Kota Makkah telah menggelarinya al-Amin (orang yang tepercaya). Bahkan, beliau diutus Sang Khalik sebagai nabi dan rasul terakhir untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Rasulullah SAW bukan hanya seorang nabi dan rasul yang telah membangkitkan salah satu peradaban yang besar, beliau juga seorang hakim teradil, negarawan terkemuka, pemimpin terbesar, saudagar terjujur, perintis pejuang kemanusian, pemimpin militer yang agung, pribadi berakhlak mulia, serta seorang ayah teladan. Menurut Ensiklopedi Islam, pada usianya yang masih muda, 20 tahun, Muhammad SAW telah mendirikan Hilful Fudul, sebuah lembaga yang bertujuan untuk membantu orang-orang miskin dan mereka yang teraniaya. Lewat lembaga itu, Muhammad SAW melindungi setiap orang yang membutuhkan, baik pribumi maupun pendatang.

Dengan keindahan lahir, kesempurnaan fisik, dan keagungan akhlaknya, musuh-musuhnya tak menemukan sesuatu yang bisa dicela. Muhammad SAW adalah teladan bagi setiap manusia di muka bumi. Tak heran jika Michael H Hart, menetapkan Muhammad SAW sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia.

Muhammad adalah satu-satunya orang yang berhasil meraih keberhasilan luar biasa baik dalam hal agama maupun hal duniawi. Dia memimpin bangsa yang awalnya terbelakang dan terpecah belah menjadi bangsa maju yang bahkan sanggup mengalahkan pasukan Romawi di medan pertempuran, ujar Hart. Menurut John L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern, kaum Muslim menempatkan Nabi Muhammad SAW di seputar citra religius kunci. ”Bagi para ilmuwan hukum Islam, sang Nabi adalah hakim sekaligus legislator yang mendefinisikan batasan dan kebolehan pelaksanaan ritual, papar Guru Besar untuk bidang Agama dan Hubungan Internasional, serta Guru Besar untuk bidang Studi Islam pada Universitas Georgetown, AS itu.

Bagi mistiskus, tutur Esposito, Muhammad SAW adalah pencari ideal perjalanan menuju kesempurnaan spiritual. Bagi filosof dan negarawan, Nabi SAW adalah model, peran penakluk yang tegas dan penguasa yang adil, sedangkan bagi semua umat Islam, Rasulullah SAW adalah suri teladan, sumber yang melaluinya rahmat dan penyelamatan Allah SWT mengalir.

Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul sekaligus menjadi uswah hasanah (suri teladan yang baik) bagi umatnya. Allah SWT berfirman: “Laqod kaana lakum fii rosuulillaahi uswatun hasanatun” yang artinya “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS Al-Ahzab : 21). Untuk bisa mencintai dan meneladani kehidupan Nabi Muhammad secara benar, tentunya kita harus mempelajari serta mengkaji sepak terjang beliau semasa hidupnya. Seperti kata pepatah: “Tak Kenal Maka Tak Sayang.”

Salah satu misi kenabian Muhammad SAW adalah memperbaiki akhlak (umatnya). Beliau diturunkan menjadi nabi dan rasul di suatu tempat yang masyarakatnya mengalami degradasi akhlak (moral, susila) yang luar biasa. Masyarakat itu adalah kaum Quraisy di Makkah. Mabuk-mabukan, berjudi, dan mengundi nasib adalah sebagian kerusakan akhlak tersebut. Karena kondisi moral yang demikian rusak, maka mereka disebut sebagai masyarakat jahiliah. Mereka jahil (bodoh) dan jauh dari nilai-nilai ketauhidan. Orang-orang Arab pada zaman jahiliahnya, mereka adalah umat yang berselisih, terlantar, musyrik, penganut paganisme, saling berperang, dan membunuh. Mereka bodoh, hidup seperti binatang. Beginilah kondisi umat kala itu, mereka tidak punya sejarah, prinsip, dan akhlak. Mereka seperti binatang, saling berperang hanya gara-gara urusan seekor kambing, saling memutuskan silaturahim, sujud kepada berhala dan patung.

Ketika Rasulullah SAW diutus, beliau membebaskan mereka dan menjadikan mereka menjadi hamba Allah. Pernah, Rabi’ bin Amir berkata kepada Rustum, panglima Persia, “Sesungguhnya Allah mengutus kami untuk mengeluarkan hamba dari penghambaan kepada hamba menuju penghambaan kepada Tuhannya hamba, dari sempitnya dunia menuju luasnya akhirat, dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam”. (Rawa’i Sirah, Dr. ‘Aidh Al-Qarni, Al-I’tishom, 2014). Untuk memperbaiki kebobrokan akhlak itulah Muhammad SAW diutus ke tanah Arab. Beliau bersabda, “innamaa bu’itstu li-utammima makaarimal akhlaaq.” Artinya, sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak. Allah pun memuji keluhuran akhlak beliau sebagaimana tergambar dalam QS Al-Qalam ayat 4 yang artinya, “Sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.”

Banyak kisah bertaburan tentang keluhuran akhlak Nabi Muhammad SAW dari Anas bin Malik RA beliau berkata, “Seorang Arab Badui pernah memasuki masjid, lalu dia kencing di salah satu sisi masjid. Lalu para sahabat ketika itu meneriakinya dan berkeinginan untuk mencegahnya, namun Rasulullah SAW dengan penuh bijaksana bersabda, “Jangan kalian putuskan kencingnya!” Maka tatkala orang tersebut selesai dari kencingnya, Nabi menyuruh agar tempat yang terkena air kencing itu disiram dengan satu ember air, lalu memanggil orang Badui tadi dan bersabda kepadanya, “Sesungguhnya masjid ini tidak layak untuk membuang kotoran di dalamnya, namun ia dipersiapkan untuk shalat dan membaca Al Qur’an dan dzikrullah.” (HR. Bukhari Muslim). Dalam riwayat Imam bin Hambal, orang Badui itu berkata : “Ya Allah, sayangilah saya dan Muhammad dan janganlah engkau sayangi seorang pun.”

Rasulullah SAW dihadapkan pada kepedihan, ketabahan, kesabaran, dan ujian agar menjadi teladan bagi manusia. Rasulullah SAW pernah patah gigi depannya, kepalanya terluka, terjatuh dari kudanya, kehormatan, dan keluhurannya terlukai dan dihina, para sahabatnya dibunuh, dan menderita di perang Uhud. Namun, semua itu merupakan jalan untuk meninggikan kedudukan yang dipilih Allah untuknya. (Rawa’i Sirah, ‘Aidh Al-Qarni) Itulah dimensi manusiawi Rasulullah Saw. Maka, amat sangat pantaslah Muhammad Rasulullah SAW kita dijadikan sebagai idola dan teladan dalam segala aspek kehidupan (QS Al-Ahzab ayat 21). Beliau tidak hanya berperan sebagai tokoh spiritual, tetapi juga sebagai guru atau konselor, panglima perang, kepala negara, arsitek peradaban, suami, dan ayah teladan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika seorang Michael H. Hart, pengarang The 100: A Ranking of The Most Influential Persons in History, menempatkan Nabi Muhammad di peringkat pertama manusia yang paling berpengaruh dalam sejarah. Di bawah beliau bertengger Isaac Newton (peringkat dua), Yesus (peringkat tiga), Siddharta Gautama (peringkat empat), Kong Hu Cu (peringkat lima), dan masih banyak tokoh dunia lainnya.

Salah satu cara meneladani Rasulullah Saw, adalah dengan mencintainya melebihi cinta kita kepada kedua orang tua, anak, dan semua manusia. Rasulullah bersabda : “Tidak sempurna keimanan seseorang di antara kalian hingga ia lebih mencintai aku daripada kedua orang tuanya, anaknya, dan manusia semuanya.” (HR. Bukhari). Semoga kita bisa menjadi pengikut Nabi Muhammad Saw yang mencintai, setia, serta mengamalkan ajaran dan sunahnya. Aamiin Yaa Rabal Aalamyn.

Wallahu Muwafiq Ilaa Aqwaamittaritq.
Disarikan dari berbagai sumber.

SebelumnyaKembali ke Dua pusaka abadi sebagai Tonggak Penting Melawan Hawa Nafsu Dunia Setan/Prof. Dr. H. Muhammad Galib Mattola, M.A/Al Markaz SesudahnyaTA’AWUN DAN CINTA BERBAGI/Zulfahmi Alwi, Ph.D./Al Markaz

Tausiyah Lainnya