Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

Sembilan Tak Terpisah/Aswar Hasan/Al Markaz

Terbit 22 Desember 2019 | Oleh : admin | Kategori : KolomPenulis
Sembilan Tak Terpisah/Aswar Hasan/Al Markaz

 

Judul kolom ini, terambil dari sebuah petuah Bugis yang merupakan lokal wisdom yang boleh jadi telah banyak dilupakan. Padahal, maksud dan tujuannya sangat relevan untuk diamalkan oleh para pemimpin, politisi atau pun para tokoh yang ditokohkan di tengah masyarakat masa kini. Kesembilan point yang tak terpisahkan itu, merupakan azimat sukses nenek moyang orang bugis.
Kesembilan yang tak terpisahkan itu ( Asera Temmallaiseng), adalah sebagai berikut: 1. Katakan yang Satu (Puwadai Seddie) yaitu; katakanlah sewajarnya yang bisa menyenangkan orang lain, tanpa menambah atau menguranginya. Intinya, kita diminta untuk jujur dalam menilai seseorang, apakah ia musuh atau kawan sekali pun, alias katakan apa adanya.
2. Lakukan yang Dua (Pugaui Duwae) yaitu; pertama, lakukan yang bisa memperbaiki orang lain. Kedua, lakukan setiap hal dengan akhlak yang baik dengan tidak tersanggahkan.
3.Hindari yang dua ( Aniniriwi Duwae), yaitu; pertama, jangan langsung mencela kesukaan orang lain, misalnya istri yang dicintainya, atau kendaraan kesayangannya, karena standar kesukaan setiap orang berbeda- beda.
Kedua, jangan sibuk menghitung harta milik orang lain, karena itu bisa memicu rasa cemburu yang tak berdasar, dan kedengkian yang menjerumuskan.
4. Ingat yang Dua ( Enggerrangi Duwae), yaitu; pertama, ingatlah selalu kebaikan orang pada dirimu, sekecil apa pun itu. Jangan sampai kita menjadi manusia yang disinggung pepata Kuna; “Laksana kacang yang lupa pada kulitnya,atau bahkan laksana air susu yang dibalas dengan air tuba. Betapa tidak, salah satu yang harus kita hindari dalam hidup, adalah disumpahi oleh orang lain karena dianggap tidak tahu berterima kasih.
Kedua, ingatlah selalu kesalahanmu pada orang lain. Manusia adalah makhluk yang tak luput dari kesalahan. Jangan selalu merasa benar, dan merasa tak pernah melakukan kesalahan. Kesalahan kita haruslah diperbaiki agar tidak terulang. Olehnya itu, kesalahan harus diingat.
5.Lupakan yang Dua (Allupai Duwae), Pertama. Jangan mengingat-ingat kebaikanmu pada orang lain, terlebih menghitungnya dan menanti balasannya, karena itu akan membuatmu kecewa, dan mengendorkan semangatmu untuk berbuat baik pada orang.
Kedua, lupakan kesalahan orang lain pada diri kita. Sebab jika tidak, akan menjadi bara dan api dendam yang akan membakar diri kita sendiri. Karena itu, jadilah pemaaf niscaya engkau akan jadi orang yang bahagia dan membahagiakan.
Demikianlah 9 (sembilan) inti philosofi hidup yang bijak Bestari bagi orang Bugis, sehingga bisa diterima dimana saja, termasuk di negeri rantau. Wallahu A’lam Bishawwabe.

SebelumnyaProf. Dr. H.M. Hamdar Arraiyyah, M.Ag./Pemaaf/Khutbah Jum'at Sesudahnya3 Hakekat Hidup/Aswar Hasan/Al Markaz

Tausiyah Lainnya