Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang Di Website Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf
  • 3 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M Jusuf Makassar
senin - minggu :

STRATEGI MENGHADAPI PANDEMI COVID 19 : PENDEKATAN SYARIAH ISLAM/ PROF. DR. H. MOH. ARFIN HAMID, SH,MH/AL MARKAZ

Terbit 9 Oktober 2020 | Oleh : admin | Kategori : ceramah jum'atKhutbah jum'atMakalah/Ceramah/Khutbah Jum'at
STRATEGI MENGHADAPI PANDEMI COVID 19 : PENDEKATAN SYARIAH ISLAM/ PROF. DR. H. MOH. ARFIN HAMID, SH,MH/AL MARKAZ

Masyarakat Indonesia yang beragam latar belakangnya itu telah memasuki masa-masa krisis pandemic sejak bulan maret 2020 dan sampai sekarang ini seluruh komponen bangsa masih terus berjihad melawan bahaya tha’un (pandemic) tersebut. Sudah tidak terhitung jenis upaya, model pendekatan, perilaku, ramuan, dan pola hidup telah ditumpahkan semuanya agar bahaya virus itu tidak menjalar dan menulari pada kita semua. Tidak kalah dari itu semua kita muslim dan muslimat terus menpasrahkan diri kepada seraya terus berdoa, berzikir, bertahajjud, dan bahkan terus melakukan qunut nazilah. Kesemua itu agar kita terhindar dari ancaman bahaya virus corona yang mematikan itu.
Sampai jumat ini rupanya pergerakan virus corona itu belum juga memberikan isyarat yang kuat akan hengkang dari kehidupan kita semua, masih terus menjadi momok yang mengkhawatirkan, silih berganti kota dan provinsi di tanah air menemukan sosok yang reaktif atau yang sudah terkonfirmasi positif melalui informasi dan pemberitaan. Sehingga mau percaya atau tidak, keberadaan virus itu belum menjauh dari kehidupan bangsa Indonesia.
Meskipun demikian, bagi orang yang beriman dan bertaqwa sudah sejak awal menyadari sesuai ayat Alquran, wa ma ashabaka min mushibatin famin nafsik (tiadalah musibih itu diturunkan melainkan itu karena penyebabnya dari diri kalian sendiri).
Dalam konteks kehidupan umat yang secara fisik tampak berlangsung damai, tertib, toleran dan bahkan madani, terus dikatakan sudah bebas atau terbebaskan dari mushibah (bahaya), sungguh tidak demikian adanya. Justeru musibah/bahaya itu Tuhan telah menyediakannya selalu dan agar menjadi motivasi penyadaran bagi manusia khususnya muslim untuk selalu taat kepada Allah Swt. Sebagaimana ditegaskan dalam ayat, ahasiban nas an yutraku an yaqulu amanna wa hum la yuftanun (apakah manusia mengira jika sudah menyatakan mereka beriman lalu kemudian Allah tidak lagi mengujinya, Allah akan tetap senantiasa mengujinya). Dengan demikian umat yang saleh, taat, dan bertaqwa sekalipun tidaklah berarti Allah tidak akan mengujinya, melainkan cobaan/ujian Allah senantiasa akan disediakan setiap saat selama hayat di kandung badan.
Cobaan dan ujian Allah sangat variative dan potensinya selalu terbuka seiring dengan pola perilaku dan gaya hidup manusia, termasuk gaya orang bertagwa di dalamnya.
Sebagai contoh ujian Allah berupa pandemic covid 19 yang akan menjangkiti siapa saya yang lalai dan bahkan yang ahli atau yang sangat preventif sekalipun juga ikut terkena virus tersebut. Oleh karena itu perlu dipahami bahwa Allah akan senantiasa memberikan rahmat dan petunjuk kepada hambanya yang ia kehendaki, wallahu yahdi man yasya’ ila shiratin musthaqiem. Untuk itu marilah berjuang, menjaga diri, berdoa agar terhindarkan dari bahaya pandemic tersebut.

Langkah Strategik menghadapi Pandemic Covid 19
Masyarakat Indonesia sudah saatnya memahami dan dipahamkan semuanya bahwa kondisi tanah air kita dalam keadaan tidak normal, tidak savety, tidak kondusif sebagai akibat langsung dari pandemic corona virus 19, yang terlebih dahulu menyerang dan merambah dunia lain sebelum sampai ke Indonesia, dan itu berlangsung sejak sebelum maret 2020 sampai sekarang ini masih membahayakan dan mengancam kita semua. Dalam kondisi ini pemerintah menetapkan dari sabang sampai meroke dalam keadaan darurat, yaitu darurat pandemic atau tha’un sehingga wajib dilakukan pembatasan-pembatasan (PSBB), dari yang biasanya dilakukan pada saat kondisi normal. Dengan demikian seluruh warga negara harus menerima dan menghargai keputusan negara itu dalam konteks wilayatul hukmi. Adapun kondisi dan varian penyebaran covid 19 dalam wilayah Indonesia sangat variative sesuai zona juga harus menjadi perhatian umat Islam dan berusaha meghindarkan umat dari bahaya tersebut.
Penetapan pemerintah bahwa RI ini adalah darurat covid 19 melalui PSBB dan sudah ditetapkan menjadi UU telah mengokohkan Indonesia sebagai wilayatud dharuriyah, kemudian diikuti dengan penetapan beberapa Fatwa MUI agar umat Islam mengikuti penetapan pemerintah untuk mencegah menularnya virus corona itu dalam bentuk perilaku dan tindakan nyata. MUI mendasarkan fatwanya dengan mengimplementasikan hukum dharurah sebagaimana diperintahkan dalam Alquran dan Assunnah, serta beberapa kaidah fikih mu’tabarah.Karena Illat hukum dharurat tersebut sikap umat juga harus menyesuaikan dengan kondisi dharurat itu, dan tidak lagi berfikir atau bertindak seperti dalam keadaan normal. Sebagaimana ayat, wa ma ja’ala alaikum fid dini min haraj, famanid turra ghaira baghin wa la aadin fala istma aliah. Juga beberapa kaidah fikih yang sangat relevan, al-dhadaru yuzhalu, dar’ul mafasid muqaddamun ala jalbil mashalih, al-masyaqqatu tajlibut taysir, … dst.
Dalam situasi Pandemic diperlukan sikap dan tindakan cerdas yang solutif dengan memperhatikan berbagai cara, media, dan saluruan untuk menghadapi bersama bahaya dan ancaman yang mendunia itu. Karena begitu maraknya media informasi dan IT sehingga umat dihadapkan pada kondisi untuk memilih dan menentukan sikap mana paling tepat untuk dijadikan pedoman dan rujukan dalam menentukan langkah. Untuk itulah kita kembalikan pada Hadis Rasulullah, izha wusshilatil amru fa laisa liahlihi fantazdiris saah (manakala suatu urusan yang ditangani yang bukan ahlinya, tunggulah kegagalannya), nah terkait dengan strategi menghadapi virus corona ini mari kita kembalikan kepada ahlinya, tidak ada keharusan kita untuk menjadi ahli virus semuanya, atau tiba-tiba jadi ahli corona. Akan tetapi mari kita sandarkan pemahaman kita dengan merujuk kepada ahlinya dan kita konsisten mengikuti dan menerapkannya. Informasi terkait bentuk, sifat, dan karakteristik dan perilakunya kita dengarkan ahlinya yaitu dokter ahli virus bukan dari dakter gigi atau dokter hewan, bahkan bukan dari ust atau muballig sekalipun. Karena banyak info dan dakwah terkait penanggulangan virus ini sehingga umat berat memilih kalaupun tidak larut dalam kebungungan, maka rujuklah ahlinya yaitu dokter virologi atau ahli virus yang mumpuni dan professional. Tentu tidak menutup kemungkinan boleh kita melakukan pencegahan dengan pendekatan agama, zikir dan doa.
Karena banyaknya pilihan dalam menghadapi virus corona itu sehingga di media sosial dan IT memunculkan banyak fatwa, himbauan, taushiyah dan sebagainya. Maka, dalam kondisi dharurat seperti sekarang ini perlu strategi dengan menfokuskan sumber informasi yang kavabel, valid dan legitimate. Untuk itu diharapkan dan disarankan agar menjadikan MUI bersama Pemerintah (Satgas Covid 19) sebagai rujukan dengan mengikuti fatwa-fatwa yang dikeluarkannya, selain proses penetapkan fatwa mui yang memang ahlinya (ulama), juga dalam prosesnya dilakukan dengan melibatkan semua ahli yang terkait seperti ahli virus, obat, sanitasi, lingkunga, sosial, perilaku sehingga kualitas fatwanya tidak diragukan lagi, itulah ijtihad jama’i yang relevan digunakan dalam kondisi multidimensional saat ini. Hal ini penting dipahami daripada mengikuti pendapat/ijtihad perorangan (fardhi) yang juga belum tentu ahli dalam permasalahan itu, maka jauh lebih maslahah manakala mengikuti fatwa majelis ulama tersebut terutama terkait pelaksanaan ibadah, shalat jamaah, shalat jumat, berkumpul, pemberdayaan masjid dan institusi Islam lainnya. Selama masih dalam keadaan pandemic/tha’un dan belum dinyatakan normal atau new normal penuh.
Demkianlah khutbah yang singkat ini agar menjadi tazkirah dan nasihat bagi kita sekalian.

SebelumnyaPANCASILA SEBAGAI KALIMATUN SAWA BAGI PEMBANGUNAN BANGSA/MARDAN/AL MARKAZ SesudahnyaKontribusi Umat Islam Memperkuat Pangan Nasional/Dr. H. Nurman Said, M.A./Al Markaz

Tausiyah Lainnya